Aktivitas Gunung Sinabung Meningkat, Muncul Gempa Vulkanik Dalam
Aktivitas Gunung Sinabung Meningkat, Gempa Vulkanik Dalam

Pos Pemantau Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, mencatat peningkatan aktivitas kegempaan pada akhir pekan lalu. Berdasarkan data 1 Agustus 2026, kegempaan gunung api setinggi 2.451 meter di atas permukaan laut itu didominasi gempa tektonik dan gempa vulkanik, meski jumlahnya tidak signifikan.

Kepala Pos Pemantau Gunung Sinabung, Armen Putra, mengatakan peningkatan yang perlu diwaspadai adalah munculnya gempa vulkanik dalam. "Selain itu, terekam juga gempa hembusan, gempa low frequency dan gempa hybrid yang sebelumnya jarang terekam," ujarnya di Medan, Senin (3/8).

Jenis Gempa dan Indikasi Aktivitas Magma

Menurut Armen, rangkaian gempa itu mengindikasikan adanya pergerakan fluida atau tekanan di dalam sistem magmatik gunung. Gempa vulkanik dalam berkaitan dengan aktivitas magma di kedalaman, sedangkan gempa low frequency dan hybrid umumnya terkait dengan getaran yang dihasilkan oleh pergerakan magma atau fluida di saluran vulkanik. Gempa hembusan mencerminkan keluarnya gas dari kawah secara periodik.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Data visual dari Pos Pemantau menunjukkan embusan asap kawah teramati berwarna putih tipis hingga sedang dengan ketinggian bervariasi antara 50 hingga 600 meter di atas kubah lava. Kondisi ini masih dalam kategori normal untuk gunung berstatus waspada, namun kombinasi dengan peningkatan kegempaan membuat status kewaspadaan perlu dipertahankan.

Ancaman Erupsi Freatik dan Magmatik

Armen menegaskan bahwa peningkatan aktivitas kegempaan ini harus diwaspadai karena Gunung Sinabung memiliki potensi bahaya berupa erupsi freatik maupun erupsi magmatik. Erupsi freatik adalah letusan yang terjadi akibat kontak air dengan panas magma, biasanya tidak didahului oleh pergerakan magma signifikan. Sementara erupsi magmatik melibatkan keluarnya magma dari dalam perut bumi.

"Peningkatan aktivitas kegempaan ini perlu diwaspadai, mengingat potensi bahaya Gunung Sinabung yang dapat terjadi berupa erupsi freatik maupun erupsi magmatik," jelasnya. Selain itu, Armen menambahkan potensi pembongkaran kubah lava juga dapat terjadi jika tekanan di dalam sistem magmatik mengalami peningkatan signifikan.

Status Waspada Level II dan Rekomendasi PVMBG

Saat ini tingkat aktivitas Gunung Sinabung masih berada pada Level II atau Waspada, status yang telah ditetapkan sejak 17 Mei 2023. Status ini berarti tidak ada letusan besar dalam waktu dekat, tetapi aktivitas vulkanik dapat meningkat sewaktu-waktu.

Sejak Maret 2024, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat, wisatawan, dan pendaki tidak melakukan aktivitas di dalam radius 2 kilometer dari puncak Gunung Sinabung. Untuk sektor selatan-timur, radius diperluas menjadi 3,5 kilometer. Rekomendasi ini berlaku untuk menghindari dampak lontaran batu pijar dan sebaran abu vulkanik.

Waspada Lahar di Musim Hujan

Selain ancaman langsung, PVMBG juga mengingatkan potensi bahaya sekunder berupa aliran lahar. Lahar merupakan campuran air dan material vulkanik yang dapat mengalir melalui sungai, terutama saat hujan turun di sekitar puncak. Masyarakat di sekitar sungai yang berhulu di Gunung Sinabung diminta meningkatkan kewaspadaan, khususnya pada sektor barat daya.

Data dari Pos Pemantau juga mencatat bahwa kegempaan tektonik tetap mendominasi, yang menandakan aktivitas tektonik regional masih berpengaruh. Namun, kombinasi berbagai jenis gempa vulkanik yang muncul belakangan menjadi sinyal bahwa kondisi internal gunung sedang berubah.

Aktivitas Gunung Sinabung telah menjadi perhatian sejak beberapa tahun terakhir. Gunung yang terletak di Kabupaten Karo ini pernah mengalami erupsi besar pada masa lalu. Status Waspada Level II menuntut kewaspadaan tanpa menyebabkan kepanikan, sesuai rekomendasi resmi PVMBG.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga