Festival Penajoh akan berlangsung di Idi, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, pada 3-9 Agustus 2026. Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Aceh Timur, Lismawani Iskandar Al-Farlaky, saat dihubungi Kompas.com pada Minggu (2/8/2026) melalui sambungan telepon, menjelaskan bahwa penajoh dalam bahasa Indonesia berarti makanan. Festival ini dirancang sebagai perhelatan kuliner yang menonjolkan seluruh hidangan berbahan baku lokal.
Penajoh: Kekayaan Kuliner Lokal yang Diangkat
Menurut Lismawani, istilah penajoh merupakan sebutan umum untuk makanan dalam bahasa setempat. Dalam konteks festival ini, penajoh menjadi simbol kekayaan gastronomi Aceh Timur yang selama ini hidup di tengah masyarakat. Seluruh rangkaian kegiatan akan berpusat di Idi, ibu kota Kabupaten Aceh Timur, yang dikenal memiliki beragam tradisi kuliner khas.
Kehadiran Festival Penajoh diharapkan tidak hanya menjadi ajang perayaan makanan, tetapi juga medium untuk memperkenalkan cita rasa otentik Aceh Timur kepada khalayak yang lebih luas. Dengan mengedepankan bahan-bahan lokal, festival ini sekaligus menegaskan potensi sumber daya alam daerah yang melimpah.
Rangkaian Acara: Pameran UMKM, Literasi Budaya, dan Lomba Kreasi
Lismawani menjelaskan bahwa Festival Penajoh tidak hanya menyajikan aneka hidangan. Rangkaian acara juga mencakup pameran produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), literasi budaya, serta lomba kreasi peunajoh Aceh. Hal ini disampaikan langsung olehnya dalam keterangan telepon kepada Kompas.com.
"Rangkaian festival juga tersedia pameran produk UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah), literasi budaya, lomba kreasi peunajoh Aceh," ujarnya. Lomba kreasi tersebut menjadi wadah bagi masyarakat untuk berinovasi dalam mengolah makanan khas Aceh, sekaligus melestarikan resep dan teknik memasak tradisional.
Adapun pameran UMKM diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dengan memberikan ruang bagi pelaku usaha kecil untuk memasarkan produknya. Literasi budaya pun menjadi bagian penting agar generasi muda semakin mengenal warisan kuliner leluhur mereka.
Seminar dan Workshop untuk Pelaku Usaha
Khusus bagi para pelaku usaha kuliner, panitia menyediakan dua kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas mereka. Pertama, seminar dengan tema "Mendukung Ketahanan Pangan Nasional Bersama Penajoh Aceh". Tema ini menegaskan peran makanan lokal dalam memperkuat kemandirian pangan di tingkat nasional.
Kedua, workshop digitalisasi usaha kuliner penajoh Aceh. Kegiatan ini bertujuan membekali para pelaku UMKM dengan keterampilan memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan usaha, mulai dari pemasaran online hingga manajemen usaha berbasis aplikasi. Langkah ini sejalan dengan tren industri kuliner yang semakin mengandalkan platform digital.
Dukungan terhadap Ketahanan Pangan
Seminar tentang ketahanan pangan menjadi sorotan utama dalam festival ini. Dengan mengangkat penajoh Aceh sebagai ikon, TP PKK Aceh Timur ingin menunjukkan bahwa pangan lokal memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas pasokan makanan. Penggunaan bahan baku lokal secara langsung mengurangi ketergantungan pada impor dan menggerakkan ekonomi petani serta produsen setempat.
Melalui festival ini, diharapkan muncul kesadaran kolektif akan pentingnya menghargai produk dalam negeri. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan agenda ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Harapan untuk Ekonomi dan Pariwisata Aceh Timur
Festival Penajoh digelar selama sepekan penuh, memberikan waktu yang cukup bagi wisatawan dan masyarakat untuk menikmati berbagai atraksi. Kehadiran festival ini diyakini dapat menarik kunjungan wisatawan ke Aceh Timur, yang selama ini lebih dikenal dengan kekayaan alam dan budaya regionalnya.
Dengan mengombinasikan kuliner, UMKM, dan kegiatan edukatif, Festival Penajoh dirancang menjadi agenda tahunan yang berdampak luas. Ke depan, diharapkan acara serupa dapat terus dikembangkan untuk memperkuat identitas kuliner Aceh Timur di kancah nasional. Keberhasilan festival ini juga akan menjadi bukti bahwa pangan lokal tidak hanya lezat, tetapi juga bernilai ekonomi dan budaya yang tinggi.



