Seorang siswa SD bernama Anisa Azahra Munaimbala (9) di Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), Sulawesi Utara (Sulut), menjadi korban perundungan oleh teman sebayanya. Bocah yang akrab disapa Icha itu menangis tersedu-sedu setelah diejek karena ayahnya dianggap miskin dan rumahnya disebut jelek. Peristiwa ini terjadi pada Kamis (23/7) sore di dekat rumahnya di Jaga V, Desa Molompar II Utara, Kecamatan Tombatu Timur.
Kronologi Perundungan
Ibu Icha, Feyti Kawulusan, menceritakan bahwa kejadian bermula saat ia mendengar keributan sekelompok anak di depan rumah. Saat itu Feyti sedang berada di dalam rumah. Ia segera keluar dan mendapati anaknya dalam kondisi menangis. "Saya datang dan bertanya ada apa, lalu anak saya bilang dia di-bully," ungkap Feyti saat diwawancarai detikcom pada Senin (27/7).
Menurut Feyti, ini bukan pertama kalinya Icha menjadi korban bullying. "Ini sudah kedua kalinya anak saya di-bully, yang pertama saya masih bersabar, tapi kali ini sudah keterlaluan," ujarnya dengan nada kecewa. Ia menyesali tindakan teman-teman anaknya yang sudah melewati batas.
Tangisan Icha Viral
Feyti merekam tangisan Icha menggunakan ponselnya. Video tersebut kemudian diunggah ke media sosial dan langsung menjadi viral. Dalam rekaman tersebut, Icha terlihat duduk di tanah sambil menangis dan mengeluhkan perlakuan teman-temannya. "Anak saya di-bully, rumahnya dibilang jelek dan ayahnya disebut orang miskin, itu yang membuat Icha paling sakit hati," kata Feyti sambil menahan tangis.
Video tersebut menuai simpati dari warganet. Banyak yang mengecam tindakan perundungan dan memberikan dukungan moral kepada Icha dan keluarganya. Kasus ini juga menyoroti masih maraknya bullying di kalangan anak-anak, terutama yang berlatar belakang ekonomi lemah.
Harapan Sang Ibu
Feyti yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan suaminya yang bekerja sebagai buruh dan petani berharap kondisi ekonomi mereka tidak lagi dijadikan bahan ejekan. "Kami juga manusia yang punya perasaan, meskipun miskin jangan dijadikan bahan bully-an," tegasnya. Ia khawatir dampak psikologis bullying akan mempengaruhi mental anaknya. "Bagaimana dengan mental anak saya," harap Feyti.
Icha saat ini duduk di bangku kelas IV SD Negeri 1 Molompar. Feyti berusaha menasihati anaknya agar tetap tegar menghadapi perundungan. Namun, ia juga berharap orang tua lain dapat mengajarkan anak-anaknya untuk tidak merendahkan orang lain, terutama yang kurang mampu secara ekonomi. "Kami memang miskin, semua orang di lingkungan ini tahu, tapi jangan sampai mem-bully anak saya," pungkasnya.
Kasus bullying di Indonesia seringkali terjadi berdasarkan latar belakang ekonomi, fisik, atau perbedaan lainnya. Para ahli menekankan pentingnya peran sekolah dan orang tua dalam mengedukasi anak tentang empati dan anti-bullying. Diharapkan dengan viralnya kasus Icha, kesadaran masyarakat akan bahaya perundungan semakin meningkat.



