Perubahan Iklim Ancaman Produktivitas Kopi Indonesia 2026
Perubahan Iklim Ancam Produktivitas Kopi Indonesia 2026

Perubahan iklim menjadi tantangan besar bagi industri kopi Indonesia. Di tengah tren konsumsi kopi yang terus meningkat, pelaku industri justru mengkhawatirkan produktivitas kebun kopi yang terus menurun akibat cuaca ekstrem. Ketua Umum Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI), Daryanto Witarsa, menyatakan bahwa produktivitas kopi diprediksi menurun pada tahun 2026 akibat fenomena El Nino yang memicu musim kemarau lebih panjang.

El Nino Panjang Ancam Produksi Kopi

"Sebentar lagi bulan Juli-Agustus ini bakal El Nino panjang yang diprediksikan dan kita tidak tahu kondisinya bakal gimana," kata Daryanto dalam talk show di Starbucks Barista Championship 2026 di Jakarta Selatan, Jumat (17/7/2026). Fenomena El Nino diperkirakan akan memperpanjang musim kemarau, yang berdampak langsung pada produktivitas tanaman kopi, terutama kopi arabika yang menjadi andalan Indonesia.

Sentra Kopi Arabika Hadapi Tantangan

Sentra kopi arabika di Indonesia mulai menghadapi tantangan serius. Produktivitas kopi Indonesia diprediksi menurun tahun ini akibat fenomena El Nino yang memicu musim kemarau lebih panjang. Hal senada disampaikan oleh Senior Division Manager Learning and Development Starbucks Indonesia, Mirza Luqman Effendy. Ia mengungkapkan kekhawatiran serupa terhadap dampak perubahan iklim pada rantai pasok kopi.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak pada Industri dan Konsumen

Penurunan produktivitas kopi berpotensi mempengaruhi harga dan ketersediaan kopi di pasar. Konsumsi kopi di Indonesia terus meningkat, dengan tren pergeseran dari kopi saset ke kafe. Jika produksi menurun, harga kopi bisa melonjak, berdampak pada pelaku usaha mikro hingga menengah. SCAI dan Starbucks mendorong para petani untuk mengadopsi praktik pertanian berkelanjutan guna mitigasi risiko iklim.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga