Hari Pers Nasional: Refleksi Sindrom Pasca Kekuasaan Jurnalisme di Era Media Sosial
Hari Pers Nasional: Refleksi Sindrom Pasca Kekuasaan Jurnalisme

Hari Pers Nasional: Refleksi Sindrom Pasca Kekuasaan Jurnalisme di Era Media Sosial

Hari Pers Nasional yang diperingati setiap tanggal 9 Februari seharusnya tidak hanya menjadi perayaan semata, tetapi juga momen evaluasi mendalam terhadap kondisi pers itu sendiri. Di tengah dominasi media sosial dan budaya viral yang semakin menguat, jurnalisme kini menghadapi pertanyaan mendasar tentang relevansi dan perannya dalam masyarakat modern.

Gejala Post Power Syndrome dalam Jurnalisme

Dalam banyak aspek, kondisi yang dialami jurnalisme saat ini menyerupai gejala yang dikenal dalam psikologi sebagai post power syndrome. Sindrom ini terjadi ketika seseorang atau institusi yang pernah berkuasa sulit menerima kenyataan bahwa pengaruhnya telah berkurang secara signifikan. Ketika kekuasaan itu mulai memudar, yang tersisa seringkali bukan hanya rasa kehilangan, tetapi juga penyangkalan terhadap realitas baru.

Individu atau lembaga tersebut masih merasa dibutuhkan, masih mengklaim memiliki pengaruh besar, meskipun kenyataan di lapangan telah berubah secara drastis. Fenomena serupa kini tengah dialami oleh dunia jurnalisme konvensional, yang harus beradaptasi dengan lanskap media yang terus berevolusi.

Posisi Istimewa Jurnalisme yang Terancam

Selama puluhan tahun, jurnalisme menempati posisi istimewa dalam kehidupan publik. Ia berperan sebagai penyedia informasi utama, pengontrol kekuasaan, dan penjaga akuntabilitas berbagai institusi sosial dan politik. Bahkan, jurnalisme sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi, yang memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan kekuasaan.

Apa yang diberitakan oleh media arus utama dulu dianggap penting, relevan, dan layak ditindaklanjuti oleh para penguasa. Namun, di era digital ini, otoritas tersebut mulai tergeser oleh kemunculan platform media sosial yang menawarkan akses informasi yang lebih cepat dan langsung, meskipun tidak selalu akurat.

Tantangan Relevansi di Tengah Dominasi Media Sosial

Dominasi media sosial telah mengubah pola konsumsi informasi masyarakat. Berita viral seringkali lebih menarik perhatian daripada laporan jurnalistik yang mendalam dan terverifikasi. Budaya clickbait dan sensasionalisme turut memperumit situasi, di mana kualitas konten kadang dikorbankan demi angka klik dan engagement.

Jurnalisme kini harus bersaing dengan arus informasi yang tak terbendung, sambil tetap mempertahankan standar etika dan akurasi. Tantangan ini memerlukan inovasi dan adaptasi, termasuk dalam hal format penyampaian, distribusi konten, dan interaksi dengan audiens.

Momen Evaluasi untuk Masa Depan Jurnalisme

Hari Pers Nasional menjadi kesempatan berharga untuk melakukan introspeksi kolektif. Evaluasi ini tidak hanya tentang mengakui tantangan, tetapi juga mencari solusi untuk memperkuat peran jurnalisme dalam demokrasi. Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan meliputi:

  • Peningkatan literasi media untuk membantu masyarakat membedakan antara informasi yang valid dan hoaks.
  • Adaptasi teknologi dalam proses jurnalistik untuk meningkatkan efisiensi dan jangkauan.
  • Kolaborasi dengan platform digital untuk menyebarkan konten berkualitas tanpa mengorbankan integritas.
  • Penegakan kode etik jurnalistik yang ketat untuk membangun kepercayaan publik.

Dengan refleksi ini, diharapkan jurnalisme dapat menemukan kembali relevansinya dan terus berperan sebagai penjaga demokrasi di tengah perubahan zaman yang tak terelakkan.