Polda Metro Jaya memastikan kabar yang beredar di media sosial mengenai ajudan mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah tewas ditembak adalah tidak benar. Informasi tersebut merupakan hoaks yang sengaja disebarkan melalui akun Instagram @kementerian_kurangajar.
Polisi Konfirmasi Hoaks
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Mohamad Iskandarsyah untuk memverifikasi kebenaran informasi tersebut. Hasilnya, informasi itu dipastikan palsu.
"Sejauh ini kami sudah mengonfirmasi dengan Kasat Reskrim Jakarta Selatan, itu adalah hoaks," kata Budi dalam konferensi pers, Senin (27/7/2026). Unggahan akun tersebut berlatar hitam dengan tulisan "INFO A77" yang mengklaim ajudan Febrie tewas ditembak orang tak dikenal setelah sebelumnya penjaga rumah Febrie meninggal secara misterius.
Kematian Sutrimo Masih Diselidiki
Sebelum isu penembakan muncul, beredar kabar tentang kematian Kepala Rumah Tangga (Karumga) eks Jampidsus Febrie Adriansyah bernama Sutrimo. Sutrimo ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri dengan mulut berbusa di Mordent Esthetic Clinic pada Senin (27/7/2026). Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Hingga kini, kepolisian belum merilis keterangan resmi mengenai penyebab kematian Sutrimo.
Tanggapan Kuasa Hukum Febrie
Kuasa hukum Febrie Adriansyah, Febri Diansyah, angkat bicara terkait kabar meninggalnya Sutrimo. Ia mengaku belum mendapatkan informasi resmi mengenai peristiwa tersebut. "Kami fokus di substansi perkara. Saya juga tidak dapat informasi terkait dengan hal itu," ujar Febri kepada wartawan, Senin (27/7/2026). Menurut Febri, informasi yang diketahui saat ini hanya berasal dari pemberitaan media. Ia juga menyebut Polda Metro Jaya telah mulai menangani kasus tersebut, meskipun belum jelas apakah masih dalam tahap penyelidikan atau sudah lanjut.
Antisipasi Penyebaran Hoaks
Polisi mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. Akun @kementerian_kurangajar diketahui kerap menyebarkan konten provokatif. Polda Metro Jaya sebelumnya juga membongkar sindikat buzzer penyebar hoaks yang menetapkan delapan tersangka. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya literasi digital di tengah maraknya informasi palsu.



