DPR: Marak Main Hakim Sendiri Tanda Lemahnya Kepercayaan ke Penegak Hukum
DPR Minta Polisi Usut Tuntas Aksi Main Hakim Sendiri

Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Ahmad Irawan, mendesak kepolisian untuk mengusut tuntas setiap pelaku aksi main hakim sendiri (eigenrichting) yang belakangan marak terjadi di sejumlah daerah. Fenomena ini, menurutnya, menjadi alarm menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap proses penegakan hukum.

Korban Jiwa dalam Sepekan

Ahmad mengungkapkan, dalam sepekan terakhir terjadi sejumlah aksi main hakim sendiri yang berujung korban jiwa. Di Kabupaten Tabanan, Bali, seorang pria berinisial KD tewas diamuk massa setelah diduga mencuri ayam. Selain dikeroyok hingga tewas, warga juga membakar motor yang digunakan korban. Mirisnya, aksi tersebut dilakukan di depan anak pelaku. Sementara itu, di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, seorang perantau bernama Setiawan (33) tewas setelah dimassa karena dituduh mencuri sepeda motor milik seorang pengunjung toko. Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (25/7/2026) malam dan videonya viral di media sosial.

Seruan Penegakan Hukum

“Saya menyayangkan, sedih, dan perih membaca serta menonton beberapa peristiwa tersebut. Terlepas dari dugaan kejahatan yang dilakukan korban, mereka tidak boleh dihakimi dengan cara seperti itu, apalagi dikeroyok beramai-ramai hingga meninggal dunia,” kata Ahmad Irawan kepada Liputan6.com, Senin (27/7/2026). Ia menegaskan bahwa Indonesia adalah negara hukum, sehingga setiap dugaan tindak pidana harus diselesaikan melalui mekanisme hukum, bukan dengan kekerasan massa. “Demi tegaknya hukum dan keadilan, saya meminta kepolisian mengusut pelaku pengeroyokan dan main hakim sendiri serta memberikan hukuman yang setimpal,” ujarnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pendampingan Psikologis dan Evaluasi

Ahmad juga meminta pemerintah memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga korban yang ditinggalkan. Menurutnya, maraknya aksi main hakim sendiri harus menjadi bahan evaluasi seluruh pihak. Ia menilai salah satu faktor pemicu adalah rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap proses dan institusi penegak hukum. “Bisa dikatakan salah satu sebab terjadinya peristiwa tersebut karena lemahnya kepercayaan terhadap proses dan institusi penegak hukum. Untuk memulihkan kepercayaan tersebut, penegakan hukum harus dilakukan secara adil dan konsisten,” kata politikus Partai Golkar ini.

Konfirmasi Kepolisian

Kabag Ops Polres Morowali AKP Rustang membenarkan insiden di Morowali. Ia menjelaskan bahwa korban awalnya diamankan warga karena diduga mencuri sepeda motor. Hingga kini, polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. Kasus serupa juga terjadi di Bali, di mana polisi telah membongkar makam korban untuk keperluan autopsi.

Fenomena main hakim sendiri ini menunjukkan adanya krisis kepercayaan terhadap sistem peradilan pidana. Masyarakat cenderung mengambil tindakan sendiri karena merasa proses hukum lambat atau tidak adil. Oleh karena itu, Ahmad menekankan pentingnya penegakan hukum yang tegas dan konsisten untuk mengembalikan kepercayaan publik.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga