Geger Kematian Kurir Paket: Sisi Kelam Pengiriman Ekspres di Korsel
Geger Kematian Kurir Paket: Sisi Kelam Pengiriman Ekspres Korsel

Seminggu sebelum putranya meninggal, Park Mi-suk memintanya berhenti dari pekerjaan sebagai kurir. Namun, Jang Deok-jun (27) menolak karena khawatir rekannya akan semakin berat bebannya. Seminggu kemudian, Park menemukan Jang tidak sadarkan diri di bak mandi. Ia meninggal karena serangan jantung. Lembaga asuransi pemerintah Comwel menyimpulkan kematiannya terkait kelelahan akibat kerja berlebihan.

Lonjakan Pengiriman dan Sistem Kerja Malam

Jang meninggal pada 2020 saat pandemi Covid-19 melonjakkan permintaan pengiriman. Ia bekerja shift malam di gudang Coupang, perusahaan ritel daring terbesar di Korea Selatan. Tugasnya mengoperasikan kendaraan pemindah palet. Berat badannya turun 15 kg dan ia sering mengeluh kelelahan. Park menyesal tidak menyadari kondisi putranya.

Layanan pengiriman malam hari menjadi umum di Korsel. Konsumen dijamin mendapat barang sebelum pukul 07.00 jika pesan sebelum tengah malam. Hal ini ditopang puluhan ribu pekerja gudang dan kurir. Coupang, didirikan pengusaha Korea-Amerika, menjadi pemain terbesar dengan hampir 100.000 karyawan sejak meluncurkan layanan pengiriman segar semalam pada 2015.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Data Kematian Pekerja dan Temuan Ilmiah

Antara 2020 hingga Mei 2026, Comwel mencatat 46 pekerja gudang dan kurir (termasuk Jang) meninggal akibat stroke atau penyakit jantung yang dikategorikan kematian terkait pekerjaan. Namun, tidak semua kasus dilaporkan. Penyelidikan hanya dilakukan jika keluarga mengajukan klaim kompensasi. Data sebelumnya menunjukkan kurir siang lebih sering meninggal, tetapi kini dipertanyakan karena pesatnya pertumbuhan layanan malam.

Badan Riset Kanker Internasional (IARC) di bawah WHO mengklasifikasikan kerja malam sebagai faktor yang diduga meningkatkan risiko kanker. Profesor Kang Mo-yeol dari Catholic University of Korea menegaskan, "Bukti ilmiah terus menunjukkan bahwa kerja malam meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes, hingga gangguan kesehatan mental."

Kisah Kurir Malam: Penghasilan Besar dengan Risiko

Kim, seorang kurir Coupang mitra subkontrak, bekerja dari pukul 21.00 hingga 07.00, lima hingga enam hari per pekan. Ia dibayar per paket dan berisiko kehilangan "wilayah" jika gagal menyelesaikan pengiriman sebelum pukul 07.00. "Saya tidak mungkin melakukan pekerjaan ini seumur hidup karena tubuh akan rusak," katanya. Namun, gaji sekitar 7 juta won per bulan (Rp85 juta)—hampir dua kali lipat rata-rata nasional—membuatnya tetap bertahan. Istrinya yang hamil khawatir ia tertidur saat mengemudi, tetapi Kim merasa lebih mudah di jalanan malam yang lengang.

Perjuangan Park Mi-suk dan Kontroversi Coupang

Park berjuang sendiri di depan kantor pusat Coupang di Seoul. Ia sulit meminta pertanggungjawaban perusahaan; beban pembuktian ada pada keluarga. Setelah berbulan-bulan mendesak parlemen, ia memperoleh catatan jam kerja dan CCTV yang menunjukkan jam kerja Jang telah memenuhi ambang batas hukum: rata-rata 60 jam per minggu selama 12 minggu berturut-turut, atau 64 jam per minggu dalam 4 minggu terakhir. Comwel menghitung jam malam 30% lebih tinggi sebagai pengakuan risiko kesehatan.

Media lokal mempublikasikan percakapan bocor antara mantan direktur privasi Coupang dengan CEO Bom Kim, yang diduga meminta penghapusan frasa "bekerja sangat keras" dari laporan internal. Coupang membantah tuduhan tersebut. Serikat pekerja melaporkan kasus ini ke polisi pada Desember 2025. Coupang menyatakan telah menyerahkan semua dokumen dan bekerja sama dengan penyelidikan Comwel.

Kasus Kedua: Oh Seung-yong

Saat penyelidikan berlangsung, kurir Oh Seung-yong (34) meninggal setelah truknya menabrak tiang saat mengantar paket. Comwel menetapkannya sebagai kematian terkait pekerjaan. Sang kakak mengungkapkan adiknya bekerja enam hari seminggu, lebih dari 11 jam setiap hari, sebagian besar malam. Oh bekerja untuk mitra kontrak Coupang. Perusahaan menyatakan membatasi jam kerja kurang dari 52 jam per minggu dan memberikan libur akhir pekan penuh setiap dua minggu. Namun, serikat pekerja menuding aturan itu tidak diterapkan.

CEO Coupang Harold Rogers dipanggil parlemen pada Desember 2025. Park Mi-suk meminta agar Bom Kim dimintai pertanggungjawaban. Kakak Oh menuntut permintaan maaf langsung dari Rogers, yang hanya menyatakan "menyesal" dan "belasungkawa". Rogers bungkam saat didesak lebih lanjut.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Tantangan Pemerintah dan Budaya Kerja Berat

Kematian Jang dan Oh menyentuh Korea Selatan yang terkenal dengan budaya kerja berat. Pemerintah Presiden Lee Jae Myung, yang mengalami disabilitas lengan akibat kecelakaan kerja, menjadikan pengurangan kecelakaan kerja sebagai prioritas. Korsel masih mencatat salah satu tingkat kematian akibat kerja tertinggi di negara maju. Pemerintah telah membatasi jam kerja maksimal 52 jam per minggu dan mengesahkan undang-undang yang memungkinkan eksekutif dipidana jika lalai menyebabkan kematian pekerja.

Untuk mengurangi dominasi Coupang, partai berkuasa mengusulkan pelonggaran aturan agar lebih banyak perusahaan ritel menyediakan layanan pengiriman semalam. Namun, serikat pekerja, aktivis, dan Park menolak. Mereka menilai masalahnya terletak pada sistem industri pengiriman cepat yang bergantung pada beban kerja berlebihan.

Park kini tinggal di apartemen sewa di Daegu setelah menutup usaha furnitur. Ia masih menyimpan barang peninggalan Jang, termasuk koleksi figur aksi. "Saya berharap kita tidak menjadi masyarakat yang menutup mata terhadap pengorbanan orang lain hanya demi sedikit kenyamanan," ujarnya. Ia memaknai perumpamaan jungkat-jungkit putranya secara berbeda: di satu sisi ada Jang bersama puluhan ribu pekerja malam, di sisi lain konsumen yang menikmati kemudahan.