Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengungkap bahwa empat sekolah menengah atas (SMA) di wilayahnya menjadi korban dugaan praktik penipuan (scam) yang menyamar sebagai sosialisasi tes TOEFL selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Sekolah-sekolah yang terkonfirmasi adalah SMAN 9 Yogyakarta, SMAN 3 Yogyakarta, SMAN 1 Tempel, dan SMAN 1 Kretek, dengan total korban mencapai ratusan siswa.
Kronologi dan Temuan Awal
Kepala Bidang Perencanaan dan Data Disdikpora DIY, Suci Rohmadi, menjelaskan bahwa pihaknya terus menindaklanjuti laporan terkait peristiwa ini. Hasil pendalaman menunjukkan bahwa kegiatan tersebut merupakan sosialisasi English Proficiency Test (EPT) yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga bernama Yogyaversity. Disdikpora DIY masih mengumpulkan informasi dari sekolah-sekolah yang disebut dalam berbagai laporan untuk memastikan fakta di lapangan, termasuk jumlah peserta didik yang terdampak dan informasi lain terkait kegiatan tersebut.
Berdasarkan koordinasi sementara, Disdikpora DIY membenarkan adanya siswa yang telah melakukan pembayaran setelah mengikuti sosialisasi. Proses inventarisasi data di lapangan masih terus berlangsung. Suci Rohmadi menyatakan, "Seluruh informasi terkait jumlah pihak yang terdampak maupun nilai kerugian masih dalam proses verifikasi untuk memastikan fakta-faktanya."
Kerugian di SMAN 9 Yogyakarta
Salah satu laporan yang telah diterima berasal dari SMAN 9 Yogyakarta. Hasil pendataan sekolah mencatat sebanyak 100 siswa melakukan pembayaran masing-masing Rp100 ribu setelah mengikuti sosialisasi yang diadakan Yogyaversity pada Jumat, 17 Juli 2026. Pihak SMAN 9 Yogyakarta telah mendata siswa yang melakukan pembayaran dan mengupayakan pengembalian dana. Alhasil, total dana senilai Rp10 juta telah diterima kembali oleh 100 peserta didik per Senin, 20 Juli 2026.
Pencatutan Nama Instansi
Disdikpora DIY juga menindaklanjuti dugaan pencatutan nama instansi dalam kegiatan tersebut. Suci Rohmadi menegaskan bahwa dinasnya tidak pernah memberikan penugasan, rekomendasi, maupun kemitraan resmi kepada Yogyaversity. "Pencatutan nama Disdikpora DIY dilakukan tanpa izin. Dinas Dikpora DIY sedang menempuh langkah-langkah sesuai ketentuan perundang-undangan terhadap tindakan tanpa izin tersebut," tegasnya.
Modus Operandi
Sebelumnya, sebuah unggahan viral di media sosial mengungkap dugaan penipuan berkedok sosialisasi tes TOEFL yang menyasar siswa salah satu SMA di DIY saat MPLS. Sekitar 108 siswa dari tiga kelas disebut mengikuti kegiatan tersebut sebelum diminta membayar biaya tes dengan skema potongan harga dalam waktu terbatas. Dalam kegiatan itu, dua pemateri diduga mengklaim membawa nama Disdikpora DIY dan Polda DIY agar kegiatan terlihat resmi. Setelah presentasi, para siswa ditawari mengikuti tes dengan biaya yang semula disebut Rp400 ribu menjadi Rp100 ribu, lalu diminta segera melakukan pembayaran secara tunai, transfer, atau QRIS. Kecurigaan muncul setelah kegiatan berakhir. Sejumlah siswa mendapat informasi dari pelajar sekolah lain yang mengaku pernah mengalami kejadian serupa. Penelusuran mereka juga memunculkan dugaan bahwa alamat perusahaan pada kuitansi tidak valid dan layanan yang diberikan bukan tes TOEFL seperti dipromosikan, melainkan tes EPT berbasis daring dengan sertifikat digital.
Langkah Disdikpora DIY
Disdikpora DIY telah meminta sekolah-sekolah menyampaikan informasi secara terbuka jika terdapat peserta didik maupun orang tua yang merasa dirugikan. "Apabila terdapat pihak yang akan menyampaikan laporan kepada aparat penegak hukum, Disdikpora DIY siap memfasilitasi koordinasi dan penyediaan informasi yang diperlukan sesuai kewenangan kami," jelas Suci. Selain melakukan klarifikasi, Disdikpora DIY juga mengevaluasi mekanisme verifikasi terhadap pihak eksternal yang akan melaksanakan kegiatan di sekolah. Langkah ini menjadi upaya memperkuat perlindungan siswa sekaligus mencegah terulangnya kejadian serupa. Ia mengimbau masyarakat dan satuan pendidikan agar melakukan verifikasi jika terdapat pihak yang mengatasnamakan Disdikpora DIY dalam menawarkan kegiatan di sekolah.



