Mediasi Sopir Alphard dan Satpam: Diminta Push Up, Diancam Dipecat
Mediasi Sopir Alphard: Satpam Diminta Push Up dan Diancam

Satpam bernama Fiktor Harefa (sebelumnya ditulis Victor Harefa) mengaku diminta melakukan push up dan diancam akan dipecat saat menjalani mediasi dengan sopir mobil Toyota Alphard yang menerobos lampu lalu lintas di pelican crossing depan Hotel Pullman, Jakarta Pusat. Mediasi tersebut berlangsung di pos polisi (pospol) Thamrin.

Intimidasi dan Ancaman di Pos Polisi

Kuasa hukum Fiktor, Wiradarma Harefa, mengungkapkan bahwa kliennya mengalami intimidasi selama mediasi. Sopir Alphard mengaku sebagai 'anggota' dan menunjukkan kartu identitas yang tidak terbaca. "Di pos itu, dia diintimidasi dengan cara-cara mengaku 'saya ini anggota', ada kartu tapi tidak bisa dibaca karena seperti diambil kartunya dari kantongnya, terus dia bilang 'saya ini anggota', tapi (kartunya) ditempelin di jidat, cuma kan tidak bisa dibaca," kata Wira saat dihubungi, Jumat (24/7).

Selain itu, Fiktor diminta melakukan push up, namun ia menolak karena baru menjalani pengobatan di lengan kanan dan belum makan. "Termasuk kayak push up. Tapi, push up dia tolak karena dia bilang 'saya belum makan dan saya baru melakukan pengobatan di tangan kanan', makanya dia tidak kuat," ucap Wira.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Ancaman Pemecatan dan Permohonan

Wira menambahkan bahwa sopir Alphard juga mengancam akan melaporkan Fiktor ke perusahaan tempatnya bekerja. Bahkan, identitas kliennya diminta. "Karena dia ketakutan diancam, 'saya akan memecat kamu, saya laporin ke vendor kamu, ke user kamu, saya akan lapor ke perusahaan kamu, mana ID card kamu', terus dia ketakutan. Dia bilang, 'tolong saya jangan dipecat, saya jangan dipecat.' Dia sujud-sujud sama orang-orang itu. Itu ceritanya," tutur dia.

Rencana Pelaporan ke Polisi

Sebagai kuasa hukum, Wira berencana menempuh jalur hukum atas intimidasi yang dialami Fiktor. Namun, pelaporan masih menunggu kesiapan klien. "Kalau kami sebagai pendampingnya, kami ada rencana untuk membuat laporan, cuma kan dia masih belum siap secara mental untuk membuat laporan. Dan kami sampaikan kalau memang sekiranya ada hal yang memang kita lapor, kita akan buat laporan," ucap dia.

Bantahan Polisi soal Kekerasan

Sebelumnya, polisi menyebut tidak ada tindakan kekerasan maupun pemukulan selama mediasi. Kapolsek Metro Menteng AKBP Braiel Arnold Rondonuwu membantah informasi dugaan intimidasi, termasuk satpam yang diminta bersujud atau diancam kehilangan pekerjaan. "Kami masih mendalami informasi yang beredar. Sejauh ini belum ada bukti adanya pemukulan maupun kekerasan," kata Braiel dalam keterangannya, Kamis (23/7).

Kendati demikian, Braiel mempersilakan pihak yang merasa dirugikan untuk melapor. "Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau memiliki bukti lain, kami persilakan membuat laporan agar dapat kami proses sesuai ketentuan yang berlaku," ucap Braiel.

Pelat Palsu dan Pemanggilan

Di sisi lain, mobil Toyota Alphard hitam itu diduga menggunakan pelat palsu atau tidak sesuai peruntukannya. Kendaraan itu menggunakan pelat nomor D 1828 XHQ. Berdasarkan penelusuran CNNIndonesia.com pada fitur Layanan Samsat di situs resmi Bapenda Jabar, nomor polisi tersebut terdaftar untuk mobil merek Daihatsu, warna silver metalik, model S401RV-ZMDEJJ HJ.

Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Ojo Ruslani mengatakan pihaknya mendalami penggunaan pelat tersebut dan akan memanggil pengemudi Alphard serta satpam untuk dimintai keterangan. "Saya akan melakukan panggilan klarifikasi kepada pemilik Alphard. Kemudian panggilan klarifikasi kepada sekuriti yang terlibat cekcok dengan sopir Alphard. Setelah itu kita akan konfrontir di Subdit Gakkum," ucap Ojo.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga