Rumah makan Dago di Bajo resmi hadir di Labuan Bajo dengan misi menghadirkan masakan Sunda di Bumi Flores. Berlokasi di Ruko Diamond Hills A3, Jalan Pantai Pede, rumah makan ini merupakan kolaborasi dua perempuan asal Bandung, Tikki Capriati dan Fitriyatul Jannah.
Ide pendirian rumah makan ini berangkat dari kerinduan pemiliknya pada makanan-makanan dengan cita rasa Sunda. Tikki dan Fitriyatul, keduanya perantau asal Bandung, ingin menciptakan ruang yang bisa mengobati rasa rindu terhadap masakan khas tanah kelahiran mereka, sekaligus menjadi tempat berkumpul bagi mereka yang memiliki latar belakang serupa.
Berawal dari Rindu akan Masakan Rumah
Tikki Capriati dan Fitriyatul Jannah tumbuh dalam budaya kuliner Sunda yang kaya akan rempah dan kesegaran. Setelah jauh dari Bandung, keduanya menghadapi kenyataan bahwa masakan Sunda tidak mudah dijumpai di Labuan Bajo. Kebutuhan akan cita rasa yang membawa kenangan itu menjadi alasan utama lahirnya Dago di Bajo.
Dago di Bajo bukan hanya usaha kuliner, melainkan juga representasi dari sebuah perjalanan merantau. Melalui rumah makan ini, kedua perempuan tersebut ingin menyampaikan bahwa kerinduan dapat diwujudkan dalam bentuk sajian yang hangat dan otentik.
Inspirasi Nama dari Jalan Dago
Nama Dago memiliki makna khusus bagi pemiliknya. Dago merujuk pada Jalan Dago, salah satu ruas jalan paling terkenal di Kota Bandung. Jalan ini dikenal sebagai kawasan yang hidup dengan beragam aktivitas, mulai dari pusat kuliner, tempat belanja, hingga destinasi hangout favorit warga dan wisatawan.
"Dago itu landmark paling terkenal di Bandung. Kalau orang ke Bandung, terutama yang dari luar kota ya, yang baru pertama kali ke Bandung itu pasti ke Jalan Dago, gitu. Jalan Dago sana seperti Jalan Soekarno-Hatta di sini," kata Tikki kepada Kompas.com.
Perumpamaan dengan Jalan Soekarno-Hatta di Labuan Bajo menunjukkan kedudukan Jalan Dago yang strategis dan ikonik. Dengan menyematkan nama itu, pemilik berharap Dago di Bajo juga menjadi tempat yang mudah diingat dan diidentikkan dengan kehangatan seperti Dago di Bandung.
Penanda bagi Perantau dan Pecinta Kuliner Sunda
Selain menjadi wujud kerinduan, nama Dago di Bajo juga dijadikan penanda bagi para perantau dari Bandung serta pecinta makanan Sunda yang berada di Labuan Bajo. Harapannya, saat mendengar nama Dago, para perantau merasa ada sepotong Bandung yang ikut berpindah ke Flores.
Rumah makan ini pun hadir sebagai destinasi nostalgia. Pengunjung yang pernah tinggal atau berasal dari Bandung dapat bernostalgia melalui rasa dan suasana yang ditawarkan. Sementara itu, warga lokal serta wisatawan mancanegara yang belum pernah mencicipi masakan Sunda berkesempatan mengenal kuliner Nusantara dari Jawa Barat.
Lokasi di Jalan Pantai Pede
Dago di Bajo berlokasi di Ruko Diamond Hills A3, Jalan Pantai Pede, Labuan Bajo. Kawasan ini berada di tengah denyut perkembangan kota Labuan Bajo yang semakin ramai, seiring dengan meningkatnya kunjungan wisatawan ke kawasan Taman Nasional Komodo dan pulau-pulau di sekitarnya.
Letaknya yang berada di deretan ruko komersial memudahkan pengunjung untuk menemukan rumah makan ini. Dengan akses yang relatif mudah, tempat ini dapat dijangkau baik oleh warga sekitar maupun wisatawan yang singgah di Labuan Bajo.
Menambah Warna Kuliner Labuan Bajo
Kehadiran Dago di Bajo memperkaya lanskap kuliner Labuan Bajo yang selama ini lebih sering identik dengan hidangan laut dan makanan khas Nusa Tenggara Timur. Cita rasa Sunda menjadi alternatif baru yang segar di tengah beragamnya pilihan kuliner di kota wisata ini.
Bagi Tikki dan Fitriyatul, Labuan Bajo adalah tempat kedua yang mereka singgahi dengan penuh harapan. Dengan menghadirkan nama yang begitu akrab di tanah kelahiran, mereka sekaligus merawat identitas budaya di tengah kehidupan sebagai perantau.
Lebih dari sekadar tempat makan, Dago di Bajo adalah simbol kegigihan dua perempuan perantau untuk berbagi rasa dan cerita. Rumah makan ini membuktikan bahwa rindu pada kampung halaman dapat menjelma menjadi karya yang bermanfaat bagi banyak orang.
Melalui Dago di Bajo, Tikki dan Fitriyatul menunjukkan bahwa di luar Jawa, identitas kuliner tetap dapat hidup dan berkembang tanpa kehilangan akarnya.



