Makanan Khas Keraton Yogyakarta: Glendhoh, Hidangan Favorit Sultan HB VIII
Glendhoh, Hidangan Favorit Sultan dari Keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta tidak hanya menyimpan warisan budaya berupa bangunan dan tradisi, tetapi juga kekayaan kuliner yang telah diwariskan turun-temurun. Berdasarkan arsip Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (26/7/2026), terdapat sejumlah makanan khas yang dahulu disajikan khusus untuk keluarga kerajaan. Makanan-makanan ini dibuat dengan teknik memasak tradisional yang masih dikenang hingga saat ini. Salah satu hidangan yang paling terkenal adalah Glendhoh, yang menjadi favorit Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

Glendhoh: Hidangan Siang Istimewa

Glendhoh merupakan hidangan makan siang khas Keraton Yogyakarta yang menggunakan burung dara muda atau piyik sebagai bahan utama. Proses pembuatannya cukup rumit dan membutuhkan ketelitian. Daging burung dibersihkan terlebih dahulu, lalu bagian perutnya diisi dengan daging cincang yang telah dibumbui. Bumbu-bumbu yang digunakan antara lain bawang merah, bawang putih, ketumbar, rempah-rempah khas, dan santan kental. Isian ini kemudian dimasak hingga meresap ke dalam daging burung.

Teknik memasak tradisional yang digunakan dalam pembuatan Glendhoh mencerminkan kearifan lokal dan filosofi keraton. Proses pengisian daging cincang ke dalam perut burung dara muda tidak hanya bertujuan menambah cita rasa, tetapi juga melambangkan kesempurnaan dan keseimbangan. Hidangan ini biasanya disajikan pada acara-acara khusus kerajaan atau sebagai menu favorit sang sultan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Warisan Kuliner Keraton yang Perlu Dilestarikan

Keberadaan Glendhoh dan makanan khas keraton lainnya merupakan bagian dari identitas budaya Yogyakarta. Dinas Kebudayaan DIY mencatat bahwa resep dan cara pembuatan hidangan ini diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Meskipun saat ini tidak lagi disajikan setiap hari di keraton, upaya pelestarian terus dilakukan dengan mendokumentasikan dan mempromosikan kuliner tradisional ini.

Makanan khas keraton tidak hanya soal rasa, tetapi juga memiliki makna filosofis dan sejarah yang dalam. Glendhoh, misalnya, menggunakan burung dara muda yang melambangkan kemurnian dan kebersihan. Bumbu-bumbu yang digunakan juga dipilih secara khusus untuk menciptakan harmoni rasa. Bagi masyarakat Yogyakarta, mencicipi hidangan seperti Glendhoh adalah cara untuk merasakan langsung jejak sejarah budaya Jawa.

Dengan semakin berkembangknya industri pariwisata dan kuliner, makanan khas keraton seperti Glendhoh berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya. Pemerintah daerah bersama komunitas kuliner terus berupaya memperkenalkan hidangan ini kepada khalayak yang lebih luas, tanpa meninggalkan keaslian resep warisan leluhur.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga