Trump Ancam Serang Iran Besar-besaran Jika Hormuz Tak Dibuka
Trump Ancam Serang Iran Besar-besaran Jika Hormuz Tak Dibuka

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka. Ia mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran jika selat vital tersebut tidak segera dibuka. Pernyataan ini disampaikan Trump dalam wawancara dengan Fox News saat kunjungannya ke California, sebagaimana dilansir AFP pada Rabu (5/8/2026).

Ancaman Serangan Terbesar Sejak Perang Dunia II

Trump menegaskan bahwa "Selat akan segera dibuka, atau mereka akan dihantam sangat keras dan kemudian Selat akan dibuka." Ia bahkan menyebut rencana serangan tersebut sebagai "serangan besar-besaran, yang terbesar sejak Perang Dunia II." Namun, ia juga mengisyaratkan adanya komunikasi dengan Iran, dengan mengatakan bahwa pihak Iran meneleponnya dan meminta untuk berunding.

"Kami sedang melakukan pembicaraan yang sangat baik," kata Trump, seraya menambahkan bahwa Iran sangat ingin mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Harapan Kesepakatan dari Menteri Keuangan AS

Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan optimisme bahwa AS dan Iran dapat mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz pada Rabu (5/8) waktu setempat. Dalam wawancara dengan CNBC pada Selasa (4/8), Bessent mengatakan bahwa kesepakatan tersebut akan menstabilkan harga energi global.

"Kami sedang bernegosiasi dengan Iran, dan saya pikir ada kemungkinan kami dapat mencapai kesepakatan hari ini atau besok untuk membuka selat dan bergerak menuju posisi yang lebih normal dalam konflik ini," ujar Bessent. Ia juga menyebut bahwa ratusan kapal sedang menunggu untuk berlayar, dan sebagian sudah mulai berlayar meski situasi masih genting.

"Jadi, saya memperkirakan harga energi akan kembali stabil, yang, seperti yang saya katakan, akan baik untuk seluruh dunia," imbuhnya.

Bantahan dari Iran

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran membantah adanya negosiasi dengan Washington. Pernyataan ini disampaikan pada Selasa (4/8) bersamaan dengan insiden sebuah proyektil tak dikenal yang menghantam kapal kargo di Selat Hormuz, yang menjadi titik ketegangan utama dalam konflik AS-Iran. Insiden tersebut semakin memperumit situasi di kawasan yang strategis bagi pasokan minyak dunia.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Iran mengenai ancaman Trump. Namun, bantahan Iran terhadap adanya negosiasi menunjukkan adanya perbedaan persepsi antara kedua negara mengenai status dialog yang mungkin terjadi.

Dampak terhadap Harga Energi dan Stabilitas Global

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Gangguan di selat ini dapat memicu lonjakan harga energi global. Pernyataan Bessent tentang stabilisasi harga energi mencerminkan kekhawatiran internasional terhadap potensi eskalasi konflik. Jika kesepakatan tercapai, hal ini dapat meredakan ketegangan dan menstabilkan pasar energi. Namun, jika ancaman Trump direalisasikan, dampaknya bisa sangat luas, tidak hanya bagi Iran dan AS, tetapi juga bagi ekonomi global.

Para analis memantau perkembangan ini dengan cermat, mengingat tingginya risiko yang dihadapi. Masyarakat internasional berharap dialog dapat mengalahkan konfrontasi, mengingat konsekuensi yang mungkin timbul dari serangan militer besar-besaran di kawasan tersebut.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga