Iran Serang Lagi Fasilitas Militer AS di Kuwait dengan Drone
Iran Serang Lagi Fasilitas Militer AS di Kuwait dengan Drone

Militer Iran pada Jumat (31/7/2026) mengumumkan bahwa mereka telah melancarkan serangan drone yang menyasar fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait. Aksi ini terjadi di tengah kembali memanasnya konflik berkepanjangan antara Washington dan Teheran, setelah sebelumnya sempat terjadi jeda hampir satu minggu. Serangan ini menandai babak baru dalam perang Timur Tengah yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu.

Dalam pernyataan resminya, militer Iran menjelaskan bahwa sasaran serangan adalah "tempat perlindungan pesawat tempur, sistem komunikasi satelit, dan fasilitas penyimpanan peralatan di Pangkalan Udara Ahmad al-Jaber di Kuwait." Pangkalan tersebut merupakan salah satu fasilitas militer penting yang digunakan oleh pasukan AS di kawasan Teluk. Sampai berita ini diturunkan, belum ada komentar resmi dari Komando Pusat AS (CENTCOM) mengenai insiden tersebut.

Dalih Serangan: Balas Dendam atas Insiden Pulau Qeshm

Mengutip laporan kantor berita AFP, militer Iran menyatakan serangan drone tersebut dilakukan "sebagai tanggapan atas agresi baru-baru ini oleh militer AS yang teroris terhadap negara kami dan serangan brutalnya terhadap sebuah rumah tinggal di Pulau Qeshm." Pulau Qeshm terletak di Selat Hormuz, sebuah kawasan yang memiliki arti penting bagi keamanan energi global.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pada Kamis (30/7), media lokal Iran melaporkan bahwa tiga anggota keluarga tewas dalam serangan AS di Pulau Qeshm. Peristiwa itu memicu kemarahan Teheran dan menjadi pembenaran bagi serangan balasan ke Kuwait. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap harinya. Sejak perang meletus pada 28 Februari, Iran secara efektif menutup selat tersebut, yang berdampak besar pada perdagangan energi global.

Serangan AS ke Provinsi Pesisir Iran

Sebelum eskalasi ini, militer AS telah berulang kali melancarkan serangan terhadap provinsi-provinsi pesisir selatan Iran. Langkah tersebut dimaksudkan untuk melemahkan kendali Teheran atas Selat Hormuz. Namun, Iran justru merespons dengan memperluas target ke pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara tetangga, termasuk Kuwait.

Kuwait selama ini dikenal sebagai sekutu dekat AS dan menjadi tuan rumah bagi sejumlah pasukan Amerika yang ditempatkan di kawasan Teluk. Dengan adanya serangan langsung ke pangkalan militer AS di Kuwait, jelas bahwa konflik ini telah meningkat menjadi pertarungan yang lebih terbuka.

Rudal Iran Hantam Gedung Perusahaan China di Kuwait Utara

Serangan drone ke Pangkalan Ahmad al-Jaber terjadi hanya sehari setelah Iran meluncurkan serangan rudal pada Kamis (30/7) pagi yang menghantam sebuah gedung milik perusahaan China di bagian utara Kuwait. Akibat serangan tersebut, seorang pekerja tewas dan gedung mengalami kerusakan parah.

Kementerian Pertahanan Kuwait melalui unggahan di media sosial X mengonfirmasi kejadian itu. "Agresi keji Iran menargetkan sebuah gedung milik perusahaan China di bagian utara negara, mengakibatkan kematian seorang pekerja dan menyebabkan kerusakan material yang parah pada bangunan tersebut," demikian bunyi pernyataan resmi yang dirilis kementerian.

Dalam pernyataan yang sama, angkatan bersenjata Kuwait menegaskan komitmen mereka untuk melindungi kedaulatan dan keamanan negara. Mereka juga menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pihak berwenang terkait demi memastikan keselamatan warga negara dan penduduk di Kuwait.

Kuwait dan Yordania Jadi Sasaran Tembakan Iran

Sejak pecahnya perang Timur Tengah pada 28 Februari, Iran memang telah berulang kali melancarkan serangan drone dan rudal ke sejumlah negara Teluk. Kuwait termasuk di antara negara-negara tersebut, bersama dengan Yordania, yang kerap menjadi sasaran tembakan Iran. Hal ini menunjukkan bahwa Teheran berusaha menciptakan tekanan di berbagai front sekaligus untuk mengimbangi serangan AS yang terus berlanjut.

Gelombang Serangan Terbaru AS ke Iran

Konflik ini kembali memanas pada Rabu (29/7) ketika militer Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan terbaru mereka terhadap Iran. Serangan yang berlangsung selama dua jam tersebut menghantam puluhan target di berbagai wilayah Iran. Washington menggambarkan serangan itu sebagai "respons yang kuat" atas rudal-rudal Iran yang diluncurkan ke arah pasukan AS di Timur Tengah pada hari sebelumnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Merespons serangan-serangan tersebut, Iran kini tampaknya memilih untuk membalas dengan menyerang aset militer dan kepentingan asing di negara-negara Teluk. Serangan ke Kuwait, baik yang menyasar gedung perusahaan China maupun pangkalan militer AS, menjadi bukti nyata bahwa eskalasi militer di kawasan ini semakin jauh dari harapan perdamaian.

Hingga saat ini, belum ada keterangan rinci mengenai jumlah korban atau tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan drone Iran ke Pangkalan Ahmad al-Jaber. Namun, yang jelas, situasi keamanan di Timur Tengah kembali berada di titik rawan dan menuntut perhatian serius dari komunitas internasional.