Menag Siapkan Program Pembinaan Santri Raih Beasiswa LPDP
Pembinaan Santri oleh Menag demi Beasiswa LPDP

Menteri Agama Nasaruddin Umar menggagas program pembinaan yang dirancang khusus untuk meningkatkan peluang santri dan mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dalam meraih beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Inisiatif ini berangkat dari keyakinan Menag bahwa banyak santri sebenarnya memiliki potensi besar untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terbaik, baik di dalam maupun luar negeri, namun kerap terhambat oleh kurangnya pendampingan dalam memenuhi persyaratan seleksi.

"LPDP sangat dibutuhkan pesantren. Kita perlu proaktif membangun keberpihakan. Yang harus disiapkan adalah kemampuan bahasa Inggris, Tes Potensi Akademik (TPA), dan pendampingannya. Bagaimana membuat kemampuan TOEFL mereka meningkat, misalnya dalam enam bulan bisa mencapai target yang dibutuhkan," ujar Nasaruddin Umar dalam siaran pers yang diterima pada Minggu (2/8/2026).

Tiga Fokus Utama Pembinaan

Program yang tengah dirancang oleh Kementerian Agama ini akan menyasar tiga aspek penting yang sering menjadi kendala bagi pelamar beasiswa:

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram
  • Peningkatan kemampuan bahasa Inggris, khususnya skor TOEFL yang menjadi syarat umum pendaftaran.
  • Penguasaan materi Tes Potensi Akademik (TPA) yang mengukur kemampuan verbal, numerik, dan logika.
  • Pendampingan intensif selama proses persiapan, mulai dari penyusunan dokumen hingga simulasi wawancara.

Ketiga aspek tersebut merupakan komponen utama yang dinilai dalam seleksi LPDP, baik untuk jenjang magister maupun doktoral. Tanpa persiapan yang matang, banyak kandidat potensial gagal pada tahap awal seleksi.

Menag meyakini bahwa dengan pembinaan yang terstruktur, para santri dapat mengejar ketertinggalan dan bersaing secara sehat dengan pelamar dari jalur pendidikan lainnya.

Pendekatan Talenta, Bukan Organisasi

Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin Umar juga menegaskan bahwa program ini tidak akan membatasi peserta pada alumni organisasi tertentu. Kesempatan harus terbuka bagi semua santri yang memiliki kemampuan dan potensi unggul. "Orientasi kita itu kepada talenta. Jangan hanya melihat organisasinya, tetapi bagaimana kita menyiapkan orang-orang terbaik. Kalau ekosistemnya dibangun dengan baik, saya yakin peluang mereka lolos LPDP akan semakin besar," kata Nasaruddin.

Langkah ini diharapkan dapat memutus stigma bahwa akses terhadap beasiswa hanya dimiliki kelompok tertentu. Dengan fokus pada talenta, program ini menjadi lebih adil dan kompetitif. Menag juga mengingatkan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam mencetak sumber daya manusia yang berdaya saing, tanpa kehilangan akar keislamannya.

Rancangan Kolaborasi dengan Baznas dan Pihak Lain

Untuk memastikan program berjalan optimal, Nasaruddin Umar meminta jajarannya segera menyusun rancangan yang komprehensif. Ia juga membuka lebar peluang kerja sama dengan berbagai institusi, termasuk Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). "Kita bisa mengajukan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Baznas, untuk mendukung penyediaan tempat, kurikulum, tenaga pendamping, dan kebutuhan lain dalam pelaksanaan program," jelasnya.

Kolaborasi ini dinilai krusial karena kebutuhan pembinaan tidak hanya pada aspek akademik, melainkan juga pada kesiapan fasilitas dan sumber daya manusia. Dengan dukungan Baznas dan mitra lainnya, program pembinaan dapat menjangkau lebih banyak pesantren dan PTKIN di berbagai daerah.

Mendorong Santri Bersaing di Panggung Global

Beasiswa LPDP adalah salah satu skema beasiswa paling kompetitif di Indonesia. Setiap tahunnya, ribuan pelamar dari berbagai latar belakang bersaing untuk mendapatkan kesempatan studi di perguruan tinggi kelas dunia. Bagi santri, hambatan seperti kemampuan bahasa Inggris dan TPA kerap menjadi batu sandungan.

Dengan adanya program pembinaan dari Kemenag, diharapkan angka partisipasi santri dalam seleksi LPDP meningkat secara signifikan. Target peningkatan skor TOEFL dalam enam bulan menjadi indikator nyata bahwa program ini dirancang untuk menghasilkan hasil yang terukur.

Langkah Berikutnya

Menag menargetkan rancangan program dapat segera dieksekusi agar santri tidak kehilangan momentum pendaftaran beasiswa. Dukungan semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, kampus, hingga masyarakat sipil, diperlukan untuk membangun ekosistem yang mendukung.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Jika program ini berjalan sesuai rencana, bukan tidak mungkin akan lahir lebih banyak santri yang sukses menembus kampus-kampus top dunia, membawa nama baik Indonesia di kancah internasional.