Tengah malam, tepatnya pukul 03.00, banyak orang terbangun dari tidurnya dan mendapati diri mereka sulit untuk memejamkan mata kembali. Alih-alih sekadar bangun, pikiran justru mulai memikirkan pekerjaan, utang, atau berbagai kecemasan lain. Umumnya, kondisi ini dianggap sebagai kegagalan menjaga pola hidup sehat atau bahkan dikaitkan dengan hal-hal mistis.
Jejak Tidur Manusia Purba
Padahal, menurut penelusuran sains, fenomena terbangun pada dini hari tersebut bukanlah sebuah kerusakan sistem tubuh. Dilansir dari Science Alert, Minggu (2/7/2023), jauh sebelum hadirnya ponsel pintar dan lampu listrik, hampir tidak ada orang yang tidur secara uninterrupted atau tanpa terputus sepanjang malam.
Ini berarti manusia purba terbiasa tidur dalam dua segmen. Mereka tidur lebih awal seusai matahari terbenam, lalu terjaga di tengah malam untuk beribadah, merenung, atau sekadar berbincang dengan keluarga. Setelah itu, mereka kembali tidur hingga matahari terbit. Pola ini dikenal dengan istilah biphasic sleep atau tidur bifasik.
Catatan sejarah dari berbagai peradaban kuno, termasuk Eropa, Afrika, dan Asia, mendukung gagasan tersebut. Buku-buku harian, literatur, hingga dokumen pengadilan dari abad pertengahan banyak menyebut 'tidur pertama' dan 'tidur kedua' sebagai bagian dari rutinitas malam.
Perubahan di Era Modern
Segalanya berubah ketika lampu listrik diperkenalkan dan revolusi industri mengubah cara manusia beraktivitas. Waktu tidur yang tadinya mengikuti siklus matahari mulai mundur. Orang-orang semakin melewatkan malam dengan penerangan buatan, sehingga pola tidur bergeser menjadi satu blok penuh yang disebut monophasic sleep.
Manusia modern kemudian dididik untuk percaya bahwa tidur yang baik adalah tidur yang nyenyak sepanjang malam tanpa gangguan. Bangun di tengah malam dianggap tidak normal, meskipun sebenarnya respons tubuh ini merupakan peninggalan pola tidur nenek moyang.
Mekanisme Biologis di Balik Bangun Pukul 3 Pagi
Selain faktor historis, ada penjelasan biologis yang mendukung fenomena ini. Pada malam hari, kelenjar pineal melepaskan melatonin untuk membuat tubuh mengantuk. Namun, menjelang dini hari, produksi melatonin mulai menurun dan digantikan oleh kortisol, hormon yang mempersiapkan tubuh untuk bangun. Peralihan ini bisa membangunkan seseorang pada jam yang sama setiap malam.
Di sisi lain, suhu inti tubuh juga berperan. Saat tidur, suhu tubuh menurun, lalu naik kembali menjelang pagi. Kenaikan suhu ini dapat meningkatkan kewaspadaan sehingga muncul keterjagaan. Kombinasi penurunan melatonin dan peningkatan kortisol inilah yang kemudian dirasakan sebagai momen terbangun secara alami.
Bagi sebagian orang, lonjakan kortisol pada pukul 3 pagi juga disertai dengan peningkatan detak jantung dan kewaspadaan. Ini adalah mekanisme evolusioner yang dulu membantu manusia purba mengawasi bahaya saat terjaga di malam hari. Kini, mekanisme yang sama bisa membuat kita terjaga dengan pikiran yang berputar.
Yang Perlu Dipahami
Dengan memahami bahwa terbangun di tengah malam adalah bagian dari ritme sirkadian yang normal, kita dapat mengurangi rasa cemas yang sering memperparah kondisi. Alih-alih menganggapnya sebagai gangguan atau mistis, kita bisa menyikapinya dengan santai.
Jika terbangun pada malam hari, hindari memaksakan tidur. Bangun dan lakukan aktivitas yang menenangkan, seperti membaca buku atau mendengarkan musik lembut. Cahaya lampu yang dibatasi dan tidak mengecek ponsel akan membantu tubuh kembali ke fase tidur.
Penting juga untuk membedakan antara terbangun sesaat dan insomnia. Jika Anda bisa kembali tidur dalam beberapa menit, itu normal. Namun, jika terbangun berulang kali disertai kesulitan tidur yang berkepanjangan dan berdampak pada fungsi siang hari, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga medis.
Para peneliti mengingatkan bahwa selama total durasi tidur masih cukup, terbangun di tengah malam bukanlah masalah. Justru kekhawatiran yang berlebihan terhadap kebangkitan tersebut yang dapat merusak kualitas istirahat.
Kesimpulan
Terbangun jam 3 pagi bukan lagi misteri yang harus ditakuti. Melalui riset dan catatan sejarah, kita tahu bahwa manusia purba pun mengalami hal serupa. Jadi, pada malam berikutnya ketika Anda terbangun di waktu itu, tarik napas dalam-dalam, tenangkan pikiran, dan ingatlah bahwa tubuh Anda sedang menjalankan warisan biologis yang telah ada sejak zaman dulu.



