Video Penggerebekan Rumah Dinas Kalapas Waingapu Ternyata Hoaks Lama
Video Penggerebekan Rumah Dinas Kalapas Waingapu Hoaks

Video yang beredar di media sosial yang diklaim menampilkan penggerebekan Rumah Dinas Kepala Lapas Waingapu, Nusa Tenggara Timur pada Juli 2026, dipastikan sebagai narasi yang keliru. Faktanya, peristiwa tersebut terjadi pada tahun 2024, dan Kepala Lapas yang rumah dinasnya digerebek saat itu sudah tidak lagi bertugas di Lapas Kelas II A Waingapu.

Kronologi Video Viral

Video tersebut dibagikan oleh sejumlah akun Facebook, antara lain akun ini, ini, ini, dan ini. Dalam video, terlihat petugas melakukan penggerebekan dan menemukan seorang perempuan berusia 19 tahun di dalam kamar. Narasi yang menyertainya mengklaim bahwa peristiwa itu terjadi pada Juli 2026, sehingga menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

Namun, setelah ditelusuri, klaim tersebut tidak berdasar. Peristiwa penggerebekan yang terekam dalam video adalah kejadian yang terjadi pada tahun 2024, bukan 2026. Selain itu, Kepala Lapas yang rumah dinasnya digerebek pada saat itu sudah dipindahtugaskan dan tidak lagi menjabat di Lapas Kelas II A Waingapu.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Klarifikasi dan Dampak

Klarifikasi ini penting untuk meluruskan informasi yang salah dan mencegah penyebaran hoaks yang lebih luas. Masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi dari media sosial, terutama yang berkaitan dengan peristiwa sensitif seperti penggerebekan.

Kepala Lapas Waingapu yang baru, melalui pernyataannya, menegaskan bahwa peristiwa dalam video tersebut bukan terjadi di masa kepemimpinannya. "Saya pastikan bahwa video itu bukan peristiwa yang terjadi saat ini. Itu kejadian lama, dan kami sudah melakukan klarifikasi," ujarnya.

Pentingnya Literasi Digital

Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya literasi digital di tengah maraknya penyebaran informasi palsu. Sebelum membagikan video atau berita, masyarakat sebaiknya memverifikasi kebenarannya melalui sumber resmi atau melakukan penelusuran fakta.

Dengan adanya klarifikasi ini, diharapkan masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh narasi-narasi yang menyesatkan. Pihak berwenang juga akan terus memantau peredaran konten hoaks dan mengambil tindakan jika diperlukan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga