Pagar Tinggi Mal dan Bank Jadi Sorotan, Ini Kata Pakar
Pagar Tinggi Mal dan Bank Jadi Sorotan, Ini Kata Pakar

Pemasangan pagar tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan dan gedung bank di berbagai kota besar Indonesia memicu polemik di masyarakat. Mal Kota Kasablanka dan Blok M Plaza di Jakarta, Tunjungan Plaza 1-6 di Surabaya, serta Pakuwon Mall di Solo dan Yogyakarta menjadi sorotan utama. Tak ketinggalan, Menara BNI di Jakarta Pusat juga memasang pagar serupa.

Latar Belakang Pemasangan Pagar

Pemasangan pagar tinggi ini dikaitkan dengan kekhawatiran pelaku bisnis terhadap potensi unjuk rasa yang diprediksi terjadi pada Agustus 2026. Di media sosial, beredar tanggal-tanggal yang diduga menjadi target waktu aksi massa. Namun, beberapa pihak menilai langkah ini justru kontraproduktif karena menimbulkan rasa tidak aman di kalangan pengunjung.

Sejumlah mal dan bank telah mencopot pagar tersebut untuk menghindari polemik yang berkepanjangan. Langkah ini diambil setelah muncul kritik dari berbagai kalangan, termasuk pengamat tata kota dan psikolog.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Efek Psikologis Pagar Tinggi

Menurut pakar psikologi lingkungan, pagar tinggi dapat memicu persepsi negatif. "Pagar tinggi sering diasosiasikan dengan ketakutan dan ancaman, sehingga justru membuat masyarakat merasa tidak aman," ujar Dr. Andini, psikolog dari Universitas Indonesia. Hal ini bertentangan dengan fungsi mal sebagai ruang publik yang nyaman dan terbuka.

Respons Pengelola dan Pemerintah

Beberapa pengelola mal telah merespons dengan mencopot pagar. Misalnya, Manajemen Mal Kota Kasablanka menyatakan bahwa pagar tersebut bersifat sementara dan telah dibongkar untuk menjaga kenyamanan pengunjung. Sementara itu, pemerintah daerah setempat mengimbau agar pelaku usaha tidak berlebihan dalam merespons isu keamanan.

Potensi Dampak pada Bisnis

Pemasangan pagar tinggi tidak hanya menuai kritik, tetapi juga berpotensi menurunkan jumlah pengunjung. Data dari Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menunjukkan bahwa tingkat kunjungan ke mal yang memasang pagar tinggi turun hingga 15 persen dalam dua minggu terakhir. Hal ini tentu berdampak pada pendapatan para tenant.

Di sisi lain, aparat keamanan menegaskan bahwa situasi kondusif dan tidak ada ancaman nyata yang mengharuskan pemasangan pagar. "Kami menjamin keamanan, namun kami juga menghormati keputusan pengelola. Yang penting jangan sampai menimbulkan keresahan publik," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Ade Ary Syam Indradi.

Kesimpulan

Fenomena pagar tinggi di mal dan bank mencerminkan kekhawatiran yang berlebihan terhadap potensi unjuk rasa. Alih-alih memberikan rasa aman, pagar tersebut justru memicu polemik dan efek psikologis negatif. Diperlukan komunikasi yang baik antara pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat agar keamanan tetap terjaga tanpa mengorbankan kenyamanan publik.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga