Media pemerintah Korea Utara (Korut) secara resmi merekomendasikan sup daging anjing sebagai cara untuk mengatasi hawa panas, di tengah gelombang panas ekstrem yang melanda negara tersebut. Rekomendasi ini menghidupkan kembali upaya lama Pyongyang dalam mempromosikan hidangan kontroversial tersebut kepada masyarakatnya.
Rodong Sinmun, surat kabar resmi Partai Buruh Korea yang berkuasa di Korut, seperti dilansir South China Morning Post dan Bangkok Post pada Selasa (4/8/2026), mempublikasikan saran kesehatan pada edisi Minggu (2/8) yang berisi berbagai tips menghadapi gelombang panas. Saran kesehatan tersebut juga mencakup panduan pertolongan pertama untuk penyakit yang disebabkan oleh suhu panas.
Gelombang Panas Ekstrem Melanda Pyongyang
Sejak 27 Juli, Pyongyang mengalami serangkaian malam tropis dengan suhu sepanjang malam melampaui angka 25 derajat Celsius. Otoritas Korut memberlakukan "peringatan cuaca panas menyengat" hingga Minggu (2/8) di sejumlah wilayahnya, di mana suhu tertinggi siang hari diperkirakan mencapai 33-35 derajat Celsius.
Secara terpisah, otoritas Korut juga merilis "peringatan suhu tinggi" untuk area Pyongyang, Provinsi Pyongan Utara, sebagian Provinsi Jagang, dan beberapa bagian area tengah dan selatan negara itu, dengan suhu diperkirakan berkisar antara 35-40 derajat Celsius. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan bagi warga yang rentan.
Rekomendasi Kesehatan dan Makanan Penyejuk
Dalam wawancara dengan dokter senior di Rumah Sakit Umum Pyongyang, surat kabar Rodong Sinmun memperingatkan bahwa "penyakit kardiovaskular, diabetes, dan hipertiroidisme bisa semakin memburuk akibat kelelahan karena cuaca panas dan heatstroke". Pernyataan ini menegaskan risiko serius yang dihadapi warga Korut selama periode panas ekstrem.
Surat kabar pemerintah Korut itu merekomendasikan makanan yang menyejukkan tubuh, seperti semangka, kacang hijau, dan mentimun, serta "makanan-makanan bergizi tinggi" termasuk sup daging anjing, bubur ikan, dan bubur kacang merah. Sup daging anjing, yang secara lokal dikenal sebagai "dangogi guk", telah sejak lama dipromosikan oleh pemerintah Korut sebagai tonik kesehatan tradisional.
Dangogi Guk: Hidangan Kontroversial yang Mahal
Meskipun dipromosikan sebagai makanan sehat, sup daging anjing tergolong mahal dan sulit didapatkan oleh banyak warga biasa di Korut. "Dangogi populer di Korea Utara, tetapi merupakan makanan yang mahal. Makanan ini biasanya dikonsumsi pada hari-hari musim panas yang terik untuk membantu mengatasi kelelahan akibat panas," kata mantan diplomat Korut, Ri Chol, saat berbicara kepada This Week in Asia.
Pyongyang telah mempromosikan dangogi selama beberapa dekade, dengan mendirikan restoran-restoran khusus kelas atas di sepanjang Sungai Taedong dan mendaftarkan resep-resep daerah sebagai warisan budaya. Pemerintah Korut juga menggelar kompetisi memasak tahunan di ibu kotanya demi mengangkat status kuliner daging anjing, serta menggambarkannya sebagai cara patriotik untuk menghadapi cuaca panas.
Kontras dengan Korea Selatan
Praktik ini sangat kontras dengan situasi di Korea Selatan (Korsel), yang telah secara resmi mengesahkan undang-undang penting pada tahun 2024 yang melarang penangkaran, penyembelihan, distribusi, dan penjualan anjing untuk konsumsi manusia. Pelanggaran terhadap undang-undang tersebut dapat dikenai hukuman maksimum tiga tahun penjara atau denda hingga 30 juta Won (Rp 378 juta).
Perbedaan pendekatan antara kedua negara ini menyoroti perbedaan budaya dan kebijakan yang tajam, di mana Korut terus mempertahankan tradisi kuliner yang dianggap kontroversial oleh banyak pihak internasional, sementara Korsel bergerak menuju perlindungan hewan yang lebih ketat.



