Andi Samad (62), seorang korban selamat dari tenggelamnya KM Nurul Salsa, menceritakan detik-detik sebelum kapal yang ditumpanginya karam di perairan Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Ia mengaku sempat diminta awak kapal untuk membantu memperbaiki pompa air yang macet, namun upaya itu tidak cukup menyelamatkan kapal.
Kapal Kehilangan Tenaga Setelah Diterjang Gelombang Tiga Meter
Menurut Andi Samad, peristiwa itu terjadi pada Rabu, 15 Juli 2026, sekitar pukul 05.00 WITA. Kapal diterjang gelombang setinggi lebih dari tiga meter hingga mesin utama mati. Awak kapal kemudian menurunkan jangkar untuk menahan posisi, namun air laut terus masuk ke lambung kapal. Kondisi semakin buruk ketika pompa air bermesin diesel yang digunakan untuk menguras air mengalami kemacetan.
"Saat itu kapal diterjang gelombang setinggi lebih dari tiga meter hingga mesin utama mati di tengah lautan," cerita Andi Samad kepada wartawan di RSUD KH Hayyung Selayar, Rabu (22/7).
Andi Samad Turun Tangan Memperbaiki Pompa
Mengetahui Andi Samad memiliki kemampuan memperbaiki mesin, awak kapal memintanya membantu. Ia pun berhasil menghidupkan mesin kapal, tetapi air yang sudah terlalu banyak membuat pompa tidak sanggup menguras genangan. Mesin kembali mati total.
"Karena air yang telah masuk terlalu banyak sehingga pompa tidak lagi sanggup menguras genangan di dalam lambung kapal. Kemudian mesin kembali mati total," katanya.
Persiapan Menghadapi Kondisi Terburuk
Menyadari kapal semakin kritis, Andi Samad mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk. Ia memberi tahu istrinya, Sitti Amang (55), agar tetap tenang dan bersiap menyelamatkan diri. "Saya berusaha menenangkan istri saya agar tidak panik dan tetap tenang," ujarnya.
Di tengah kepanikan penumpang, Andi Samad memilih tidak langsung melompat ke laut. Ia masih berharap ada kapal yang melintas. Namun, saat melihat badan kapal terus miring ke kiri hingga nyaris terbalik, ia memutuskan untuk bertindak.
Bertahan Hidup dengan Rakit Gabus Selama Empat Hari
Andi Samad meminta istrinya menyiapkan gabus untuk dijadikan rakit darurat. Setelah jadi, mereka melompat ke laut. Saat menjauh, Andi Samad sempat tertimpa patahan balok kayu dari kapal. Namun, ia bersama istri dan tiga penumpang lain—Bau Asseng (23), Diska Yanti (7), dan Sri Ardita (17)—berhasil selamat dari arus hisap saat kapal tenggelam.
Sejak saat itu, mereka bertahan hidup selama empat hari terombang-ambing di tengah lautan sebelum ditemukan tim penyelamat pada hari keempat pascaperistiwa.
Pencarian Korban Difokuskan ke Perairan NTB
Pada Rabu (22/7), tim SAR gabungan melanjutkan pencarian korban KM Nurul Salsa dengan fokus pada wilayah Kepulauan Sabalana hingga perairan Nusa Tenggara Barat (NTB). Kepala Operasi dan Siaga Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengatakan analisis data arus laut menunjukkan potensi objek hanyut bergerak ke arah perairan NTB.
"Berdasarkan analisis data arus laut yang kami gunakan sebagai acuan operasi, terdapat potensi objek hanyut bergerak ke arah perairan Nusa Tenggara Barat," kata Andi Sultan dalam keterangannya, Rabu (22/7).
Pencarian hari kedelapan dibagi menjadi dua sektor. SRU pertama menggunakan KN SAR Pacitan dan RIB menyisir bagian timur Kepulauan Sabalana, terutama pulau tak berpenghuni. SRU kedua dengan KLM Mattoangin menyisir bagian barat Kepulauan Sabalana.



