Kasus penyelundupan 26 kilogram ekstasi oleh kopilot Malaysia Airlines, Mohd Saufi bin Othman (39), memasuki babak baru. Tersangka kini telah diserahkan ke Bareskrim Polri untuk menjalani proses hukum lebih lanjut setelah sebelumnya diamankan petugas Bea Cukai di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang.
Penangkapan Berawal dari Pemeriksaan X-Ray
Mohd Saufi ditangkap pada Selasa (28/7) sekitar pukul 23.30 WIB. Petugas Bea Cukai mencurigai isi bagasi penumpang di Terminal 3 Kedatangan Internasional Bandara Soetta saat pemeriksaan X-ray. Koper yang dibawanya kemudian diperiksa di ruang pemeriksaan kantor Bea Cukai.
Hasilnya, ditemukan 14 bungkus besar dan 1 bungkus paket narkotika jenis sabu. Total barang bukti yang diamankan mencapai 26 kilogram ekstasi, setara dengan 70.114 butir, plus 4 gram sabu yang disembunyikan di dalam koper.
Rute Penerbangan dan Kondisi Tersangka
Kasubdit II Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri Kombes Awaludin Amin mengungkapkan rute penerbangan tersangka. "(Rute terbangnya dari) Kuala Lumpur-Jakarta," kata Awaludin saat dimintai konfirmasi, Senin (3/8). Ia menambahkan bahwa hasil tes urine menunjukkan Saufi positif mengonsumsi narkoba.
"Ya, fakta cek urinenya setelah kami amankan demikian," tuturnya. Saufi diketahui positif tiga jenis narkoba, yaitu sabu, ineks, dan kokain. Temuan ini sekaligus menjawab kekhawatiran publik mengenai kemungkinan pilot menerbangkan pesawat dalam pengaruh narkoba.
Kronologi Penangkapan di Bandara Soetta
Rekaman CCTV yang diunggah Bea Cukai memperlihatkan gerak-gerik Saufi sejak tiba di Terminal 3 Bandara Soetta pada Rabu (29/7). Ia awalnya menuju area pengambilan koper, kemudian melintasi area kedatangan dan menyelesaikan proses Customs Declaration (CD) melalui website All Indonesia.
Setelah itu, Risk Assessment Officer (RAO) menjalurkan Saufi ke jalur khusus awak pesawat (fast track). Namun, petugas Bea Cukai tetap melakukan pengawasan berbasis analisis risiko terhadap pergerakan dan profil pelaku. "Berdasarkan hasil analisis tersebut, petugas mengarahkan pelaku untuk menjalani pemeriksaan lanjutan terhadap barang bawaannya," tulis Bea Cukai dalam akun Instagram resminya.
Dalam rekaman video, Saufi tampak meletakkan koper berwarna silver di meja pemeriksaan. Petugas memintanya membuka koper dan mengeluarkan isi salah satu kantong. Di dalamnya ternyata ekstasi seberat 26 kilogram.
Upaya Tipu Petugas dengan Urine 'Bersih'
Selain narkoba, petugas menemukan satu botol kecil berisi urine yang diduga disiapkan untuk mengelabui tes narkoba mendadak. Humas Bea Cukai Soetta, Satria Yudhatama, menjelaskan bahwa urine tersebut didapat sebelum Saufi mengonsumsi narkotika.
"Di dalam tas tersangka pilot MSO ditemukan botol kecil berisi cairan kuning yang ternyata urine. Dari pengakuan, botol tersebut berisi urine 'bersih' sebelum yang bersangkutan mengkonsumsi narkotika. Jadi jika ada tes urine mendadak oleh maskapai atau otoritas penerbangan, akan digunakan yang di botol tersebut," jelasnya.
Kepala Bea Cukai Soekarno-Hatta, Hengky Tomuan Parlindungan Aritonang, menegaskan bahwa Saufi menerbangkan pesawat dalam kondisi memakai narkoba. "Jadi, pada saat terbang itu sedang memakai (narkoba)," katanya kepada wartawan, Minggu (2/8).
Respons Malaysia Airlines
Maskapai Malaysia Airlines merespons penangkapan kopilotnya dengan menyatakan akan kooperatif terhadap otoritas Indonesia. Dalam pernyataan kepada kantor berita Bernama, maskapai nasional Malaysia itu menegaskan tidak mentolerir segala bentuk pelanggaran dan sedang melakukan peninjauan internal.
"Malaysia Airlines ingin menegaskan kembali bahwa pihaknya tidak mentolerir segala bentuk pelanggaran dan saat ini sedang melakukan peninjauan internal atas masalah tersebut," kata perwakilan maskapai, dilansir Free Malaysia Today, Jumat (31/7). Maskapai menambahkan bahwa keselamatan, keamanan, dan integritas operasional tetap menjadi prioritas utama.
Kasus ini menjadi sorotan karena melibatkan awak pesawat yang seharusnya menjadi garda terdepan keselamatan penerbangan. Penyalahgunaan narkoba di kalangan kru penerbangan berpotensi membahayakan keselamatan penumpang dan menjadi celah penyelundupan lintas negara. Bareskrim Polri kini tengah mendalami jaringan dan asal-usul ekstasi yang dibawa Saufi.



