Evakuasi KMP Mutiara Sentosa 2 Berlangsung 7 Hari, Basarnas Siap Perpanjang
Evakuasi KMP Mutiara Sentosa 2 Berlangsung 7 Hari

Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap korban kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 dipastikan berlangsung selama tujuh hari. Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menegaskan bahwa evaluasi perpanjangan operasi akan dilakukan bersama seluruh unsur terkait setelah periode tersebut berakhir.

Dasar Perpanjangan Operasi SAR

Syafii menjelaskan bahwa keputusan untuk melanjutkan operasi pencarian akan didasarkan pada konfirmasi dari berbagai sumber resmi. "Jika terkonfirmasi dari posko pengaduan, KSOP, atau pemilik kapal bahwa masih ada korban yang belum ditemukan, itu akan menjadi dasar bagi kami untuk melanjutkan operasi," ujarnya, Senin (3/8/2026).

Pernyataan ini disampaikan menyusul proses evakuasi yang berlangsung intensif di perairan sekitar lokasi kejadian. Hingga saat ini, Basarnas terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan tidak ada korban yang tertinggal.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Peran Broadcast Kedaruratan dan Bantuan Kapal Sipil

Aksi penyelamatan cepat yang dilakukan tidak lepas dari peran broadcast kedaruratan yang dikeluarkan oleh Basarnas Command Center. Siaran tersebut langsung direspons oleh tujuh kapal sipil yang berada di sekitar lokasi kejadian. Mereka membantu proses evakuasi di tengah kondisi cuaca buruk yang melanda perairan tersebut.

Respons cepat dari kapal-kapal sipil ini dinilai sangat krusial dalam mempercepat proses evakuasi korban. Tanpa bantuan mereka, upaya penyelamatan kemungkinan besar akan menghadapi kendala yang lebih besar mengingat kondisi cuaca yang tidak bersahabat.

Pengerahan KN SAR Permadi dan Pola Pencarian

Basarnas kemudian mengerahkan kapal negara (KN) SAR Permadi dari Surabaya untuk menyisir lokasi dalam operasi pencarian lanjutan. Kapal ini dikerahkan setelah proses evakuasi awal berhasil dilakukan, dengan tujuan untuk memastikan tidak ada korban yang terlewatkan.

Menurut Syafii, pola pencarian yang digunakan oleh KN SAR Permadi ditentukan berdasarkan aplikasi khusus yang memperhitungkan arah angin, tinggi gelombang, serta kecepatan arus. Pendekatan teknologi ini memungkinkan tim SAR untuk mengoptimalkan area pencarian dan meningkatkan peluang menemukan korban yang belum ditemukan.

Kondisi Fisik Kapal dan Prosedur Keamanan

Mengenai kondisi fisik kapal, Syafii mengaku Basarnas belum bisa menyatakan bahwa kapal tersebut tenggelam sepenuhnya. Pada saat proses evakuasi berlangsung, fisik kapal masih terlihat di permukaan air. Namun, tim SAR belum bisa memasuki area lambung kapal karena kepulan asap yang masih tinggi serta suhu panas yang ekstrem di sekitar lokasi.

Sesuai prosedur keamanan yang ketat, pemeriksaan bagian dalam kapal baru bisa dilakukan jika api sudah 100 persen padam. Hal ini untuk memastikan keselamatan personel SAR yang bertugas di lapangan. Syafii menegaskan bahwa prosedur ini tidak bisa ditawar-tawar demi keamanan semua pihak.

Hilangnya Bangkai Kapal dari Permukaan

Saat KN SAR Permadi kembali ke titik koordinat setelah mengantar korban ke Sumenep, bangkai kapal sudah tidak terlihat lagi di permukaan air. Diduga kuat, bangkai kapal tersebut telah terbawa arus laut. Kondisi ini menambah kompleksitas operasi pencarian, karena tim SAR harus memperhitungkan kemungkinan pergeseran posisi bangkai kapal akibat arus.

Meskipun demikian, Basarnas tetap berkomitmen untuk melanjutkan pencarian hingga batas waktu yang ditentukan. Jika diperlukan, operasi akan diperpanjang sesuai dengan hasil evaluasi bersama dengan seluruh unsur terkait.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga