Busyro hingga Suciwati Desak Pembentukan Tim Pencari Fakta Kasus Andrie Yunus
Tokoh Desak Tim Pencari Fakta Kasus Andrie Yunus Dibentuk

Sembilan Tokoh Nasional Serukan Pembentukan Tim Pencari Fakta Kasus Andrie Yunus

Sebuah seruan kebangsaan penting disampaikan oleh sembilan tokoh terkemuka Indonesia terkait pengusutan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Mereka secara tegas mendesak pembentukan Tim Gabungan Independen Pencari Fakta yang bekerja secara transparan, akuntabel, dan bebas dari segala bentuk intervensi.

Daftar Tokoh yang Menyampaikan Seruan

Seruan ini disampaikan oleh sembilan tokoh yang terdiri dari berbagai latar belakang, sambil memegang bunga mawar putih sebagai simbol perdamaian dan keadilan. Tokoh-tokoh tersebut adalah:

  • Busyro Muqoddas, mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
  • Sukidi, tokoh masyarakat
  • Halida Hatta, putri mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta
  • Karlina Supelli, akademisi dan aktivis
  • Zumrotin K. Susilo, aktivis perempuan
  • Lukman Hakim Saifuddin, mantan Menteri Agama
  • Jacky Manuputty, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI)
  • Suciwati, aktivis HAM dan istri almarhum Munir
  • Gomar Gultom, tokoh gereja

Permintaan Pembentukan Tim Independen

Dalam pernyataannya di kantor KontraS, Jakarta Pusat, pada Selasa (7/4/2026), Jacky Manuputty menegaskan pentingnya pembentukan tim yang melibatkan profesional dari unsur pemerintah dan masyarakat sipil. "Kami menyerukan membentuk Tim Gabungan Independen Pencari Fakta yang bekerja transparan, akuntabel, dan bebas intervensi," ujarnya dengan tegas.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Jacky juga mendesak agar asas kesetaraan di hadapan hukum benar-benar ditegakkan, terutama mengingat terduga pelaku dalam kasus ini adalah anggota militer. "Ketentuan transisional seperti pasal 74 UU TNI agar dicabut supaya asas kesetaraan di hadapan hukum sungguh-sungguh berlaku bagi semua warga," tambahnya, menekankan bahwa hal ini termasuk ketika anggota militer diduga terlibat dalam penyerangan terhadap warga sipil.

Dukungan untuk Perjuangan Generasi Muda

Busyro Muqoddas, dalam kesempatan yang sama, menyatakan dukungan penuhnya terhadap perjuangan anak muda seperti Andrie Yunus. Dia menyerukan perlawanan terhadap impunitas atau kekebalan hukum yang sering kali melindungi pelaku kejahatan. "Kami ingin terus mendukung dan memberikan penguatan pada generasi muda Indonesia untuk tetap berani menjaga kemanusiaan," ungkapnya.

Busyro mengingatkan bahwa impunitas merupakan bentuk kekerasan yang paling sunyi, yang telah coba dilawan oleh KontraS dan banyak gerakan masyarakat sipil di Indonesia. "Tanpa keadilan yang ditegakkan sampai pelaku dan aktor intelektualnya, maka kita telah membiarkan Indonesia kembali hancur," tegasnya, menekankan pentingnya mengungkap aktor intelektual di balik kasus penyiraman air keras ini.

Latar Belakang Kasus Andrie Yunus

Andrie Yunus menjadi korban penyiraman air keras pada Kamis (12/3) malam, sebuah insiden yang mengejutkan publik. Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI kemudian menangkap empat orang yang diduga sebagai pelaku. Keempatnya diketahui merupakan anggota Denma Bais TNI dari matra Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU).

Mayor Jenderal TNI Yusri Nuryanto, Danpuspom TNI, dalam konferensi pers di Mabes TNI, Jakarta, pada Rabu (18/3), mengonfirmasi bahwa keempat tersangka adalah anggota Denma Bais TNI. Kasus ini telah dilimpahkan ke Oditur Militer untuk proses hukum lebih lanjut, menambah kompleksitas dan urgensi dari seruan pembentukan tim pencari fakta independen ini.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga