Koordinator Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang, Hadi Riajaya, mengonfirmasi bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi telah dihentikan sementara operasionalnya. Langkah ini menyusul dugaan keracunan massal yang menimpa 693 murid dan 14 guru SMKN 6 Semarang setelah menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Kemarin (Jumat-31/7) kami sudah melakukan investigasi lintas sektor yang melibatkan Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang, Koordinator Regional Jawa Tengah, Koordinator Wilayah Kota Semarang, Koordinator Kecamatan Semarang, Babinsa, Kepolisian (Polrestabes), dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang. Makanya dapur kami suspend sementara karena buat kami di BGN, keselamatan penerima manfaat jadi yang utama dan prioritas," kata Hadi saat dihubungi detikJateng, Minggu (2/8/2026).
Hadi menambahkan, timnya langsung bergerak memeriksa kondisi para korban. Sebagian dari mereka telah dibawa ke puskesmas dan rumah sakit untuk menjalani perawatan, termasuk rawat inap. "Kami bergerak cek kondisi penerima manfaat yang terdampak, yang dibawa ke Puskesmas sampai yang dilarikan ke Rumah Sakit untuk rawat inap. Sampai saat ini terus kita pantau dan evaluasi termasuk tahapan demi tahapan kronologisnya kami dalami," ujarnya.
Dapur SPPG Disetop demi Keselamatan Penerima Manfaat
SPPG Karangturi merupakan unit layanan di bawah Badan Gizi Nasional (BGN) yang bertugas menyiapkan dan mendistribusikan makanan bergizi gratis ke sekolah-sekolah, termasuk SMKN 6 Semarang. Penghentian sementara dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian setelah muncul laporan gejala keracunan pada Jumat (31/7) pukul 09.40 WIB.
Invest igasi lintas sektor yang dilakukan di SPPG Karangturi melibatkan banyak pihak. Selain KPPG Semarang, hadir perwakilan Koordinator Regional Jawa Tengah, Koordinator Wilayah Kota Semarang, Koordinator Kecamatan Semarang, Babinsa, Polrestabes Semarang, dan Dinkes Kota Semarang. Mereka menelusuri seluruh rantai pengolahan dan distribusi MBG untuk mencari titik dugaan kontaminasi.
Hadi menegaskan, keselamatan penerima manfaat adalah prioritas utama. Karena itu, dapur SPPG Karangturi akan tetap disetop sampai proses investigasi tuntas. "Evaluasi terus kami lakukan, termasuk pendalaman kronologis kejadian," katanya.
Kronologi Pengolahan MBG di SPPG Karangturi
Berdasarkan hasil investigasi sementara, bahan baku berupa bumbu, buah, ayam, tahu, dan sayuran tiba di SPPG Karangturi secara bertahap pada Rabu (29/7) pukul 13.00-17.30 WIB. Proses persiapan dimulai pada pukul 18.55 WIB, meliputi pencucian, pengukusan tahu, hingga marinasi ayam yang dilakukan pada pukul 19.30 WIB selama satu jam.
Pada Kamis (30/7) dini hari, tim pengolahan mulai memasak bumbu rendang, tahu, dan sayuran sejak pukul 00.30 WIB. Setelah melewati uji organoleptik dan gramasi oleh ahli gizi pada pukul 04.00 WIB, makanan dikemas dan didistribusikan dalam dua kloter. Kloter pertama berangkat pukul 06.00 WIB, disusul kloter kedua pada pukul 08.10 WIB.
Tim investigasi juga mencatat bahwa laporan gejala gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare baru diterima SPPG dari pihak sekolah pada Jumat (31/7) pukul 09.40 WIB. Artinya, gejala muncul setelah makanan dikonsumsi pada hari yang sama, meskipun proses pengolahan dilakukan sejak sehari sebelumnya.
- Rabu (29/7) 13.00-17.30 WIB: Bahan baku tiba di SPPG Karangturi.
- Rabu (29/7) 18.55 WIB: Persiapan pencucian dan pengukusan tahu dimulai.
- Rabu (29/7) 19.30 WIB: Marinasi ayam dilakukan selama satu jam.
- Kamis (30/7) 00.30 WIB: Memasak bumbu rendang, tahu, dan sayuran.
- Kamis (30/7) 04.00 WIB: Uji organoleptik dan gramasi oleh ahli gizi.
- Kamis (30/7) 06.00 & 08.10 WIB: Distribusi dua kloter ke sekolah.
- Jumat (31/7) 09.40 WIB: Sekolah melaporkan gejala keracunan ke SPPG.
Korban dan Penanganan Medis
Sebanyak 693 murid dan 14 guru SMKN 6 Semarang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG. Mereka mengalami gejala mual, muntah, dan diare. Sebagian korban dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan, sementara yang lain dilarikan ke rumah sakit hingga harus rawat inap.
Hadi belum memberikan rincian jumlah korban yang masih dirawat inap maupun yang sudah diperbolehkan pulang. Ia menyebut pemantauan terus dilakukan, baik terhadap kondisi korban maupun terhadap proses evaluasi dapur SPPG. "Tahapan demi tahapan kronologisnya kami dalami," ujarnya.
Dengan disetopnya SPPG Karangturi, distribusi MBG untuk SMKN 6 Semarang dan sekolah-sekolah lain di wilayah tersebut untuk sementara menjadi terganggu. BGN dan instansi terkait masih terus melakukan investigasi untuk memastikan penyebab dugaan keracunan ini dan mencegah kejadian serupa terulang.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program prioritas pemerintah untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah. SPPG dibentuk di berbagai daerah sebagai unit penyiapan makanan. Kejadian dugaan keracunan ini menjadi evaluasi serius bagi tata kelola keamanan pangan program MBG.



