BPOM: Obat Herbal untuk Anak Tidak Selalu Aman, Perhatikan Batasan Usia
BPOM: Obat Herbal untuk Anak Tidak Selalu Aman

Obat berbahan alam, produk herbal, atau jamu kerap dipilih oleh sebagian orangtua untuk membantu menjaga kesehatan hingga meredakan sakit pada anak. Hal itu disebabkan bahannya yang alami dianggap lebih aman serta khasiat yang diberikan diyakini mampu mengobati sakit pada anak. Selain itu, bahan alam umumnya mudah didapat dan lebih murah. Namun, tidak semua obat berbahan alami ternyata aman diberikan anak. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebutkan beberapa jenis bahan alam memiliki batasan usia maupun kondisi tertentu untuk dikonsumsi anak sehingga penggunaannya perlu dilakukan secara hati-hati.

Alasan Orangtua Memilih Obat Herbal

Kepercayaan terhadap obat herbal sudah mengakar dalam budaya Indonesia. Banyak orangtua menganggap bahwa bahan alami seperti jahe, kunyit, atau temulawak lebih aman dibandingkan obat kimia. Faktor ekonomi juga turut berperan, di mana harga obat herbal relatif lebih terjangkau. Selain itu, kemudahan memperoleh bahan-bahan tersebut di pasar tradisional atau bahkan di pekarangan rumah membuat orangtua cenderung mengandalkannya sebagai solusi pertama saat anak sakit.

Namun, anggapan bahwa 'alami sama dengan aman' tidak sepenuhnya benar. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tanaman obat tertentu dapat menimbulkan efek samping jika dikonsumsi tanpa aturan yang tepat, terutama pada anak-anak yang sistem metabolisme dan kekebalan tubuhnya masih berkembang.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Peringatan BPOM

BPOM dalam pernyataan resminya mengingatkan bahwa sebagian besar obat herbal belum teruji secara klinis untuk keamanan jangka panjang pada anak. "Beberapa bahan alam seperti daun sirsak, mahkota dewa, atau buah makasar diketahui memiliki efek toksik jika dikonsumsi dalam dosis tinggi atau pada anak di bawah usia tertentu," ujar Kepala BPOM dalam siaran pers. Lebih lanjut, BPOM menyebutkan bahwa produk herbal yang beredar di Indonesia wajib memiliki izin edar, dan orangtua disarankan untuk memeriksa label sebelum memberikan kepada anak.

Data BPOM menunjukkan bahwa selama tahun 2023, terdapat lebih dari 200 laporan efek samping terkait penggunaan obat herbal pada anak, sebagian besar berupa reaksi alergi dan gangguan pencernaan. Angka ini mendorong BPOM untuk terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya konsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan obat herbal untuk anak.

Tips Aman Memberikan Obat Herbal pada Anak

Untuk menghindari risiko, orangtua perlu memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Pastikan produk herbal memiliki izin edar dari BPOM. Cek nomor registrasi pada kemasan.
  • Baca aturan pakai dengan saksama, terutama bagian yang menyebutkan kontraindikasi untuk usia tertentu.
  • Jangan memberikan obat herbal dalam dosis dewasa pada anak. Dosis harus disesuaikan dengan berat badan dan usia.
  • Hindari memberikan jamu yang mengandung bahan kimia obat (BKO) seperti parasetamol atau deksametason yang sering ditambahkan secara ilegal.
  • Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau apoteker, terutama jika anak memiliki kondisi medis khusus atau sedang mengonsumsi obat lain.

Peran Orangtua dalam Penggunaan Obat Herbal

Kesadaran orangtua menjadi kunci utama dalam penggunaan obat herbal yang aman. Edukasi dari tenaga kesehatan dan pengawasan BPOM perlu didukung oleh sikap kritis orangtua terhadap klaim-klaim produk herbal. Jangan mudah percaya pada testimoni atau iklan yang belum terverifikasi. Ingat, yang paling utama adalah keselamatan dan kesehatan anak.

Dengan memahami batasan dan risiko, orangtua tetap dapat memanfaatkan kekayaan alam Indonesia untuk menjaga kesehatan anak, namun dengan cara yang bijaksana dan bertanggung jawab.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga