Video anak-anak muda bertanding bola di atas lahan aspal milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) di Menteng, Jakarta Pusat, viral di media sosial. Mereka bahkan menggelar turnamen "liga aspal" pada akhir pekan dengan lapangan sederhana yang dibuat dari cat putih dan dua gawang di setiap ujung.
Lokasi lapangan itu tepatnya di RW 08 Kelurahan Menteng, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, tidak jauh dari permukiman warga. Turnamen tersebut diatur oleh karang taruna setempat dan berlangsung setiap akhir pekan. Diketahui, jalur lintasan kereta juga berada tidak jauh dari area yang digunakan sebagai lapangan bola itu.
Fenomena Liga Aspal di Lahan Tidur KAI
Liga aspal tersebut menjadi tontonan yang ramai. Beberapa tim dipertandingkan di atas lahan tidur KAI yang sebelumnya tidak terpakai. Aksi para pemain muda ini terekam dalam video dan tersebar luas, memicu beragam tanggapan warganet.
Meski terlihat meriah, penggunaan lahan tersebut rupanya tidak serta-merta mendapatkan izin dari KAI. PT KAI Daop 1 Jakarta melalui Manajer Humasnya, Franoto Wibowo, buka suara terkait aktivitas yang memanfaatkan aset perkeretaapian itu.
KAI: Aktivitas di ROW Tidak Diizinkan
Franoto menjelaskan KAI mendukung aktivitas olahraga masyarakat, termasuk yang dilakukan anak-anak tersebut. Namun, dukungan itu tidak berlaku bila kegiatan digelar di ruang milik jalur kereta api atau right of way (ROW).
"Kami support dan apresiasi dengan aktivitas olahraga yang dilakukan anak-anak tersebut sebagai bagian dari pola hidup sehat serta dalam rangka mengisi liburan sekolah di lahan KAI tersebut," kata Franoto, Kamis (2/7).
Meski begitu, ia menegaskan area ROW merupakan koridor keselamatan yang hanya digunakan untuk kepentingan operasional, pemeliharaan, inspeksi, dan pengembangan prasarana perkeretaapian. Berdasarkan kajian keselamatan, bermain sepak bola di lokasi itu memiliki risiko sangat tinggi bagi pemain, penonton, dan perjalanan kereta.
"Keselamatan merupakan prioritas utama KAI. Area ROW adalah ruang milik jalur kereta api yang hanya diperuntukkan bagi kepentingan operasional perkeretaapian, termasuk pemeliharaan, inspeksi, dan pengembangan prasarana. Berdasarkan hasil kajian keselamatan, aktivitas seperti bermain sepak bola maupun kegiatan masyarakat lainnya di area tersebut memiliki risiko yang sangat tinggi terhadap pemain, penonton, maupun perjalanan kereta api. Karena itu, penggunaannya tidak dapat kami izinkan," ujar Franoto, Sabtu (1/8).
Bahaya dan Dasar Hukum
Aktivitas warga di ROW dapat menimbulkan sejumlah risiko. Berdasarkan penjelasan KAI, berikut beberapa bahaya yang mengintai:
- Tertemper kereta api yang melintas;
- Tersandung atau terjatuh ke jalur rel;
- Terkena komponen prasarana perkeretaapian;
- Mengganggu konsentrasi petugas operasional yang sedang mengamankan perjalanan kereta.
Selain mengancam keselamatan jiwa, kehadiran masyarakat di area ROW juga dapat menghambat pemeriksaan, pemeliharaan, dan penanganan gangguan prasarana yang sewaktu-waktu harus dilakukan petugas KAI.
Kebijakan ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian. Dalam beleid itu ditegaskan bahwa ruang manfaat jalur kereta api adalah daerah tertutup untuk umum. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Perkeretaapian juga melarang setiap orang memasuki ruang manfaat jalur kereta api, kecuali petugas yang memiliki surat tugas dari penyelenggara prasarana.
Franoto menyayangkan masih ada anggapan di masyarakat yang menganggap lahan di sisi jalur rel sebagai ruang terbuka bebas. Padahal, seluruh kawasan tersebut merupakan bagian dari ruang milik jalur kereta api yang dilindungi peraturan perundang-undangan.
KAI Sediakan RPTRA sebagai Alternatif
Penolakan izin ini bukan berarti KAI anti terhadap kegiatan olahraga. Sebaliknya, KAI mendukung penyediaan ruang publik yang aman. Bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, KAI telah mendukung pemanfaatan ruang di bawah jalan layang lintas kereta menjadi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di sejumlah titik, seperti koridor Stasiun Cikini hingga Stasiun Jayakarta.
"Kami sangat mendukung masyarakat untuk berolahraga dan beraktivitas di ruang publik yang memang telah disiapkan dengan memperhatikan aspek keselamatan. Yang tidak diperbolehkan adalah menggunakan ruang milik jalur kereta api karena kawasan tersebut bukan diperuntukkan sebagai lapangan olahraga ataupun tempat berkumpul masyarakat," tegas Franoto.
KAI Daop 1 Jakarta juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk orang tua, tokoh masyarakat, sekolah, komunitas olahraga, dan pemerintah daerah, untuk meningkatkan kepedulian terhadap keselamatan perkeretaapian. "Kami tidak ingin ada korban jiwa akibat aktivitas di kawasan jalur kereta api. Keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Mari manfaatkan fasilitas olahraga yang telah tersedia di lokasi yang aman dan jadikan budaya keselamatan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari," tutup Franoto.
Pramono Anung Janji Tambah Fasilitas Olahraga
Fenomena liga aspal juga mendapat respons Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Ia mengaku mengikuti fenomena tersebut dan melihat kegembiraan anak-anak yang memanfaatkan aspal untuk bermain bola, meskipun menyadari aspal bukan tempat yang layak untuk sepak bola.
"Terus terang saya mengikuti liga aspal. Karena saya melihat adanya kegembiraan di anak-anak yang memanfaatkan itu, walaupun tentunya yang namanya aspal itu bukan tempat untuk bermain sepakbola," kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (17/7).
Pramono menjelaskan anak-anak terpaksa memanfaatkan jalanan karena keterbatasan fasilitas olahraga di Jakarta. Ia menyebut jumlah penduduk Jakarta mencapai sekitar 11 juta orang, sehingga kebutuhan ruang olahraga menjadi sangat tinggi.
"Tapi karena keterbatasan fasilitas di Jakarta, dengan jumlah penduduk yang sebegini banyak, 11 juta orang," ujarnya.
Pemprov DKI Jakarta berkomitmen menyediakan lebih banyak fasilitas olahraga, meskipun pembangunannya dilakukan bertahap. "Sehingga dengan demikian, pemerintah DKI Jakarta tetap berpikir untuk menyediakan fasilitas olahraga bagi anak-anak, walaupun belum semuanya bisa dilakukan, tetapi beberapa sekarang ini kita bangunkan kembali," tutur Pramono.



