Orangtua Dilarang Bilang Tidak Punya Uang ke Anak, Ini Kata Psikolog
Orangtua Dilarang Bilang Tak Punya Uang ke Anak

Selasa (28/7/2026), sebuah unggahan di media sosial Instagram menyoroti kebiasaan orangtua yang langsung menjawab "tidak punya uang" ketika anak meminta sesuatu. Unggahan tersebut mengingatkan bahwa kalimat yang disampaikan orangtua hari ini dapat menjadi suara yang terus terdengar di kepala anak selama puluhan tahun.

Akun @the********* menuliskan narasi yang kemudian viral dan banyak dibagikan warganet. Dalam unggahannya tertulis, "STOP BILANG 'TAK PUNYA UANG' KE ANAK. Kalimat yang kamu ucapkan hari ini bisa menjadi suara di kepala anak selama puluhan tahun. Banyak orang tua ingin anaknya sukses secara finansial. Tapi sedikit yang sadar bahwa semuanya dimulai dari percakapan sederhana di rumah."

Komentar Psikolog: Ada Dasar Psikologis

Psikolog dari Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, menilai pernyataan dalam unggahan tersebut memiliki dasar yang kuat secara psikologis. Komunikasi antara orangtua dan anak tentang uang berperan penting dalam membentuk keyakinan dan pola pikir finansial anak. Ketika orangtua sering merespons permintaan dengan kalimat "tidak punya uang", anak dapat menangkap pesan bahwa uang adalah sumber masalah atau sesuatu yang membuat orangtua sedih.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Anak-anak cenderung mempercayai apa yang dikatakan orangtua, terutama pada usia-usia awal perkembangan. Respons yang diulang-ulang dapat memicu rasa cemas, takut, atau bahkan rendah diri pada anak. Anak pun bisa menginternalisasi perasaan kekurangan meskipun kondisi keuangan keluarga sebenarnya tidak selalu buruk.

Dampak Jangka Panjang pada Pola Pikir Keuangan

Kalimat yang diucapkan berulang kali tanpa penjelasan dapat menanamkan pola pikir kelangkaan atau scarcity mindset. Anak yang tumbuh dengan pola pikir ini cenderung melihat uang sebagai sesuatu yang selalu kurang dan sulit didapat. Akibatnya, saat dewasa, mereka mungkin mengalami kesulitan dalam merencanakan keuangan, menabung, atau mengambil keputusan finansial yang sehat.

Selain itu, respons singkat seperti "tidak punya uang" juga membuat anak tidak memahami alasan di balik penolakan. Padahal, menjelaskan prioritas pengeluaran adalah salah satu cara efektif untuk mengenalkan konsep kebutuhan versus keinginan. Tanpa pemahaman ini, anak akan sulit mengembangkan literasi keuangan yang memadai.

Alternatif Ucapan yang Lebih Membangun

Orangtua sebaiknya tidak langsung menolak permintaan anak dengan kalimat "tidak punya uang". Sebagai gantinya, orangtua dapat menggunakan bahasa yang lebih suportif dan mendidik. Misalnya, "Kita harus menabung dulu untuk membeli barang ini," atau "Kita pilih mana yang lebih penting untuk dibeli sekarang."

Cara semacam ini tidak hanya menolak permintaan, tetapi juga mengajarkan anak tentang proses perencanaan keuangan. Anak pun merasa dihargai karena diajak berdialog, bukan sekadar diberi perintah. Dengan demikian, anak belajar bahwa keterbatasan keuangan bukanlah hal yang menakutkan, melainkan bagian dari kehidupan yang bisa dikelola.

Membangun Komunikasi Keuangan yang Sehat di Rumah

Unggahan yang viral tersebut juga menekankan bahwa banyak orangtua menginginkan anaknya sukses secara finansial, tetapi tidak menyadari bahwa kesuksesan itu dimulai dari percakapan sederhana di rumah. Pengenalan literasi keuangan sebaiknya dimulai dari lingkungan keluarga.

Salah satu langkah awal adalah melibatkan anak dalam aktivitas keuangan sehari-hari. Orangtua dapat mengajak anak berbelanja sambil menjelaskan cara memilih barang, menghitung uang kembalian, serta menyusun daftar belanja. Aktivitas ini memberikan pengalaman nyata yang lebih berkesan dibandingkan sekadar nasihat verbal.

Selain itu, orangtua bisa memperkenalkan konsep menabung sejak dini dengan memberikan celengan atau rekening tabungan anak. Membuat target menabung bersama untuk mainan atau kebutuhan tertentu juga dapat membantu anak memahami nilai kesabaran dan perencanaan.

Langkah Praktis Mengajarkan Nilai Uang pada Anak

Beberapa langkah dapat dilakukan orangtua dalam mengajarkan nilai uang. Pertama, gunakan usia anak sebagai panduan. Anak usia dini lebih mudah memahami konsep "uang untuk membeli sesuatu" daripada konsep abstrak. Kedua, berikan contoh langsung melalui permainan atau situasi nyata. Ketiga, jadikan kesalahan sebagai bahan belajar, bukan sumber kemarahan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Konsistensi adalah kunci. Orangtua yang ingin mengubah cara berkomunikasi tentang uang perlu melakukannya secara bertahap dan berkelanjutan. Tidak perlu sempurna; yang terpenting adalah membangun kebiasaan dialog yang jujur, terbuka, dan penuh empati dalam keluarga.

Respons Warganet dan Kesadaran Publik

Unggahan tersebut mendapat beragam respons dari warganet di Instagram. Sebagian besar mengaku sepakat dengan pesan yang disampaikan. Beberapa warganet juga berbagi pengalaman masa kecil mereka ketika sering mendengar kalimat "tidak punya uang" dari orangtua, dan bagaimana kalimat itu berpengaruh terhadap cara mereka mengelola keuangan saat ini.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kesadaran tentang pentingnya komunikasi keuangan dalam pengasuhan semakin tumbuh. Dengan semakin banyaknya orangtua yang memahami dampak psikologis dari setiap kalimat yang diucapkan, diharapkan generasi mendatang dapat memiliki hubungan yang lebih sehat dengan uang.