Fase Luteal: Perempuan Alami Perubahan Penampilan dan Suasana Hati
Fase Luteal: Perempuan Alami Perubahan Penampilan dan Suasana Hati

Fenomena perubahan penampilan, suasana hati, dan kemampuan berkonsentrasi yang dialami sejumlah perempuan menjelang menstruasi tengah ramai diperbincangkan di media sosial dengan istilah “perubahan penampilan saat fase luteal”. Video di TikTok memperlihatkan seorang perempuan yang merasa penampilannya memburuk pada fase tersebut, dengan keterangan “POV: Perempuan di fase luteal” dan ucapan, “Apakah hanya aku atau aku orang terjelek di dunia?”

Apa Itu Fase Luteal?

Fase luteal adalah periode dalam siklus menstruasi yang terjadi setelah ovulasi dan sebelum menstruasi dimulai. Pada fase ini, tubuh memproduksi progesteron dalam jumlah tinggi untuk mempersiapkan kemungkinan kehamilan. Jika tidak terjadi pembuahan, kadar hormon menurun, memicu datangnya menstruasi.

Menurut dr. Dinda Dwarawati, Sp.OG, fase luteal umumnya berlangsung sekitar 14 hari, tetapi dapat bervariasi pada setiap perempuan. “Perubahan yang dirasakan seperti munculnya jerawat, kulit berminyak, perut kembung, dan perubahan suasana hati adalah hal yang umum terjadi akibat fluktuasi hormon,” jelasnya dalam wawancara dengan Kompas.com.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Gejala Umum Fase Luteal

Gejala yang sering dilaporkan meliputi perubahan fisik seperti payudara terasa nyeri, kembung, dan penambahan berat badan sementara. Selain itu, banyak perempuan mengalami perubahan emosional seperti mudah marah, cemas, atau sedih tanpa sebab yang jelas.

Kemampuan berkonsentrasi juga dapat menurun. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Women's Health menunjukkan bahwa sekitar 40% perempuan melaporkan gangguan konsentrasi selama fase luteal. Angka ini didukung oleh survei internal yang dilakukan oleh aplikasi pelacak menstruasi Clue, yang menemukan bahwa 60% pengguna mengaku lebih sulit fokus pada pekerjaan atau studi.

Dampak pada Kehidupan Sehari-hari

Perubahan ini tidak hanya memengaruhi penampilan fisik, tetapi juga produktivitas dan interaksi sosial. Banyak perempuan merasa kurang percaya diri saat menghadapi rapat penting atau ujian ketika berada di fase luteal. Hal ini dapat memicu stres tambahan, yang justru memperburuk gejala.

Psikolog klinis, Ibu Ratna Sari, M.Psi., menekankan pentingnya pemahaman diri. “Mengenali pola siklus menstruasi membantu perempuan merencanakan aktivitas dan mengelola ekspektasi. Jika gejala sangat mengganggu, konsultasi dengan dokter diperlukan untuk menyingkirkan kondisi seperti PMS atau PMDD,” ujarnya.

Respons Warganet dan Edukasi

Video viral di TikTok memicu beragam komentar. Banyak perempuan merasa terwakili, sementara yang lain baru menyadari bahwa pengalaman mereka adalah bagian normal dari siklus hormonal. Tagar seperti #faseLuteal dan #perubahanPenampilan telah ditonton jutaan kali, menunjukkan tingginya minat terhadap topik ini.

Para ahli menyarankan agar perempuan mencatat siklus menstruasi dan gejala yang dialami untuk memahami pola tubuh mereka. Aplikasi pelacak menstruasi dapat membantu, tetapi tidak menggantikan saran medis profesional.

Dengan meningkatnya kesadaran, diharapkan stigma seputar menstruasi berkurang dan perempuan lebih terbuka untuk berbagi pengalaman serta mencari dukungan yang tepat.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga