Harga Bahan Makanan AS Naik 33 Persen, Terbesar dalam 50 Tahun
Harga Bahan Makanan AS Naik 33 Persen, Terbesar dalam 50 Tahun

Harga bahan makanan di Amerika Serikat (AS) mengalami kenaikan sekitar 33 persen sejak awal 2019, menjadikannya lonjakan harga belanja bahan makanan terbesar dalam hampir 50 tahun terakhir. Data resmi pemerintah AS menunjukkan bahwa biaya membeli makanan untuk dikonsumsi di rumah meningkat drastis, dan meskipun laju inflasi mulai melambat, harga-harga tetap bertahan di level tinggi.

Kenaikan Paling Tajam Setelah Pandemi

Kenaikan paling tajam terjadi setelah pandemi Covid-19, ketika gangguan rantai pasok dan lonjakan permintaan mendorong harga melonjak. Namun, yang mengejutkan adalah harga tidak kembali turun meskipun inflasi secara umum sudah mereda. Hal ini membuat beban belanja harian masyarakat AS semakin berat.

Seorang warga Cleveland, Texas, Ada Torres, mengungkapkan keluhannya kepada AP News pada Selasa (4/8/2026). Menurutnya, uang 100 dollar AS kini tidak lagi berarti banyak untuk belanja bahan makanan. "Belanja bahan makanan senilai 100 dollar AS rasanya tidak berarti banyak. Mungkin hanya cukup untuk membawa pulang sekitar tujuh produk dalam kemasan ukuran keluarga, itu pun kalau berhasil menemukan harga yang bagus," ucapnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak pada Daya Beli Masyarakat

Kenaikan harga ini memukul daya beli masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah. Data dari ABC News pada hari yang sama mengonfirmasi bahwa biaya membeli makanan untuk dikonsumsi di rumah naik 33 persen lebih mahal dibandingkan awal 2019. Angka ini menjadi indikator betapa signifikan perubahan harga dalam enam tahun terakhir.

Para ekonom memperkirakan bahwa kombinasi faktor seperti biaya transportasi, energi, dan tenaga kerja yang tinggi turut menyumbang kenaikan harga pangan. Meskipun pemerintah AS telah berupaya mengendalikan inflasi melalui kebijakan moneter, sektor pangan tetap menjadi titik lemah yang sulit ditekan.

Perbandingan dengan Negara Lain

Fenomena ini tidak hanya terjadi di AS. Beberapa negara lain juga mengalami tekanan inflasi pangan, namun tingkat kenaikan di AS tergolong paling tinggi dalam lima dekade terakhir. Hal ini memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis biaya hidup yang berkepanjangan.

Di sisi lain, konsumen mulai mengubah kebiasaan belanja, seperti mencari diskon, membeli merek generik, atau mengurangi pembelian produk non-esensial. Namun, bagi sebagian keluarga, penyesuaian ini tidak cukup untuk mengimbangi lonjakan harga yang terjadi.

Harapan dan Prospek ke Depan

Pemerintah AS berjanji akan terus memantau situasi dan mempertimbangkan kebijakan yang dapat meringankan beban masyarakat. Namun, para analis memperkirakan bahwa harga bahan makanan akan tetap tinggi dalam jangka pendek, mengingat biaya produksi dan distribusi yang masih belum stabil.

Bagi masyarakat, ini menjadi pengingat pentingnya perencanaan keuangan dan adaptasi terhadap perubahan harga. Sementara itu, para pelaku industri pangan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi untuk menekan biaya tanpa mengorbankan kualitas produk.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga