Perbedaan Rakaat Sholat Tarawih: 20 vs 8 Rakaat, Mana yang Benar?
Perbedaan Rakaat Tarawih: 20 vs 8, Mana Benar?

Perbedaan Jumlah Rakaat Sholat Tarawih: 20 vs 8 Rakaat di Indonesia

Perbedaan jumlah rakaat dalam pelaksanaan sholat Tarawih bukanlah fenomena baru di kalangan masyarakat Indonesia selama bulan suci Ramadhan. Sebagian umat Islam melaksanakan Tarawih sebanyak 20 rakaat, sementara yang lain memilih untuk mengerjakan hanya 8 rakaat. Kedua praktik ini umumnya ditutup dengan sholat Witir sebanyak 3 rakaat setiap malamnya.

Praktik yang Sudah Mengakar dan Dasar Dalilnya

Praktik perbedaan jumlah rakaat ini telah berlangsung lama dan sering ditemui di berbagai lingkungan masyarakat, mulai dari masjid-masjid besar hingga mushala di perkampungan. Pertanyaan yang kerap muncul adalah, apakah kedua cara ini sama-sama dibenarkan dalam ajaran Islam? Apa dasar dalil yang mendukung masing-masing pilihan tersebut?

Menjawab hal ini, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, Arsad Hidayat, memberikan penjelasan mendetail. Beliau menyatakan bahwa perbedaan jumlah rakaat sholat Tarawih ini berakar dari praktik yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan perkembangan lebih lanjut pada masa para sahabat.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Arsad Hidayat menegaskan bahwa baik sholat Tarawih 20 rakaat maupun 8 rakaat memiliki landasan yang kuat dalam sejarah Islam. Praktik Nabi Muhammad SAW menunjukkan variasi dalam pelaksanaan, yang kemudian diikuti dan dikembangkan oleh para sahabat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat pada masanya.

Perkembangan ini menyebabkan munculnya dua tradisi utama yang masih bertahan hingga sekarang. Penting untuk dipahami bahwa perbedaan ini bukanlah hal yang kontradiktif, melainkan mencerminkan keragaman dalam penerapan ibadah yang tetap berpegang pada prinsip-prinsip dasar syariat.

Kementerian Agama melalui penjelasan ini ingin menekankan bahwa umat Islam tidak perlu memperdebatkan atau mempertentangkan kedua cara tersebut. Yang terpenting adalah niat yang tulus dan pelaksanaan yang khusyuk, sesuai dengan kemampuan dan keyakinan masing-masing individu.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, keberagaman praktik ibadah seperti ini justru memperkaya khazanah keislaman nasional. Masyarakat diharapkan dapat saling menghormati perbedaan tersebut sambil tetap menjaga persatuan dan kesatuan di bulan yang penuh berkah ini.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga