Kapolda Sumsel Resmikan Bank Sampah Mobile Polres Lahat, Warga Bisa Nabung Sampah Jadi Rupiah
Kapolda Sumsel Resmikan Bank Sampah Mobile Polres Lahat

Kapolda Sumsel, Irjen Sandi Nugroho, meresmikan inovasi bank sampah mobile yang diinisiasi Polres Lahat. Sandi mengatakan inovasi tersebut merupakan implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan solusi nyata bagi warga dalam mengelola sampah sekaligus meningkatkan perekonomian.

Peresmian Bank Sampah Mobile

Sandi meresmikan bank sampah mobil itu saat kunjungan kerja ke Lahat pada Minggu, 17 Mei 2026. Program yang digagas oleh Kapolres Lahat, AKBP Novi Ediyanto, ini mengusung konsep pengelolaan sampah terpadu dengan metode 'Angkut-Pilah-Olah'. Ide bank sampah mobile itu muncul dari keinginan Polri untuk hadir memberikan solusi terhadap persoalan lingkungan sekaligus membantu perekonomian warga sehari-hari.

Manfaat bagi Warga

AKBP Novi menyebut bank sampah tersebut dapat dimanfaatkan warga untuk menambah penghasilan. Melalui sistem jemput bola, warga bisa langsung menabung sampah dan mengonversinya menjadi rupiah. Ke depan, Polres Lahat sedang menyiapkan sistem agar saldo tabungan bisa langsung ditukarkan dengan kebutuhan pokok atau sembako.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Bank sampah mobile dirancang secara profesional dan transparan. Sampah rumah tangga yang telah dipilah oleh warga ditimbang oleh petugas. Hasil timbangan tersebut dikonversi menjadi nilai uang dan langsung dicatatkan ke dalam buku tabungan bank sampah mobile Polres Lahat. Sistem pencairannya fleksibel, nasabah dapat mencairkan tabungan secara tunai, menyimpan untuk investasi jangka panjang, atau memindahkan melalui sistem pembayaran digital.

Pengolahan Sampah Terintegrasi

Nilai lebih dari inovasi Polres Lahat ini terletak pada sistem pengolahan sampahnya yang terintegrasi dengan program prioritas pemerintah pusat. Sampah organik yang terkumpul dimanfaatkan sebagai media budidaya maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF). Maggot bernutrisi tinggi ini kemudian diolah menjadi pakan alternatif untuk budidaya ikan lele.

Pengolahan sampah organik ini sengaja diintegrasikan dengan sektor ketahanan pangan. Hasil panen ikan lele dari budidaya maggot ini nantinya diproyeksikan untuk menyuplai kebutuhan pangan lokal, mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ini adalah langkah nyata di daerah untuk mendukung visi Asta Cita pemerintah pusat.

Penanganan sampah anorganik dilakukan lewat pengemasan ulang secara rapi untuk dikirimkan ke sektor industri agar dapat didaur ulang. AKBP Novi berharap edukasi dan fasilitas yang berkelanjutan membuat masyarakat lebih sadar terhadap kelestarian lingkungan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga