Khotbah Id di PP Muhammadiyah: Umat Diajak Hindari Boros dan Perkuat Berbagi Pangan
Khotbah Id Muhammadiyah: Hindari Boros, Perbanyak Berbagi

Pesan Kuat dari Khotbah Idul Fitri di PP Muhammadiyah: Syukur Pangan dengan Tidak Boros dan Suka Berbagi

Dalam rangkaian perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah, Khotbah Salat Idul Fitri yang diselenggarakan di Kantor Pusat Muhammadiyah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat, 20 Maret 2026, menyampaikan pesan mendalam terkait isu ketahanan pangan di tengah ancaman krisis global. Umat Islam diingatkan untuk menghindari perilaku boros dalam mengelola makanan dan meningkatkan kepedulian dengan berbagi kepada sesama yang membutuhkan.

Idul Fitri sebagai Momentum Syukur atas Nikmat Pangan

Tajdid PWM DKI Jakarta, Izza Rohman, dalam khotbahnya menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar momen kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa, tetapi juga waktu yang tepat untuk memperkuat rasa syukur, termasuk atas nikmat pangan yang sering kali dianggap remeh. "Janganlah memandang kecil nikmat makanan. Gagal mensyukuri nikmat adalah awal dari kehilangannya," ujar Izza, mengingatkan betapa pentingnya menghargai setiap butir nasi dan suap makanan yang kita terima.

Ia menggarisbawahi bahwa dunia saat ini sedang menghadapi ancaman serius berupa krisis pangan. Lembaga-lembaga internasional telah memperingatkan potensi peningkatan kelaparan global, yang diperparah oleh gangguan rantai pasok akibat konflik dan ketegangan geopolitik. Kondisi ini menjadikan sikap boros terhadap makanan sebagai tindakan yang tidak bijaksana dan perlu segera diubah.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Data Mencengangkan: Satu Miliar Ton Makanan Terbuang Setiap Tahun

Dalam paparannya, Izza menyebutkan data yang memprihatinkan: lebih dari 30 persen makanan di dunia tidak termakan oleh manusia. Sekitar seperlima makanan terbuang pada tahap konsumsi, sementara sisanya hilang dalam proses produksi dan distribusi. "Laporan menyebutkan satu miliar ton makanan terbuang setiap tahun. Bahkan, satu miliar porsi makanan terbuang setiap harinya," katanya dengan nada prihatin.

Di sisi lain, ratusan juta penduduk dunia masih bergulat dengan kelaparan dan ketidakamanan pangan. Ironi ini, menurut Izza, harus disikapi dengan perubahan perilaku yang konkret, terutama di kalangan umat Islam. Bersyukur atas nikmat pangan berarti tidak membuangnya secara percuma dan tidak menghambur-hamburkannya begitu saja.

Ajakan Konkret: Hindari Boros dan Perbanyak Berbagi

Izza mengajak umat untuk mensyukuri nikmat pangan dengan tindakan nyata, seperti tidak menyia-nyiakan makanan dan menghindari perilaku boros, terlebih dalam momentum Idul Fitri yang identik dengan hidangan berlimpah. Pesan ini tidak hanya relevan untuk perayaan hari raya, tetapi juga dalam konteks lebih luas, termasuk ketika makan bergizi digalakkan di dunia pendidikan dan masa depan ketahanan pangan negeri dibayangi krisis global.

Selain itu, umat didorong untuk memanfaatkan makanan sebagai sarana kebaikan, dengan memperkuat ibadah dan membantu sesama yang membutuhkan. "Bersyukur berarti mau berbagi. Tidak kikir untuk menyedekahkan kepada sesama, terutama mereka yang kurang sejahtera," tegas Izza. Ia juga mengingatkan pentingnya merawat makanan agar tidak cepat rusak serta menghargai seluruh pihak dalam rantai pangan, dari petani hingga penyaji makanan.

Pesan Tambahan dari Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi dan Bisnis

Dalam kesempatan yang sama, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Ekonomi dan Bisnis, Muhadjir Effendy, menyebut Idul Fitri sebagai momentum untuk 'mengisi ulang' kondisi spiritual dan mental. "Ini kesempatan kita untuk recharging, memperbaiki diri, dan menatap masa depan yang lebih baik," kata Muhadjir.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan penetapan hari raya. Menurutnya, perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar dan tidak perlu diperdebatkan secara berlebihan. "Baik yang lebaran hari ini maupun besok, semuanya taat. Ini bukan soal siapa yang paling benar," ujarnya, mengajak umat untuk fokus pada esensi kebersamaan dan kebaikan.

Dengan pesan-pesan ini, Khotbah Idul Fitri di PP Muhammadiyah tidak hanya menjadi pengingat spiritual, tetapi juga seruan aksi nyata untuk menghadapi tantangan ketahanan pangan global dengan sikap syukur, hemat, dan kepedulian sosial.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga