Indeks Kerukunan Umat Beragama Tertinggi Sepanjang Sejarah RI
Indeks Kerukunan Umat Beragama Tertinggi dalam Sejarah RI

Malam itu, kawasan Monas di Jakarta Pusat menjadi tempat digelarnya Zikir dan Doa Kebangsaan. Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar hadir dan menyampaikan pidato di hadapan para peserta. Dalam pidato tersebut, Menag menyampaikan kabar mengenai indeks kerukunan umat beragama di Indonesia yang meningkat. Indeks tersebut tercatat 77,89 pada tahun 2025, naik dari 76,47 pada tahun 2024.

Menag Nasaruddin menyebut capaian itu bukan hal yang tiba-tiba. Menurutnya, angka itu adalah buah dari ikhtiar panjang dalam merawat kerukunan yang dilakukan bersama oleh pemerintah, tokoh agama, serta seluruh elemen masyarakat. Lebih dari itu, ia menegaskan bahwa 77,89 menjadi angka tertinggi sejak Indonesia merdeka.

Kenaikan 1,42 poin dari tahun sebelumnya menunjukkan bahwa indeks kerukunan terus bergerak ke arah yang positif. Nasaruddin menuturkan, kerja sama antara pemerintah dan para tokoh agama menjadi kunci utama dalam menjaga tren peningkatan tersebut.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Ikhtiar kita di dalam merawat kerukunan juga membuahkan hasil yang membanggakan. Indeks kerukunan umat beragama meningkat dari 76,47 pada tahun 2024, menjadi 77,89 pada tahun 2025. Tertinggi semenjak negeri ini berdiri, Bapak Ibu sekalian," ungkap Nasaruddin dalam pidatonya.

Pernyataan itu disampaikan di tengah suasana kebersamaan pada acara Zikir dan Doa Kebangsaan. Acara yang berlangsung pada Sabtu malam itu menjadi sarana bagi para hadirin untuk memanjatkan doa demi keselamatan dan kemajuan bangsa. Di akhir pidatonya, Menag juga memberikan apresiasi kepada tokoh agama yang selama ini konsisten membina umat.

Zikir dan Doa Kebangsaan merupakan momentum untuk memperkuat spiritualitas kebangsaan. Dalam kesempatan itu, para hadirin diajak merenungkan kembali arti persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kehadiran Menag di tengah acara ini juga menjadi simbol pentingnya dukungan pemerintah terhadap kehidupan beragama yang damai.

Melampaui Target Rencana Pembangunan

Nasaruddin menuturkan, capaian indeks kerukunan 2025 tidak hanya sekadar angka, tetapi juga melampaui target yang dicanangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Target RPJM untuk 2025 ditetapkan sebesar 76,47, sehingga capaian 77,89 berada di atas target tersebut. Dengan selisih 1,42 poin terhadap target 2025, realisasi tahun ini bahkan sudah mendekati target akhir RPJM 2029 yang sebesar 78,25. Jarak menuju target 2029 kini hanya tersisa 0,36 poin.

"Capaian ini juga melampaui target RPJM tahun 2025 sebesar 76,47 persen, dan telah mendekati target akhir tahun 2029 sebanyak 78,25. Tidak hanya itu, indeks kesalehan umat beragama juga meningkat menjadi 84,20 pada tahun 2025 ini," jelas Nasaruddin.

Indeks Kesalehan Juga Meningkat

Selain indeks kerukunan, Nasaruddin juga mengumumkan kenaikan indeks kesalehan umat beragama yang mencapai 84,20 pada tahun 2025. Indeks kesalehan ini menjadi ukuran tingkat ketaatan umat dalam menjalankan ibadah menurut agamanya masing-masing. Menag memandang bahwa kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya kerukunan beragama.

Menurut Nasaruddin, kerukunan dan kesalehan adalah dua hal yang saling berkaitan. Masyarakat yang taat beribadah dan hidup rukun dalam perbedaan menciptakan suasana sosial yang damai. Kondisi seperti ini diyakini dapat memperkuat persatuan bangsa dan menjadi fondasi bagi pembangunan nasional. Karena itu, pencapaian indeks kerukunan dan kesalehan harus dirawat secara berkelanjutan.

Kerukunan yang terjaga dengan baik akan memudahkan pembangunan di berbagai sektor. Ketika masyarakat hidup tenang dan saling menghormati, energi bangsa dapat difokuskan untuk kemajuan ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan sosial. Dengan demikian, investasi dalam menjaga kerukunan dipandang sebagai langkah strategis bagi stabilitas nasional.

Apresiasi untuk Tokoh Agama

Menag tidak lupa menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah berjasa menjaga kerukunan. Secara khusus, ia mengapresiasi para tokoh agama yang terus membina umat di tengah keberagaman. Menurutnya, peran tokoh agama sangat penting dalam menjaga stabilitas kehidupan beragama di Indonesia.

"Secara khusus, kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh tokoh agama yang terus konsisten dalam membina umat hingga kerukunan bangsa tetap terawat. Ini penting karena kerukunan adalah modal dasar pembangunan," imbuh Nasaruddin.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Menag berharap capaian indeks kerukunan dan kesalehan ini dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang. Ia mengajak semua pihak untuk tidak berhenti merawat kerukunan, karena hal itu merupakan kunci bagi Indonesia untuk terus maju sebagai bangsa yang besar dan beragam. Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas pada akhirnya menjadi pengingat bahwa kebersamaan dalam keberagaman adalah anugerah yang harus dijaga bersama.