700 KK di Tigaraksa Alami Krisis Air Bersih Akibat Kemarau Ekstrem
Krisis Air Bersih: 700 KK di Tigaraksa Terdampak Kemarau

Sebanyak 700 kepala keluarga (KK) di Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, mengalami krisis air bersih akibat kekeringan yang dipicu musim kemarau ekstrem. Kondisi ini telah berlangsung selama sekitar dua bulan, memaksa warga untuk mengantre bantuan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang.

Warga Mengantre Bantuan Air Bersih

Pantauan CNN Indonesia di Desa Pasir Bolang, Kecamatan Tigaraksa, menunjukkan puluhan warga mengantre untuk mendapatkan bantuan air bersih. Mayoritas yang datang adalah ibu rumah tangga dengan membawa galon dan berbagai wadah penampung air. Salah seorang warga, Ayi Fatimah, mengungkapkan bahwa sumur gali yang menjadi sumber air warga mulai mengering, sehingga debit air terus menurun sejak musim kemarau melanda.

"Udah dua bulan kekeringan, sebenernya air ada cuman kecil keluarnya dikit, kalau misalkan hujan kan airnya banyak, soalnya airnya dari sumur gali jadinya kecil," kata Ayi Fatimah, Selasa (4/8). Selama dua bulan terakhir, warga baru sekali menerima bantuan air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka terpaksa membeli air galon, terutama untuk keperluan memasak dan minum.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak Ekonomi dan Kebutuhan Harian

"Beli air galon, sehari 3 sampai 4 galon, harganya 15 sampai 20 ribu sehari tergantung abis airnya, itu buat masak sama minum, MCK," jelas Ayi. Pengeluaran tambahan ini menjadi beban bagi warga yang umumnya berprofesi sebagai buruh atau petani. Kondisi ini diperparah dengan belum adanya kepastian kapan hujan akan turun.

Kapolsek Tigaraksa AKP I Made Artana mengatakan bahwa sedikitnya lima desa dan kelurahan di wilayah Kecamatan Tigaraksa terdampak kekeringan, di antaranya Desa Kadu Agung, Margasari, Pasir Bolang, Pasir Nangka, dan Cileles. Akibatnya, sekitar 700 kepala keluarga membutuhkan bantuan air bersih.

Prediksi Kemarau hingga Oktober 2026

"Untuk di Kecamatan Tigaraksa sendiri total ada lima desa dan kelurahan yang terdampak, dengan jumlah KK sekitar 700 KK yang perlu bantuan," kata Made. Ia memprediksi musim kemarau ekstrem masih berpotensi berlangsung hingga Oktober 2026, sehingga kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah diperkirakan masih akan meningkat.

"Karena memang dampak dari musim kemarau panjang, makanya kami melakukan pendataan warga yang terdampak," jelasnya. BPBD Kabupaten Tangerang terus melakukan pendistribusian air bersih secara bertahap, namun keterbatasan armada dan sumber air menjadi kendala utama.

Upaya Penanganan dan Imbauan

Pihak kepolisian bersama BPBD mengimbau warga untuk menggunakan air secara bijak dan melaporkan jika membutuhkan bantuan. Masyarakat juga diingatkan untuk menjaga kebersihan wadah penampung air agar terhindar dari penyakit. Sementara itu, pemerintah daerah berkoordinasi dengan dinas terkait untuk mencari solusi jangka panjang, seperti pembuatan sumur bor atau penyaluran air dari wilayah lain.

Krisis air bersih ini menjadi peringatan akan dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Warga berharap pemerintah dapat segera memberikan solusi permanen agar mereka tidak terus bergantung pada bantuan air bersih yang datangnya tidak menentu.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga