Perjalanan Lebih dari Sekadar Transportasi
Perjalanan dari Bogor menuju Sukabumi kini tidak harus diwarnai kemacetan di jalan raya. Kereta Api Pangrango menawarkan alternatif yang lebih santai: duduk tenang sambil menyaksikan perubahan lanskap dari kawasan perkotaan, lembah, perbukitan, hingga persawahan. Tak lama setelah meninggalkan Stasiun Bogor Paledang, pemandangan mulai berganti. Jalur rel membentang melewati lembah Sungai Cisadane menuju Stasiun Maseng. Di beberapa titik, penumpang dapat melihat Gunung Salak dan Gunung Pangrango, terutama saat kereta mendekati Stasiun Cigombong.
Selepas Sukabumi, suasana kembali berubah. Kereta memasuki kawasan pedesaan dengan hamparan sawah dan perbukitan khas Sukabumi hingga Cianjur. Perjalanan ini menjadi cara menikmati sisi lain Jawa Barat tanpa harus mengemudi—dari balik jendela, panorama terus berganti sepanjang perjalanan.
Jalur Rel Lebih dari Seabad
Jalur Bogor–Sukabumi–Cianjur merupakan salah satu jalur kereta api tertua di Jawa Barat. Dibangun oleh perusahaan kereta api negara Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), pada paruh kedua abad ke-19. Pembangunan dilakukan bertahap: jalur Buitenzorg (Bogor) ke Cicurug sepanjang 27 kilometer dibuka pada 5 Oktober 1881. Jalur Cicurug–Sukabumi sepanjang 31 kilometer mulai beroperasi pada 21 Maret 1882, dan akhirnya seluruh jalur Bogor–Sukabumi–Cianjur beroperasi penuh pada 10 Mei 1883.
Pada masa kolonial, jalur ini digunakan untuk mengangkut hasil perkebunan seperti teh, kopi, kina, karet, dan tebu dari pedalaman Jawa Barat menuju Batavia. Kini, jalur tersebut menjadi bagian mobilitas masyarakat sekaligus menawarkan pengalaman wisata. Salah satu daya tariknya adalah Terowongan Lampegan sepanjang 686 meter di jalur Sukabumi–Cianjur yang beroperasi sejak 1882—salah satu terowongan kereta tertua di Jawa Barat. Saat kereta memasuki terowongan, suasana berubah: pemandangan perbukitan berganti lorong gelap sebelum kembali ke lanskap pedesaan.
Menikmati Perjalanan dengan KA Pangrango
Bagi wisatawan, KA Pangrango melayani perjalanan pulang-pergi dari Stasiun Bogor Paledang ke Stasiun Sukabumi, berhenti di Bogor Paledang, Batutulis, Maseng, Cigombong, Cicurug, Parungkuda, Cibadak, Karangtengah, Cisaat, hingga Sukabumi. Waktu tempuh sekitar dua jam. Kereta ini menyediakan kelas Ekonomi dan Eksekutif. Tarif kelas Ekonomi Rp45.000, kelas Eksekutif Rp80.000, tergantung stasiun tujuan. Tiket bisa dipesan melalui aplikasi Access by KAI, situs resmi, atau loket. Pemesanan awal disarankan untuk akhir pekan dan liburan.
Kini Menggunakan Kereta Ekonomi New Generation
PT Kereta Api Indonesia (KAI) kini mengoperasikan rangkaian Kereta Ekonomi New Generation untuk relasi Bogor–Sukabumi. Perubahan utama pada tata letak tempat duduk: sebelumnya satu kereta menampung 80 penumpang, kini menjadi 72 kursi per kereta—mengurangi jumlah kursi untuk menambah ruang kaki (legroom). Desain kursi dibuat lebih ergonomis agar perjalanan dua jam terasa nyaman. Total kapasitas KA Pangrango kini 460 tempat duduk. Menurut Vice President Public Relations KAI Anne Purba, kereta ini merupakan hasil modifikasi dan perawatan di Balai Yasa Manggarai, bagian dari peremajaan dan modernisasi armada secara mandiri dan berkelanjutan. Tingginya jumlah penumpang menunjukkan KA Pangrango tidak hanya sebagai moda transportasi, tetapi juga pilihan wisata bagi masyarakat menuju Bogor atau Sukabumi.
Pilihan Wisata Tanpa Harus Mengemudi
Bagi sebagian penumpang, perjalanan dengan KA Pangrango adalah bagian dari pengalaman wisata. Banyak yang memanfaatkannya untuk menuju Cicurug, Cisaat, Lido, atau destinasi lainnya di Sukabumi. Anwar, seorang guru di Kecamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, mengaku rutin bolak-balik Sukabumi-Depok. "Lebih tenang, tidak capek menyetir, dan bisa santai menikmati pemandangan. Cocok buat healing tipis-tipis," ujarnya. Ia membandingkan dengan pengalamannya 15 tahun lalu sebelum jalur direvitalisasi: "Dulu itu satu gerbong ada ayam masuk, bawa gabah, dagangan pasar. Kalau hujan kadang ada yang bocor. Sekarang jauh lebih manusiawi dan sangat nyaman."



