Iran dan Venezuela Panas Buntut Komentar yang Merendahkan
Iran dan Venezuela Panas Buntut Komentar Merendahkan

Pernyataan Iran yang Memicu Ketegangan

Iran menolak tunduk dengan tekanan militer Amerika Serikat dan menegaskan negara tersebut bukanlah Venezuela. Namun, Venezuela berang dengan komentar Iran tersebut. Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menepis klaim Amerika Serikat yang menyebut Teheran dapat dipaksa untuk tunduk melalui tekanan militer. Araghchi menegaskan bahwa Iran bukan Venezuela, dan situasi kedua negara sangat berbeda.

Dalam wawancara dengan kantor berita Mehr News Agency, Araghchi membandingkan situasi di Iran dengan situasi di Venezuela, di mana AS memaksakan pergantian rezim melalui penangkapan Presiden Nicolas Maduro dalam operasi militer pada Januari lalu. Araghchi menegaskan bahwa Teheran tidak memiliki sistem kekuasaan tunggal, sehingga langkah menyingkirkan satu pemimpin tidak akan memicu keruntuhan Republik Islam tersebut.

"Ini bukan Venezuela, di mana ketika Anda menangkap satu orang, kemudian semua orang menjadi takut dan mundur," kata Araghchi, merujuk pada model kekuasaan "mosaik" di Iran yang mendiversifikasi proses pengambilan keputusan di bawah kepemimpinan yang terpadu.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Ancaman dan Negosiasi dengan AS

Araghchi juga menceritakan pengalamannya selama perundingan damai dengan AS. Dia mengungkapkan bahwa dirinya dan negosiator Iran lainnya selalu hidup dalam ancaman serangan militer. "Saya bertanya kepada Witkoff, 'Pernahkah Anda berada dalam sebuah pertemuan di mana Anda merasa bahwa sewaktu-waktu seluruh pertemuan itu bisa saja dibom?' Mereka hanya menatap saya dengan tatapan kosong," ucap Araghchi dalam wawancara yang juga ditayangkan oleh media Rusia, RT.

"Saya berkata, 'Pernahkah Anda sedang berbicara di telepon, dan berpikir bahwa, seperti kata orang, Anda bisa saja meledak atau hancur seketika? Pernahkah Anda, misalnya, ketika menelepon untuk menanyakan kondisi keluarga Anda, berpikir dalam hati bahwa ini mungkin terakhir kalinya Anda bisa melakukannya?' Kami mengalami hal-hal semacam itu, namun kami tetap teguh pada pendirian kami," ujarnya.

Araghchi menegaskan bahwa meskipun terus-menerus mendapat ancaman, Iran menolak untuk menyerah. Dia mengungkapkan bahwa AS-lah yang pertama kali menjalin kontak dengan Iran untuk perundingan nuklir tahun lalu, dan terus berkomunikasi secara berkala sejak saat itu. "Menanggapi tuntutan ilegal dan tidak beralasan untuk menghentikan total pengayaan uranium, kami melawan dan tetap teguh. Ketika mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa mencapai tujuan mereka melalui perundingan, mereka memulai perang," sebutnya.

"Anda seharusnya berbicara dengan cara yang berbeda kepada kami. Anda tidak bisa mengancam kami, dan Anda tidak bisa menyuap kami," tegas Araghchi. Ia menambahkan bahwa Washington menawarkan pembangunan pembangkit listrik dan infrastruktur sebagai imbalan atas konsesi tertentu oleh Teheran. "Saya mengatakan tidak ada suap, tidak ada ancaman. Anda hanya bisa mengancam orang yang merasa takut. Ketika kami melangkah maju, dengan kesadaran penuh bahwa apa pun bisa terjadi pada kami kapan saja, Anda tidak bisa menakut-nakuti saya," ucapnya.

Venezuela Protes dan Panggil Dubes Iran

Pemerintah Venezuela memanggil Duta Besar Iran, Ali Chegini, yang merupakan sekutu lama negara tersebut, pada Selasa (28/7) waktu setempat. Pemanggilan itu dimaksudkan untuk memprotes komentar otoritas Iran soal Venezuela yang dianggap "merendahkan dan tidak pantas".

"Duta Besar Republik Islam Iran untuk Venezuela dipanggil ke Kementerian Luar Negeri Venezuela untuk menerima nota protes atas pernyataan yang merendahkan dan tidak pantas, yang ditujukan kepada lembaga serta otoritas Venezuela," kata Kementerian Luar Negeri Venezuela dalam pernyataannya. Otoritas Venezuela tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai pernyataan dari Iran yang dianggap merendahkan dan tidak pantas tersebut. Namun, sebuah video yang beredar online menunjukkan bahwa Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, baru-baru ini mengatakan bahwa Iran "bukanlah Venezuela" dalam konteks negosiasi dengan Amerika Serikat.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Sejarah Hubungan Iran-Venezuela

Kerenggangan hubungan antara Caracas dan Teheran dapat menjadi titik balik bagi kedua negara yang kaya minyak. Selama ini, Venezuela dan Teheran merupakan sekutu setia dan mitra dagang, terutama sejak naiknya Presiden Hugo Chavez ke kekuasaan pada tahun 1999 lalu. Chavez yang mengobarkan semangat anti-imperialis dan memusuhi "imperium Yankee", mendekatkan Venezuela dengan Iran dan mempererat hubungan kedua negara melalui musuh bersama mereka, yakni AS.

Selain kesamaan ideologi, kedua negara telah menjalin berbagai kesepakatan yang mendapat sorotan luas di bidang energi, pertambangan, kesehatan, dan pendidikan selama 30 tahun terakhir. Ketika Venezuela dilanda krisis ekonomi hebat pada tahun 2020, Iran mengirimkan 1,5 juta barel bensin karena Caracas tidak mampu mengolah minyak mentahnya sendiri. Tahun 2025, Teheran mengirimkan lebih dari dua juta dosis vaksin polio dan hepatitis ketika Venezuela kesulitan membeli obat-obatan akibat sanksi AS.

Namun, pemerintahan baru Venezuela -- yang terbentuk setelah AS menggulingkan pemimpin negara itu, Nicolas Maduro, dalam operasi militer pada Januari lalu -- mungkin akan berupaya mengambil hati Washington dengan menerapkan pendekatan yang berbeda terhadap Iran.