HNW Tegaskan Pancasila Kunci Hadapi Berbagai Krisis Domestik dan Global
HNW: Pancasila Kunci Hadapi Krisis Domestik dan Global

HNW Tegaskan Peran Vital Pancasila dalam Menghadapi Krisis Domestik dan Global

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Hidayat Nur Wahid (HNW), menegaskan bahwa Indonesia telah mengalami berbagai macam krisis sepanjang sejarahnya. Mulai dari krisis ekonomi, politik, kepercayaan, ideologi, krisis pusat daerah, hingga krisis pemberontakan seperti komunisme, termasuk tantangan krisis global.

Namun, berkat pengamalan ideologi dan dasar negara Pancasila, bangsa ini selalu berhasil mengatasi setiap krisis dengan baik. Pernyataan ini disampaikan HNW dalam keterangannya pada Senin, 20 April 2026.

Pancasila sebagai Perekat Keberagaman

HNW menekankan bahwa keberadaan Pancasila sebagai dasar dan ideologi bangsa telah menjadikan Indonesia tetap utuh dan berkali-kali luput dari perpecahan. Padahal, Indonesia adalah negara kepulauan dengan keragaman agama, ras, suku bangsa, budaya, dan bahasa yang rentan terhadap perselisihan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Tetapi karena para tokoh bapak bangsa, baik yang religius maupun nasionalis, sepakat untuk mengakui dan menerima Pancasila sebagai ideologi bersama, maka selamatlah Indonesia," ungkap HNW.

Ia menjelaskan bahwa sejak penyusunannya, tokoh-tokoh agama Islam seperti Abdul Kahar Muzakir, H Agus Salim, dan Wachid Hasjim, serta tokoh Kristiani seperti AA Maramis, terlibat langsung dalam Panitia 9 yang menyusun Piagam Jakarta, yang kemudian menjadi Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Kesepakatan Historis untuk Kesatuan Bangsa

Lebih lanjut, HNW menyoroti pengorbanan para tokoh Islam dalam proses finalisasi Pancasila. "Dan demi kesatuan negara dan keselamatan bangsa, para tokoh Islam itu juga rela menghilangkan tujuh kata pada sila pertama dalam Piagam Jakarta, sesuai keberatan masyarakat Indonesia Timur, dan mengubahnya menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa," sambungnya.

Pernyataan ini disampaikan HNW saat menjadi narasumber pada Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara, kerja sama MPR RI dengan Dewan Pimpinan Wilayah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Provinsi Bangka Belitung. Acara berlangsung di Pangkalpinang pada Sabtu, 18 April 2026, dengan tema 'Mengokohkan Ketahanan Nasional dalam Menghadapi Krisis Melalui Nilai-nilai Pancasila'.

Perbandingan dengan Negara Lain yang Runtuh

Menurut HNW, kesepakatan terhadap Pancasila membuat Indonesia mampu menghadapi krisis dari dalam dan luar, berbeda dengan nasib Uni Soviet dan Yugoslavia. Uni Soviet, negara terbesar kedua di dunia pada masanya, hancur dan terpecah menjadi 15 negara pada 1991 akibat krisis ekonomi kronis dan kegagalan reformasi politik.

"Uni Soviet hancur karena ideologi komunisme mereka diimpor dari luar, tidak mengakar di bumi mereka," tegas HNW. Nasib serupa dialami Yugoslavia, yang pecah akibat konflik antaretnis dan nasionalisme kedaerahan, kini digantikan oleh tujuh negara merdeka.

Ketahanan Indonesia di Tengah Krisis Global

Meski krisis akan terus terjadi, termasuk potensi dampak perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, HNW percaya Indonesia akan tetap bertahan. Ia mengajak umat Islam khususnya dan seluruh bangsa Indonesia untuk terus mengawal Pancasila dengan menerapkan semua silanya dalam kehidupan sehari-hari.

"Indonesia adalah negara kepulauan, lebih dari 17.000 pulau, 700 lebih suku bangsa, dan enam agama resmi. Kalau kita tidak mempunyai ideologi yang tumbuh kembang dari Indonesia sendiri, maka kasus Uni Soviet dan Yugoslavia bisa terjadi," ungkap HNW.

Ia menambahkan bahwa kekokohan Indonesia berasal dari ideologi yang menyatukan, yang tumbuh dari dalam dan digali bersama oleh komponen bangsa, termasuk tokoh-tokoh Islam dari berbagai organisasi dan partai.

Kontribusi Tokoh Islam dalam Pancasila

HNW merinci kontribusi tokoh Islam dalam penyusunan Pancasila, seperti dari Muhammadiyah (KH Kahar Muzakir, Ki Bagus Hadi Kusumo, KH Mas Mansur), Nadhlatul Ulama (KH Wahid Hasyim, KH Masykur, KH Hasyim Asy'ari), Persatuan Umat Islam (KH Abdul Halim, KH Anwar Sanusi, Mr Syamsudin), Partai Syarikat Islam (Haji Abi Kusno Cokrosuyoso), dan lainnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Sukses Pancasila dalam mengamankan persatuan Indonesia telah berlangsung lebih dari 80 tahun, menjadikan bangsa ini tahan terhadap beragam masalah. "Apalagi krisis yang sekarang terjadi masih berbentuk naiknya harga BBM, plastik, dan kedelai. Warga Indonesia itu pintar, mereka punya mekanisme untuk mengatasi masalah," kata politisi PKS Dapil Jakarta II tersebut.

Panggilan untuk Partai Islam

HNW menegaskan bahwa partai politik, terutama partai Islam, seharusnya menjadi garda terdepan dalam menghadapi dan mengatasi krisis, dengan menyatukan bangsa melalui Pancasila. "Sejak dulu, partai Islam berada di garda terdepan menyelesaikan permasalahan bangsa supaya keluar dari krisis-krisisnya," sambungnya.

Ia juga mengingatkan kontribusi tokoh Islam dalam sejarah, seperti peran Partai Islam Masyumi dalam mengembalikan bentuk negara Indonesia menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui Mosi Integral Natsir pada 3 April 1950.

"Kalau dahulu tokoh-tokoh Islam berperan aktif memberikan solusi terhadap krisis, sudah sewajarnya bila umat Islam, ormas Islam, hingga partai Islam tidak dipinggirkan, melainkan dipercaya untuk kembali menjadi garda terdepan," pungkas HNW, termasuk dalam menyelesaikan krisis akibat perang di Timur Tengah.