PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) memperkuat perannya dalam transformasi digital layanan publik dengan menyiapkan konektivitas berbasis satelit Low Earth Orbit (LEO) bagi 50 daerah yang masih mengalami keterbatasan sinyal atau belum memiliki akses jaringan telekomunikasi sama sekali. Langkah ini merupakan hasil kerja sama dengan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri untuk memastikan pelayanan administrasi kependudukan tetap berjalan, termasuk di wilayah terpencil.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari strategi memperluas akses layanan digital pemerintah hingga ke daerah yang belum terjangkau infrastruktur telekomunikasi terestrial. Dengan memanfaatkan layanan satelit MangoStar, pemerintah daerah diharapkan dapat mengakses sistem administrasi kependudukan secara lebih stabil tanpa bergantung pada ketersediaan jaringan seluler yang sering kali tidak memadai di wilayah-wilayah tersebut.
Teknologi Satelit LEO sebagai Solusi Konektivitas
Direktur Komersial Telkomsat, Andri Yunianto, menjelaskan bahwa teknologi satelit menjadi solusi strategis untuk menghadirkan konektivitas di daerah yang selama ini masih menghadapi keterbatasan infrastruktur telekomunikasi. "Telkomsat berkomitmen untuk terus mendukung pemerataan konektivitas melalui layanan berbasis satelit, khususnya bagi wilayah yang belum memiliki akses jaringan atau masih mengalami keterbatasan sinyal. Dukungan ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan konektivitas yang dapat mendukung berbagai kebutuhan masyarakat dan layanan pemerintah di seluruh Indonesia," ujar Andri dalam keterangan tertulis pada Selasa (28/7/2026).
Lebih lanjut, Andri menyampaikan bahwa konektivitas satelit LEO diharapkan mampu memberikan akses yang lebih stabil terhadap sistem administrasi kependudukan. Hal ini penting agar pelayanan publik tetap dapat berlangsung, termasuk di daerah yang belum terjangkau jaringan terestrial secara memadai. Satelit LEO dinilai menjadi alternatif penting karena tidak memerlukan pembangunan menara telekomunikasi atau jaringan fiber optik yang membutuhkan waktu dan investasi besar.
Implementasi Awal: Sharing Knowledge dan Pelatihan
Sebagai tahap awal implementasi, Telkomsat dan Ditjen Dukcapil menggelar kegiatan sharing knowledge di Jakarta pada 27 Juli 2026. Kegiatan tersebut diikuti oleh 50 kepala dinas kependudukan dan pencatatan sipil dari kabupaten penerima bantuan konektivitas berbasis satelit. Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pembekalan mengenai layanan MangoStar, mulai dari proses instalasi dan konfigurasi perangkat, tata cara penggunaan layanan, hingga penanganan awal apabila terjadi gangguan pada jaringan satelit.
Lima puluh daerah penerima bantuan tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua. Seluruhnya merupakan daerah yang masih masuk kategori blank spot atau memiliki kualitas sinyal telekomunikasi yang belum memadai. Dengan adanya konektivitas yang lebih merata, layanan administrasi kependudukan seperti perekaman KTP elektronik, pembaruan data penduduk, hingga berbagai layanan Dukcapil lainnya diharapkan dapat diakses masyarakat secara lebih cepat dan berkelanjutan.
Pentingnya Kesiapan SDM Daerah
Sekretaris Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri, Hani Syopiar Rustam, menilai kesiapan sumber daya manusia di daerah menjadi salah satu kunci keberhasilan implementasi teknologi tersebut. Oleh karena itu, pelatihan kepada pemerintah daerah menjadi bagian penting sebelum layanan mulai dioperasikan. "Ketersediaan jaringan komunikasi yang memadai merupakan bagian penting dalam mendukung pelayanan administrasi kependudukan. Melalui kegiatan ini, kami berharap kepala dinas dari daerah penerima bantuan dapat memahami implementasi dan pengoperasian layanan secara menyeluruh, sehingga pemanfaatannya dapat mendukung keberlangsungan pelayanan kepada masyarakat," kata Hani.
Dengan langkah ini, Telkomsat dan Ditjen Dukcapil berharap dapat mempercepat pemerataan akses digital di Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang selama ini terisolasi dari jaringan telekomunikasi. Teknologi satelit LEO diharapkan menjadi pilar penting dalam mewujudkan konektivitas nasional yang inklusif dan mendukung transformasi digital layanan publik.



