Trump Ultimatum Iran dan Houthi usai Dua Kapal Tanker Saudi Diserang
Trump Ultimatum Iran dan Houthi usai Serangan Kapal Tanker Saudi

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras terhadap Iran dan kelompok Houthi menyusul serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Dalam pernyataan di platform Truth Social, Trump menegaskan bahwa jika serangan serupa terulang, Amerika Serikat akan meminta pertanggungjawaban Iran karena dianggap sebagai pendukung utama Houthi.

"Setahun lalu Amerika Serikat menyerang Houthi, dengan sangat kuat, karena campur tangan mereka dalam perdagangan dengan menembaki kapal-kapal. Sejak saat itu, dan selama konflik kami dengan Iran, mereka bertindak sangat bertanggung jawab. Sayangnya, sekarang mereka mulai lagi, menembak dua kapal tanker Arab Saudi tadi malam," tulis Trump di Truth Social.

Ancaman Militer dan Sanksi Baru

Trump menambahkan bahwa ia "sangat kecewa" dengan Houthi karena sebelumnya dianggap bertindak profesional. Ia juga mengancam akan menggunakan aset Iran yang dibekukan AS untuk membayar kerusakan kapal kargo. Namun, mekanisme penggunaan aset tersebut tidak dijelaskan lebih lanjut.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Menanggapi ancaman tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi memperingatkan melalui platform X bahwa penyitaan aset suatu negara untuk klaim yang tidak berkaitan merupakan preseden berbahaya. "Kekacauan yang akan terjadi tidak akan indah ataupun damai," tulisnya pada Jumat (24/7).

Iran Kirim Komandan IRGC ke Yaman

Ancaman Trump muncul bersamaan dengan laporan Reuters yang mengungkap pengiriman diam-diam personel dan perlengkapan militer Iran ke Yaman. Empat sumber yang mengetahui masalah ini, termasuk dua sumber Iran, Menteri Informasi Yaman, dan seorang analis keamanan regional, mengatakan Iran memindahkan personel IRGC dan perlengkapan militer dalam sebuah penerbangan dari Teheran ke Yaman pada 13 Juli.

Dua sumber Iran mengatakan kepada Reuters bahwa antara 10 hingga 21 personel IRGC, termasuk komandan senior, berada dalam penerbangan Mahan Air tersebut. Pesawat itu awalnya menuju Sanaa, namun dialihkan ke Hodeidah setelah bandara diserang oleh pemerintah Yaman yang didukung Saudi.

"Komandan IRGC pergi ke sana untuk mendukung operasi Houthi dan memberikan pelatihan tentang sistem rudal baru," kata salah satu sumber, seraya menambahkan bahwa Iran juga mengirim emas di atas pesawat untuk mendanai kegiatan Houthi.

Houthi Bantah Tuduhan

Kementerian Luar Negeri Iran tidak segera dapat dihubungi untuk dimintai komentar. Teheran berulang kali membantah telah membekali gerakan Houthi dengan kemampuan rudal. Abdel Rahman al-Ahnomi, pejabat media Houthi yang mengaku berada di dalam pesawat, menyebut klaim tersebut sebagai "kebohongan dan fabrikasi," dan menegaskan semua penumpang adalah warga sipil.

Tiga hari setelah penerbangan itu tiba, Reuters melaporkan bahwa Teheran telah meminta Houthi untuk bersiap menutup jalur minyak Laut Merah jika AS menyerang infrastruktur kelistrikan Iran. Pada Senin (20/07), Houthi mengumumkan blokade angkatan laut terhadap Arab Saudi sebagai respons atas pengeboman bandara Sanaa pada 13 Juli, yang mereka klaim dilakukan oleh Saudi.

Ancaman terhadap Jalur Perdagangan Global

Langkah-langkah ini menandai berakhirnya gencatan senjata empat tahun antara Riyadh dan Houthi. Ancaman terhadap jalur perdagangan maritim meningkat pada Kamis ketika Houthi mengumumkan telah menyerang dua kapal tanker minyak Saudi.

Moammar al-Iryani, menteri informasi pemerintah Yaman yang didukung Saudi, mengonfirmasi pengiriman personel dan perlengkapan IRGC dalam wawancara telepon dengan Reuters, mengutip informasi intelijen. "Misi mereka adalah memperkuat kemampuan militer milisi dan mempersiapkan mereka untuk mengancam keamanan maritim internasional di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab," katanya.

Mzahem Alsaloum, analis keamanan dan intelijen, juga mengonfirmasi kedatangan para ahli IRGC dalam penerbangan 13 Juli itu. Menurutnya, sebagian kargo mencakup komponen yang berkaitan dengan rudal jarak pendek dan menengah serta drone, sistem senjata yang sebelumnya digunakan dalam serangan terhadap Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Bantahan Iran

Pada konferensi pers di Teheran pada 20 Juli, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan penerbangan ke Sanaa pada 13 Juli dimaksudkan untuk membawa pulang delegasi Houthi yang menghadiri pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, serta warga Yaman yang mendapat perawatan medis di Iran.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Pada 3 Juli, pesawat itu membawa sekitar 200 orang, termasuk pejabat senior, perempuan, dan anak-anak, ke Iran untuk pemakaman tersebut. Pada 13 Juli, pesawat kembali ke Yaman membawa anggota delegasi tersebut beserta komandan dan penasihat IRGC. Sebelum bisa mendarat di Sanaa, pemerintah yang didukung Saudi menyerang bandara, memaksa pesawat dialihkan ke Hodeidah yang dikuasai Houthi.