Serangan rudal balistik Iran ke Pangkalan Udara Al-Azraq di Yordania diumumkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai operasi yang menargetkan hanggar pemeliharaan jet tempur siluman F-35 milik Amerika Serikat. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Jumat (31/7/2026), IRGC mengklaim bahwa area penempatan pesawat dan fasilitas perawatan di pangkalan tersebut berhasil dihantam, menghancurkan tiga unit F-35 dan merusak tiga unit lainnya secara parah.
IRGC menggambarkan serangan ini sebagai bentuk pembalasan atas gelombang serangan udara AS yang menargetkan dua rumah di area Pulau Qeshm, Iran. Klaim tersebut disampaikan beberapa jam setelah sebuah rudal menghantam sebuah rumah di Pulau Qeshm dan melukai dua orang, di tengah eskalasi militer yang melibatkan kedua negara.
Klaim IRGC: Pangkalan Al-Azraq Menjadi Sasaran Rudal Balistik
Dalam pernyataannya yang dilansir Anadolu Agency, IRGC mengumumkan bahwa pasukannya meluncurkan sejumlah rudal balistik ke Pangkalan Udara Al-Azraq, yang berada di area gurun pasir sebelah timur Yordania. Pangkalan ini dikenal sebagai salah satu markas utama pasukan AS dan koalisi internasional di kawasan Timur Tengah. IRGC menegaskan bahwa serangan tersebut berhasil menghantam hanggar pemeliharaan yang menampung jet-jet tempur siluman F-35 milik AS.
Selain mengklaim tiga pesawat F-35 hancur total, IRGC juga menyebut tiga unit lainnya mengalami kerusakan berat. Tidak hanya itu, mereka mengklaim sejumlah perwira militer serta personel teknis dan pemeliharaan di pangkalan udara itu tewas akibat serangan tersebut. Namun, klaim-klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Latar Belakang: Pembalasan atas Serangan AS di Pulau Qeshm
Serangan IRGC ini disebut-sebut sebagai respons langsung terhadap agresi AS yang menargetkan dua rumah di Pulau Qeshm. Pulau Qeshm terletak di Selat Hormuz, kawasan strategis yang menjadi pusat perhatian militer global. Sebelumnya, sebuah rudal menghantam sebuah rumah di pulau tersebut dan melukai dua orang, di tengah gelombang serangan udara AS terhadap wilayah selatan Iran.
IRGC menyatakan bahwa operasi ke Pangkalan Al-Azraq adalah hak untuk membalas setiap serangan terhadap wilayah Iran. Mereka juga mengisyaratkan bahwa serangan lanjutan bisa terjadi bila AS tidak menghentikan agresinya. Ketegangan ini memperlihatkan siklus pembalasan yang semakin sulit dikendalikan di Timur Tengah.
CENTCOM Membantah Keras Klaim Iran
Komando Pusat Militer AS atau CENTCOM, yang mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah, membantah keras klaim IRGC. Dalam pernyataan tegasnya, CENTCOM menyatakan, "Tidak ada pesawat AS yang hancur atau rusak dalam upaya serangan Iran baru-baru ini." Bantahan ini langsung menepis narasi bahwa pangkalan udara di Yordania kehilangan aset militer akibat rudal balistik Iran.
Menurut CENTCOM, semua ancaman yang masuk telah berhasil dicegat atau gagal mencapai sasaran. Meski demikian, pernyataan tersebut tidak merinci jumlah rudal yang diluncurkan Iran maupun menyebutkan adanya korban jiwa di antara personel militer AS. Sikap ini dinilai sebagai upaya untuk meredam dampak psikologis dari klaim yang disampaikan IRGC.
Pertahanan Udara Yordania Aktif Menembak Jatuh Rudal
Militer Yordania, dalam pernyataan terpisah pada Kamis (30/7), mengumumkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil menembak jatuh lima rudal yang terdeteksi diluncurkan dari wilayah Iran. Insiden ini menjadi yang kelima kalinya terjadi di Yordania dalam empat hari berturut-turut. Keberhasilan intersepsi tersebut memperkuat peran Yordania sebagai penyangga keamanan bagi pangkalan militer asing di kawasan.
Pangkalan Udara Al-Azraq sendiri berada sekitar 100 kilometer dari ibu kota Amman. Pangkalan ini sering digunakan sebagai pusat logistik dan operasi pasukan koalisi pimpinan AS untuk memerangi kelompok bersenjata di Suriah dan Irak. Letaknya yang strategis membuat pangkalan ini menjadi target sensitif dalam konflik AS-Iran.
Eskalasi Konflik AS-Iran yang Semakin Memanas
Ketegangan ini bermula ketika CENTCOM mengumumkan bahwa pasukannya melancarkan serangan terhadap Iran untuk merespons apa yang mereka sebut sebagai upaya serangan Teheran terhadap pasukan AS di Timur Tengah. Gelombang serangan udara AS disebut menyasar sejumlah target di wilayah selatan Iran, termasuk Pulau Qeshm. Iran, melalui IRGC, berulang kali mengancam akan membalas setiap agresi dengan rudal balistik.
Para pengamat militer menilai bahwa serangan rudal balistik ke Pangkalan Al-Azraq, jika benar terjadi, akan menjadi ujian besar bagi sistem pertahanan udara Yordania yang bekerja sama erat dengan AS. Namun, perbedaan narasi antara IRGC dan CENTCOM menyulitkan pihak independen untuk memverifikasi kondisi di lapangan. Sejauh ini, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Yordania mengenai tingkat kerusakan atau korban jiwa di pangkalan tersebut.
Dampak dan Implikasi bagi Stabilitas Kawasan
Klaim IRGC tentang kehancuran tiga F-35 dan kerusakan tiga unit lainnya, jika terbukti, akan menjadi pukulan signifikan bagi kemampuan udara AS di Timur Tengah. Namun, bantahan keras CENTCOM menunjukkan bahwa AS ingin menjaga citra superioritas militernya di hadapan sekutu dan lawan. Insiden ini juga berdampak pada stabilitas kawasan, terutama bagi Yordania yang selama ini menjadi basis penting bagi operasi militer AS.
Meningkatnya frekuensi serangan rudal Iran ke wilayah Yordania menempatkan negara itu di tengah pusaran konflik yang lebih luas antara AS dan Iran. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Kementerian Pertahanan Yordania yang mengonfirmasi klaim IRGC atau bantahan CENTCOM. Situasi di lapangan masih terus dipantau oleh berbagai pihak, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan negara-negara kawasan.



