Kapten kapal kargo asal Bangladesh, Islam (51), mengalami pengalaman mencekam ketika kapalnya terjebak di sekitar Selat Hormuz selama hampir empat bulan akibat eskalasi perang di Timur Tengah. Selama periode tersebut, ia harus menjaga keselamatan 31 awak kapal serta muatan berharga yang diangkutnya.
Tanggung Jawab Besar di Tengah Konflik
Islam memimpin kapal kargo curah Banglar Joyjatra yang disewa oleh perusahaan asal Singapura. Saat perang meletus, ia memikul tanggung jawab besar atas keselamatan seluruh awak kapal dan muatannya. Dalam wawancara telepon dengan AFP dari kediamannya di Cumilla, Bangladesh bagian timur, ia mengungkapkan tekanan yang dialaminya.
"Saya berusaha untuk tetap tenang karena saya bertanggung jawab atas 31 nyawa, kapal senilai 40 juta dollar AS (sekitar Rp 721 miliar), dan kargo berharga 8,2 juta dollar AS (sekitar Rp 147 miliar)," ujar Islam. Pernyataan ini menunjukkan betapa beratnya beban yang dipikulnya selama berada di zona konflik.
Dampak Konflik terhadap Pelayaran Internasional
Konflik bersenjata di Timur Tengah telah menimbulkan trauma berat bagi para pelaut yang melintasi jalur perdagangan internasional. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, dan eskalasi perang membuat pelayaran di kawasan tersebut menjadi sangat berisiko. Banyak kapal yang terjebak atau harus mengubah rute, menyebabkan gangguan pada rantai pasok global.
Kejadian yang dialami Islam menyoroti risiko yang dihadapi pelaut sipil di tengah konflik. Mereka sering kali menjadi korban yang tidak bersalah, terjebak di lokasi berbahaya tanpa kepastian kapan dapat melanjutkan perjalanan atau kembali ke rumah. Pengalaman Islam menjadi contoh nyata bagaimana perang berdampak pada sektor maritim dan kehidupan para pelaut.
Keselamatan Awak dan Muatan Menjadi Prioritas
Selama terjebak, Islam dan awaknya harus menghadapi ketidakpastian yang ekstrem. Meskipun demikian, ia berusaha menjaga moral anak buahnya. "Saya harus tetap tenang agar anak buah saya juga tenang," tambahnya. Keberhasilan menjaga keselamatan 31 awak kapal menjadi prioritas utama, meskipun kondisi di sekitar mereka tidak menentu.
Kapal Banglar Joyjatra membawa muatan berharga yang membutuhkan pengamanan ekstra. Nilai kapal dan muatan yang mencapai miliaran rupiah menambah tekanan bagi Islam untuk memastikan semuanya dalam keadaan baik. Setelah berbulan-bulan terjebak, akhirnya kapal tersebut berhasil keluar dari zona konflik dan Islam dapat kembali ke keluarganya di Bangladesh.
Kisah Islam menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan bagi pelaut sipil di daerah konflik. Organisasi maritim internasional dan negara-negara terkait diharapkan dapat memberikan perhatian lebih terhadap keselamatan pelaut yang menjadi korban perang.



