Pemerintah berkomitmen memperluas penyelenggaraan Sekolah Rakyat dari 166 menjadi 182 titik pada tahun 2026. Rinciannya, 93 Sekolah Rakyat permanen siap beroperasi, 81 Sekolah Rakyat Rintisan tetap, dan 85 Sekolah Rakyat Rintisan baru. Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Kurnia Ramadhana, menyatakan perluasan ini merupakan bagian dari transisi bertahap dari model rintisan menuju satuan pendidikan permanen yang lebih berkelanjutan.
Penambahan Jumlah Sekolah dan Siswa
"Pada Tahun Ajaran 2026/2027, penyelenggaraan Sekolah Rakyat diperluas dari 166 menjadi 182 sekolah," ujar Kurnia dalam konferensi pers, Rabu (22/7/2026). Penambahan ini diharapkan menampung lebih banyak siswa dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Berdasarkan data Kementerian Sosial per 17 Juli 2026, sebanyak 166 Sekolah Rakyat Rintisan di 141 kabupaten/kota di 34 provinsi telah menampung 14.776 peserta didik pada tahun ajaran 2025/2026.
Jumlah peserta didik diperkirakan meningkat menjadi 28.568 siswa pada tahun ajaran 2026/2027, terdiri dari 6.305 siswa SD, 11.186 siswa SMP, dan 11.077 siswa SMA. "Dengan demikian, total peserta didik Sekolah Rakyat tingkat SD, SMP, dan SMA secara keseluruhan dari yang sudah ada dan target sementara mencapai 43.344 orang pada tahun ini," tambah Kurnia.
Target Jangka Menengah dan Panjang
Program sekolah berasrama yang menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem ini akan terus diperluas setiap tahun sebagai upaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Pada periode 2027–2028, pemerintah menargetkan penambahan 100 hingga 200 titik Sekolah Rakyat per tahun. Selanjutnya, pada 2029, pemerintah menargetkan pembangunan Sekolah Rakyat mencapai 500 titik di 38 provinsi dan 416 kabupaten/kota.
Kurnia berharap kehadiran Sekolah Rakyat tidak hanya membuka akses pendidikan bagi anak-anak kurang mampu, tetapi juga menghadirkan harapan baru dalam meringankan beban ekonomi keluarga. "Pemerintah terus mengukur dampak jangka menengah dan panjang dari program ini melalui pemantauan secara berkelanjutan demi memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi," kata Kurnia.



