Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), AM Hendropriyono, menyampaikan pandangannya mengenai pengelolaan sampah dalam acara sosialisasi di Jakarta Selatan pada Ahad, 2 Agustus 2026. Ia mendorong seluruh elemen masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap sampah, dari sekadar kotoran yang harus dibersihkan menjadi komoditas yang bisa dikelola dan dimanfaatkan.
Paradigma Baru: Sampah sebagai Sumber Daya
"Paradigma kita sebagai warga harus berubah. Sampah bukan lagi sekadar dibersihkan, tetapi harus dikelola. Apa yang dikelola dengan baik dapat berubah dari beban menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan," ujar Hendropriyono dalam keterangan tertulis yang diterima media, Minggu (2/8/2026).
Menurutnya, pengelolaan sampah yang baik akan membawa dampak ganda: lingkungan menjadi bersih dan masyarakat mendapatkan nilai ekonomi. Ia mengajak warga untuk aktif memilah sampah dari rumah masing-masing, sebagaimana contoh teknis yang telah dilakukan oleh jajaran pemerintah kota.
Apresiasi untuk KLH, Kritik untuk Birokrat
Hendropriyono menyampaikan apresiasinya kepada Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang dinilainya cepat bergerak. "Kita harus mengapresiasi Kementerian Lingkungan Hidup yang jajarannya kerap kali turun ke lapangan," katanya. Ia menilai gerak cepat ini kontras dengan lambannya sebagian birokrasi daerah dalam menjalankan kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Ia mengingatkan bahwa pengelolaan sampah telah menjadi prioritas nasional. "Padahal Presiden sudah mengeluarkan Perpres 12/2025 dan Gubernur DKI telah mengeluarkan Instruksi nomor 5/2026. Pengelolaan sampah merupakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional," tegasnya.
Regulasi yang menjadi landasan tersebut, antara lain:
- Perpres 12/2025 tentang pengelolaan sampah nasional
- Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5/2026
Dengan adanya regulasi tersebut, Hendropriyono berharap seluruh jajaran birokrasi, terutama di lingkungan DKI Jakarta, tidak lagi setengah hati dalam menangani persoalan sampah.
Pujian untuk Kasudin Jakarta Utara dan Jakarta Timur
Sebagai warga Jakarta Selatan, Hendropriyono mengaku bangga dengan kiprah Kasudin Jakarta Utara yang dinilainya tanggap membantu warga dalam hal teknis pelaksanaan pemilahan sampah. "Saya sebagai warga Jakarta Selatan sangat bangga dengan kiprah justru Kasudin Jakarta Utara yang tanggap membantu masyarakat kami dalam hal-hal teknis tentang bagaimana pelaksanaan mulai pemilahan dan seterusnya," ungkapnya.
Ia juga menyoroti kinerja Kasudin Jakarta Timur, Monang Sinaga, yang selalu hadir di tengah warga. "Masyarakat Jakarta Timur sangat menghargai Kasudin-nya Monang Sinaga yang juga selalu hadir untuk menyingsingkan lengan baju bergotong royong dengan rakyat bersama Camat Cipayung, Lurah Ceger, RW dan RT kami," katanya.
Menurut Hendropriyono, kerja nyata seperti inilah yang dibutuhkan dalam menangani darurat sampah di ibu kota. Kolaborasi antara pejabat dan warga menjadi kunci keberhasilan.
Birokrat yang Malas Diminta Mundur
Di balik pujian itu, Hendropriyono melontarkan kritik keras kepada para birokrat yang hanya berpangku tangan. Ia bahkan meminta mereka untuk mengundurkan diri daripada menimbulkan kecurigaan masyarakat.
"Bagi para birokrat yang hanya berpangku tangan bermalas-malas dalam melaksanakan kebijakan Presiden RI dan instruksi Gubernur DKI, sebaiknya mengundurkan diri saja daripada kami curigai karena kesal Bantargebang ditutup sehingga tidak ada lagi pungutan liar dari sana," ujarnya.
Pernyataan ini mengindikasikan adanya persoalan lama terkait pungutan liar di TPA Bantargebang, yang menurutnya dapat hilang seiring penutupan tempat pembuangan akhir tersebut.
Terima Kasih untuk Menteri LH Jumhur Hidayat
Hendropriyono juga menyampaikan terima kasih kepada Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, yang telah mengirim Wakil Menteri LH Diaz Hendropriyono beserta jajaran KLH untuk turun langsung ke lapangan.
"Terima kasih kepada Menteri Lingkungan Hidup yang telah mengirim Wamen-nya, Deputi, Direktur dan Kasubditnya menyatu dengan rakyat dalam perang semesta melawan sampah ini," ungkapnya.
Ia berharap keterlibatan langsung pejabat kementerian dapat memotivasi pemerintah daerah untuk lebih serius menangani sampah. Pengelolaan sampah yang terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir, diperlukan agar Jakarta dan sekitarnya terbebas dari masalah sampah yang berkepanjangan.
Dengan perubahan paradigma, dukungan regulasi, dan kerja sama semua pihak, Hendropriyono yakin sampah tidak lagi menjadi beban kota, melainkan aset berharga dalam pembangunan berkelanjutan. Semangat gotong royong yang ditekankannya pun diharapkan terwujud dalam aksi nyata sehari-hari.



