Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus) bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) menggelar diskusi dengan perwakilan 20 universitas negeri. Pertemuan ini membahas lima isu strategis, mulai dari pendidikan kesehatan hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Diskusi Intensif Lima Jam
Ketua MRPTNI, Eduart Wolok, mengungkapkan bahwa diskusi berlangsung hampir lima jam dengan Kepala Bappisus, Aris Marsudiyanto. "Hari ini kami melakukan diskusi intens hampir 5 jam dengan Kepala Bappisus, ada 5 isu strategis yang kita sebutkan dalam diskusi Chapter 1 ini. Diskusi kebangsaan ini tindak lanjut dari Sarasehan Kebangsaan yang kemarin dibuka Pak Presiden dihadiri kurang lebih 2.600 akademisi," ujar Eduart di Kebayoran Baru, Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Eduart menjelaskan bahwa kelima isu strategis ini dibahas khusus untuk mendukung program pemerintah, termasuk program unggulan MBG. "Yang pertama adalah terkait dengan kesehatan, termasuk pola pendidikan kesehatan di dalamnya, khususnya juga program pendidikan dokter, termasuk pendidikan dokter spesialis dan program pendidikan dokter subspesialis. Kemudian juga terkait dengan ketahanan pangan dan program MBG dari sisi kontributifnya," jelasnya.
Tata Kelola PTN dan Pembiayaan Pendidikan
Isu selanjutnya adalah tata kelola PTN yang dapat berkontribusi dalam optimalisasi Sumber Daya Alam (SDA) untuk menghasilkan dana bagi biaya pendidikan tinggi. "Kemudian juga tata kelola PTN sebagai penerima manfaat gitu ya dari optimalisasi sumber daya alam Indonesia dalam rangka untuk poin yang keempat yaitu bagaimana kebijakan pembiayaan pendidikan tinggi yang berkeadilan. Dan yang terakhir juga terkait dengan riset untuk rute peradaban Nusantara," ungkap Eduart.
Diskusi berlangsung cair, terbuka, dan konstruktif. Menurut Eduart, ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kapabilitas PTN. "Diskusi kita berbagai macam isu, tema, dan pemikiran, gagasan yang semuanya bagaimana kita kembangkan, kita angkat selain untuk meningkatkan kapasitas kapabilitas PTN, tapi merespons isu-isu persoalan bangsa hari ini dan bagaimana PTN bisa mengambil peran sesuai fungsinya untuk memberikan kontribusi demi kesuksesan program-program ini," kata dia.
Kesepakatan untuk Kontribusi pada Program Pemerintah
Kepala Bappisus, Aris Marsudiyanto, menyatakan bahwa 20 perwakilan PTN siap memberikan kontribusi pada program pemerintah yang sedang berjalan. "Ya bagaimana juga ya perguruan tinggi negeri itu adalah tempat wadah orang-orang pintar ya toh, untuk menciptakan generasi-generasi emas, generasi-generasi smart. Di sini para rektor akhirnya bersepakat, walaupun sebenarnya sudah cukup lama ya mungkin 2 bulan yang lalu ya minta waktu ke saya baru hari ini kita bisa ketemu," kata Aris.
Aris menambahkan bahwa dirinya meminta para rektor untuk menanamkan lima kecerdasan pada mahasiswanya: intelligence quotient, spiritual quotient, emotional quotient, creativity quotient, dan adversity quotient. "Spiritual quotient, setiap lulusan harus punya hati yang baik, hati yang bersih. Tidak boleh saling curiga, saling menikung, saling mengintimidasi. Saat ini buruk sekali. Kita melihat tawuran segala macam, ini tidak boleh, spiritualnya harus bagus," ucapnya.
Pentingnya Kecerdasan Emosional dan Kreativitas
Emotional quotient, menurut Aris, membuat mahasiswa mampu mengelola emosi dan bertutur kata baik serta bermoral. Creativity quotient mendorong mahasiswa mengembangkan kreativitas sesuai bidang prodinya. "Jangan jurusannya pelayaran bicaranya politik, jurusannya akuntansi bicaranya politik. Semua prodi bicaranya politik, ini tidak profesional lagi," tegasnya.
Adversity quotient diperlukan sebagai ketahanan menghadapi tekanan. "Karena dunia ini semakin lama kompetitor kita orang-orang pintar di negara-negara maju. Kalau kita hanya ribut melulu, daya tahan kita rendah, selalu berkompetisi dengan orang-orang kita sendiri tapi untuk berkompetisi dengan negara lain, kita ketinggalan jauh," imbuh Aris.



