Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, memperingatkan bahwa Teheran akan memperketat penutupan Selat Hormuz jika Amerika Serikat melanjutkan ancaman dan blokade lautnya terhadap Iran. Peringatan itu disampaikan di tengah meningkatnya konfrontasi setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghantam Iran dengan sangat keras.
Dilansir Al-Jazeera, pernyataan Zolghadr disampaikan melalui kantor berita IRNA. Ia menyatakan bahwa kelanjutan blokade maritim dan provokasi perang oleh rezim AS akan membuat Iran semakin memperketat penutupan Selat Hormuz, sekaligus menutup selat-selat dan titik-titik strategis lainnya.
Ekonomi Global Disebut Akan Menanggung Akibatnya
Zolghadr secara tegas memperingatkan bahwa ekonomi global, pasar energi, dan pemilih Amerika akan menanggung akibat dari penutupan Selat Hormuz. Peringatan ini menjadi sinyal bahwa Iran tidak akan ragu menggunakan jalur pelayaran tersibuk di dunia itu sebagai alat balasan terhadap tekanan AS.
“Kelanjutan blokade maritim dan provokasi perang rezim AS akan semakin memperketat penutupan Selat Hormuz dan juga menutup selat dan titik-titik strategis lainnya,” kata Zolghadr, menurut kantor berita IRNA.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi pintu keluar bagi sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Gangguan terhadap lalu lintas di selat ini berpotensi langsung memengaruhi harga minyak dunia dan stabilitas pasokan energi global.
Trump Tegaskan Iran Tak Akan Punya Senjata Nuklir
Sebelumnya, Trump mengeluarkan ancaman terbaru dalam rapat kabinet yang berlangsung Sabtu (1/8/2026). Ia menegaskan bahwa AS tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Trump juga menyebut negaranya siap memenangkan perang yang dimulai oleh serangan gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu.
“Sangat sederhana. Iran tidak akan memiliki senjata nuklir,” ujar Trump seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency.
“Kita akan menghantam Iran dengan sangat keras dan, Anda tahu, pada titik tertentu mereka akan berkata, ‘Kami benar-benar tidak tahan lagi’,” tegasnya.
Trump menambahkan bahwa AS hanya ingin menang dan merasa telah melakukannya dengan sangat baik. “Kita berusaha untuk bersikap sebaik mungkin dalam situasi seperti itu. Namun, mereka sedang dihancurkan,” kata presiden AS tersebut.
Pernyataan Trump ini mempertegas sikap keras Washington yang selama ini menolak memberikan kelonggaran kepada Iran dalam isu nuklir. AS bertahun-tahun menuntut penghentian aktivitas pengayaan uranium Iran, sementara Teheran menegaskan program nuklirnya untuk tujuan damai.
Laporan Media AS: Serangan Besar ke Infrastruktur Energi
Ancaman Trump itu dilontarkan di tengah laporan media-media AS yang menyebutkan bahwa presiden sedang mempertimbangkan serangan besar-besaran terhadap Iran. Serangan tersebut diperkirakan dapat terjadi paling cepat akhir pekan ini, dengan target yang mencakup infrastruktur energi Teheran.
Rencana serangan ke fasilitas energi Iran akan memiliki konsekuensi yang sangat luas. Iran adalah salah satu produsen minyak utama OPEC, dan serangan terhadap kilang atau terminal ekspornya dapat mengganggu pasokan minyak mentah di pasar internasional dalam waktu yang cukup lama.
Ketegangan di Selat Hormuz sendiri bukanlah hal baru. Iran berulang kali mengancam akan menutup selat tersebut dalam berbagai krisis sebelumnya, meskipun ancaman itu tidak pernah benar-benar dijalankan dalam skala penuh. Namun, kali ini Teheran menyebut akan memperketat penutupan, yang berarti pembatasan lalu lintas kapal dapat dilakukan secara bertahap.
Pasar Energi dan Ketidakpastian Global
Peringatan dari kedua pejabat tinggi tersebut membuat pasar energi global berada dalam situasi yang mencekam. Para analis akan mencermati setiap langkah AS dan Iran, terutama apabila ada indikasi nyata dari serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Zolghadr juga menekankan bahwa pemilih Amerika akan ikut menanggung dampaknya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Iran ingin menekan AS melalui konsekuensi ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat Amerika, seperti lonjakan harga bahan bakar dan inflasi.
Dalam konteks politik Amerika, peringatan Zolghadr menyinggung pemilih AS secara langsung. Lonjakan harga energi dan inflasi merupakan isu yang kerap menjadi perhatian utama pemilih. Iran tampaknya ingin memanfaatkan kerentanan itu untuk mendorong tekanan domestik terhadap pemerintahan Trump.
Sejauh ini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintahan Trump mengenai waktu dan sasaran serangan. Namun, kombinasi antara ancaman Trump dan respons keras Zolghadr menunjukkan bahwa eskalasi militer di kawasan Teluk masih mungkin terjadi dalam waktu dekat.
Konfrontasi yang dimulai sejak akhir Februari 2026 itu telah membawa kawasan tersebut ke ambang perang terbuka. Dengan adanya ancaman penutupan Selat Hormuz, stabilitas pasokan energi dunia kini berada di ujung tanduk.



