Serangan rudal besar-besaran yang dilancarkan Rusia terhadap Kyiv pada Sabtu (1/8/2026) waktu setempat menewaskan sedikitnya sembilan orang dan melukai puluhan lainnya. Rentetan ledakan mengguncang ibu kota Ukraina itu selama beberapa gelombang serangan udara, menurut saksi mata Reuters.
Korban Jiwa dan Luka-Luka
Wali Kota Kyiv Vitaly Klitschko, melalui pernyataan di Telegram, mengonfirmasi jumlah korban tewas. "Sembilan orang tewas di ibu kota akibat serangan musuh," ujarnya merujuk pada Rusia. Ia menambahkan bahwa 28 orang lainnya mengalami luka-luka, termasuk empat anak-anak. Sebanyak 17 korban luka di antaranya menjalani perawatan di rumah sakit, sedangkan sisanya mendapatkan penanganan medis di lokasi serangan.
Klitschko menggambarkan situasi di Kyiv sebagai "malam yang mengerikan" dan meminta warga untuk tetap berada di tempat perlindungan. Namun, ia tidak merinci lebih lanjut mengenai kerusakan infrastruktur yang terjadi.
Ledakan Lebih dari Belasan Kali
Saksi mata Reuters melaporkan lebih dari belasan ledakan terdengar di Kyiv selama serangan berlangsung. Serangan dilakukan dalam beberapa gelombang, menyebabkan kepanikan di kalangan warga yang berlindung di stasiun metro dan tempat penampungan bawah tanah lainnya.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengecam keras serangan tersebut. "Malam yang mengerikan di Kyiv. Karena gagal mencapai tujuannya di medan pertempuran, Rusia meningkatkan serangan udara dan aksi teror terhadap warga sipil," kata Sybiha. "Ukraina sangat membutuhkan tambahan sistem pertahanan udara dan rudal, serta rudal pencegat."
Skala Serangan Menurut Zelensky
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan bahwa Rusia meluncurkan total 35 rudal, mencakup 27 rudal balistik, serta 185 drone tempur dalam serangan Sabtu tersebut. Kyiv menjadi target utama serangan Moskow. Namun, hanya satu rudal balistik yang berhasil dicegat oleh pertahanan udara Ukraina.
Zelensky menjelaskan bahwa rendahnya tingkat intersepsi disebabkan oleh kelangkaan rudal pencegat untuk sistem Patriot buatan Amerika Serikat. Ukraina selama ini mengandalkan sistem tersebut untuk melindungi kota-kota besar dari serangan rudal Rusia.
Klaim Rusia Soal Target Serangan
Kementerian Pertahanan Rusia dalam pernyataannya mengklaim telah melancarkan "serangan besar-besaran" terhadap wilayah Kyiv. Militer Rusia menyebut targetnya adalah "perusahaan-perusahaan kompleks industri militer dan pusat-pusat logistik".
Klaim itu dibantah oleh Ukraina yang menyebut serangan justru menyasar kawasan permukiman dan infrastruktur sipil. Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi independen mengenai target sebenarnya dari serangan tersebut.
Serangan Kedua dalam Sepekan
Ini merupakan serangan besar kedua terhadap Kyiv dalam sepekan terakhir. Sebelumnya, pada Kamis (30/7), serangan udara besar-besaran menewaskan sembilan orang, termasuk enam orang dari satu keluarga di sebuah desa dekat Kryvyi Rih.
Serangan berulang ini menandai eskalasi signifikan dari Rusia, yang dinilai gagal mencapai kemajuan di medan pertempuran dan justru meningkatkan tekanan terhadap warga sipil serta infrastruktur perkotaan.
Kerusakan di Tujuh Distrik
Kerusakan akibat serangan terbaru Moskow tercatat di tujuh distrik di Kyiv, kota dengan populasi sekitar tiga juta jiwa. Kebakaran terjadi di berbagai titik kota, dan pemadaman listrik melanda sejumlah area.
Kantor Kejaksaan Agung Ukraina melaporkan bahwa sedikitnya tujuh orang tewas di distrik Darnytskyi yang terletak di tepi kiri Sungai Dnipro, sedangkan dua orang lainnya tewas di distrik Solomyanskyi di tepi kanan sungai tersebut. Para korban luka dilaporkan menderita luka akibat serpihan logam dan luka sobek.
Dampak dan Seruan Bantuan
Serangan ini kembali memicu kecaman internasional dan memperkuat desakan Ukraina kepada sekutu Barat untuk memasok lebih banyak sistem pertahanan udara, termasuk Patriot dan rudal pencegat. Tanpa tambahan sistem tersebut, Ukraina akan kesulitan melindungi kota-kota besarnya dari serangan rudal balistik Rusia yang semakin intensif.
Para analis militer menilai bahwa Rusia kemungkinan akan terus melancarkan serangan semacam ini untuk melemahkan moral Ukraina. Namun, dengan dukungan pertahanan udara yang memadai, Ukraina diharapkan dapat mengurangi dampak serangan serta melindungi warga sipil dari teror rudal Moskow.



