Iran Gantung Dua Pria Terbukti Jadi Mata-mata Israel
Iran Gantung Dua Pria Terbukti Jadi Mata-mata Israel

Otoritas Iran mengeksekusi mati dua pria, Omid Behzad dan Pouria Safvat, pada Senin pagi, 3 Agustus 2026. Keduanya digantung setelah dinyatakan bersalah menjadi mata-mata untuk Israel, dalam gelombang hukuman mati yang meningkat sejak pecahnya perang dengan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari.

Eksekusi Terbaru di Tengah Gelombang Spionase

Eksekusi terhadap Omid Behzad dan Pouria Safvat berlangsung di tengah meningkatnya jumlah hukuman gantung di Iran atas tuduhan spionase. Mizan, media yang mewakili kehakiman Iran, mengonfirmasi bahwa kedua pria tersebut digantung pagi ini karena mengirimkan koordinat situs militer dan keamanan sensitif kepada agen Mossad, dinas intelijen luar negeri Israel.

“Omid Behzad dan Pouria Safvat digantung pagi ini karena mengirimkan koordinat situs militer dan keamanan sensitif kepada agen Mossad,” lapor Mizan, sebagaimana diberitakan kantor berita AFP pada Senin (3/8/2026). Namun, pihak berwenang tidak menyebutkan kapan kedua pria itu ditangkap atau kapan mereka diadili.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Mizan menyatakan bahwa keduanya dihukum atas tuduhan “spionase dan kolaborasi dengan rezim Zionis”. “Mereka membantu dinas intelijen mencapai tujuan mereka dengan memberi mereka informasi tentang pusat-pusat militer dan keamanan selama perang,” tambah Mizan dalam pernyataannya.

Perang dan Lonjakan Hukuman Mati

Eksekusi ini merupakan yang terbaru dari serangkaian hukuman gantung yang dijatuhkan Iran sejak perang dengan Israel dan Amerika Serikat pecah pada 28 Februari. Perang tersebut meletus setelah serangan besar-besaran AS dan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, memicu gelombang spionase dan tuduhan kolaborasi dengan musuh.

Sejak konflik dimulai, Teheran secara signifikan meningkatkan frekuensi eksekusi mati. Banyak terpidana yang dijatuhi hukuman gantung didakwa sebagai mata-mata intelijen Israel, sebuah pola yang menurut para pengamat menjadi instrumen pemerintah untuk menekan oposisi dan membangun citra ketegasan di masa perang.

Mizan tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai bukti atau proses hukum yang menjerat kedua terpidana. Namun, pengumuman eksekusi yang cepat dan tanpa pemberitahuan luas menunjukkan adanya percepatan prosedur hukum dalam kasus-kasus yang berkaitan dengan keamanan nasional.

Rekor Eksekusi dan Kecaman Internasional

Kelompok-kelompok hak asasi manusia, termasuk Amnesty International, telah lama menyoroti tingginya angka eksekusi mati di Iran. Menurut organisasi tersebut, Iran menjadi negara dengan jumlah eksekusi mati terbanyak kedua di dunia setelah China.

Data dari Iran Human Rights, sebuah LSM yang berbasis di Norwegia, dan Together Against the Death Penalty (ECPM) yang berkantor pusat di Paris, Prancis, menunjukkan bahwa otoritas Iran mengeksekusi setidaknya 1.639 orang pada tahun lalu. Angka ini merupakan rekor tertinggi sejak 1989, menandakan eskalasi brutal dalam kebijakan hukuman mati negara tersebut.

Sebelumnya, pada Selasa pekan lalu, Amnesty International mengecam apa yang mereka sebut sebagai “eskalasi” eksekusi mati di Iran. Kecaman itu muncul setelah Iran mengumumkan hukuman gantung terhadap dua pria yang dinyatakan bersalah karena ikut serta dalam protes anti-pemerintah.

Eksekusi terhadap Omid Behzad dan Pouria Safvat dinilai akan semakin memperdalam kecaman internasional terhadap Iran. Organisasi hak asasi manusia mendesak komunitas global untuk menekan Teheran agar menghentikan praktik hukuman mati yang dianggap melanggar hak hidup dan tidak sesuai dengan standar peradilan yang adil.

Kondisi ini juga memperumit posisi Iran di tengah konflik yang sedang berlangsung dengan AS dan Israel. Dengan meningkatnya jumlah eksekusi, Teheran menghadapi isolasi diplomatik yang semakin besar, sementara di dalam negeri kebijakan ini berpotensi memicu perlawanan dan ketidakpuasan publik.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga