Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap Iran pada Rabu malam, menargetkan kapabilitas militer Iran yang digunakan untuk mengancam kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Militer AS menyatakan bahwa serangan tersebut berlangsung selama 90 menit dan menyasar sistem pertahanan pantai Iran serta lokasi penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah di Pulau Tunb Besar. Komando Pusat AS (Centcom) menambahkan bahwa operasi ini telah semakin melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Trump Beri Peringatan Keras ke Iran
Presiden Donald Trump memperingatkan Teheran agar bersikap baik. Ketika ditanya apakah ia akan memberikan tenggat waktu sebelum mengambil langkah lebih lanjut, Trump menjawab, "Saya tidak suka memberikan tenggat waktu, tetapi mereka pada dasarnya tahu, mereka tahu apa situasinya... mereka sebaiknya bersikap baik." Dalam forum pertahanan, Trump menambahkan bahwa Iran "tidak senang saat ini" dan "sangat ingin mencapai penyelesaian." Namun, ia juga menyatakan, "Kita akan lihat apakah kami ingin mencapai penyelesaian dengan mereka atau apakah kami akan menuntaskan semuanya."
Iran Balas dengan Serangan ke Kapal Tanker UEA
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi telah menghantam dua kapal tanker milik Uni Emirat Arab di Selat Hormuz. Kapal tanker minyak mentah Mombasa B dan kapal tanker LNG Al Bahiya menjadi sasaran rudal jelajah Iran. Menurut Kementerian Pertahanan UEA, serangan itu menewaskan seorang awak kapal berkewarganegaraan India dan melukai delapan orang lainnya, enam di antaranya warga India dan dua warga Ukraina. UEA mengecam serangan tersebut sebagai tindakan yang "terang-terangan" dan "pelanggaran serius" terhadap hukum internasional.
Blokade AS dan Ancaman Tarif 20%
Trump sebelumnya mengumumkan pemberlakuan kembali blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta pengenaan biaya sebesar 20% untuk seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz. Blokade tersebut mulai berlaku pada Selasa pukul 16.00 waktu Timur AS. Trump mengatakan langkah ini akan mencegah kapal-kapal Iran atau pelanggan Iran masuk atau keluar melalui selat tersebut, sementara negara lain tetap memiliki akses. Dana dari pungutan tersebut akan digunakan untuk menutupi biaya keamanan di kawasan. Namun, Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyatakan tidak ada dasar hukum untuk pungutan semacam itu.
Eskalasi Konflik dan Dampak Global
Harga minyak melonjak tajam setelah lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz hampir terhenti. Minyak mentah Brent menguat 1,9% menjadi US$84,87 per barel, sementara minyak yang diperdagangkan di AS naik 2% menjadi US$79,75 per barel. IRGC memperingatkan Washington agar bersiap menghadapi penutupan jalur ekspor minyak dan gas lainnya yang melayani kepentingan AS dan sekutunya. Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa keamanan nasional Iran bergantung pada kemampuan mempertahankan "pengaturan Iran" di Selat Hormuz, dan perundingan diplomatik serta aksi militer merupakan bagian dari strategi perlawanan.
Serangan Berturut-turut dan Klaim Iran
Iran mengklaim telah menyerang target-target militer AS di Bahrain, Kuwait, Yordania, dan Oman. Militer AS menyatakan telah menyelesaikan serangan terhadap sejumlah target untuk melemahkan kemampuan Iran menyerang pelayaran komersial. IRGC juga mengonfirmasi serangan terhadap fasilitas AS di Yordania dan Bahrain. Perselisihan mengenai kendali Selat Hormuz kini mengancam upaya mengakhiri perang yang telah berlangsung berbulan-bulan.
Kecaman Internasional dan Implikasi Hukum
Ancaman Trump sebelumnya untuk membombardir infrastruktur sipil Iran pada April lalu memicu kecaman dari Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Trk, yang menyatakan bahwa menyerang warga sipil dan infrastruktur sipil secara sengaja merupakan kejahatan perang menurut hukum internasional. Sementara itu, UEA menegaskan haknya untuk merespons dengan segala langkah yang diperlukan atas serangan Iran.



