Otoritas pertahanan sipil Gaza yang berada di bawah kendali Hamas melaporkan sedikitnya 13 orang tewas dalam serangkaian serangan udara Israel pada Minggu. Delapan orang tewas dalam serangan yang berlangsung sekitar tengah malam, sementara lima korban lainnya meninggal dalam serangan terpisah pada siang hari. Serangan-serangan itu menghantam sejumlah bangunan permukiman di berbagai wilayah Gaza, dari utara hingga selatan.
Di wilayah tengah Gaza, sebuah apartemen menjadi sasaran serangan helikopter militer Israel. Seorang pria dan istrinya tewas dalam insiden tersebut, sementara beberapa warga lainnya mengalami luka-luka. Serangan terpisah di sebelah barat Kota Gaza menewaskan seorang pria lanjut usia dan seorang anak. Korban-korban tersebut merupakan sebagian dari daftar panjang korban jiwa pada hari itu.
Di Gaza selatan, sebuah bangunan permukiman di barat laut Khan Younis diserang dan menewaskan tiga orang, termasuk seorang anak. Sementara itu, di Gaza utara, satu warga sipil tewas dan empat lainnya terluka akibat serangan drone Israel yang menyasar sekelompok warga di dekat kamp pengungsian Jabalia. Serangan drone juga menewaskan dua orang kakak beradik ketika kendaraan yang mereka tumpangi menjadi sasaran di Deir al-Balah, Gaza bagian tengah.
Menjelang fajar, serangan lain menghantam sebuah apartemen di sebelah barat Kota Gaza. Satu keluarga yang terdiri dari suami, istri, dan anak mereka tewas dalam kejadian itu. Otoritas setempat menyebutkan bahwa sang istri sedang mengandung. Dengan demikian, korban tewas pada Minggu tersebar di setidaknya lima lokasi berbeda, menunjukkan intensitas operasi militer yang tinggi.
Klaim Hamas dan Rencana Gencatan Senjata
Rentetan serangan ini terjadi meskipun Hamas pada Jumat lalu menyatakan telah menyetujui rencana yang didorong Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mengakhiri perang. Rencana tersebut mencakup penyerahan senjata oleh Hamas serta penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza secara bertahap. Persetujuan itu sempat disambut sebagai harapan baru bagi terciptanya perdamaian di tengah konflik yang berkepanjangan.
Namun, Israel belum memberikan tanggapan resmi atas klaim tersebut. Seorang sumber politik Israel mengatakan kepada AFP bahwa tidak akan ada penarikan pasukan tanpa adanya "pelucutan senjata yang sungguh-sungguh" dari Hamas. Syarat ini menjadi salah satu poin krusial yang menentukan apakah kesepakatan dapat direalisasikan di lapangan.
Perbedaan interpretasi antara Hamas dan Israel mengenai mekanisme pelucutan senjata serta jadwal penarikan pasukan masih menjadi penghalang utama. Tanpa adanya titik temu, gencatan senjata yang diharapkan dapat menghentikan kekerasan justru masih jauh dari kata pasti. Serangan terbaru pada Minggu semakin memperjelas kerentanan kesepakatan tersebut.
Serangan Sebelumnya dan Target Kelompok Bersenjata
Sehari sebelumnya, otoritas Gaza melaporkan sedikitnya delapan orang tewas dalam serangan yang merusak persediaan medis sebuah rumah sakit serta menghantam atap bangunan. Militer Israel menyatakan bahwa dua serangan tersebut menargetkan anggota kelompok militan Army of Islam dan Islamic Jihad. Kedua kelompok tersebut merupakan faksi bersenjata yang aktif di Jalur Gaza dan sering menjadi sasaran operasi militer Israel.
Jika digabungkan dengan korban pada Minggu, total korban tewas dalam dua hari berturut-turut mencapai sedikitnya 21 orang. Belum termasuk puluhan lainnya yang mengalami luka-luka akibat ledakan dan reruntuhan bangunan. Kerusakan pada fasilitas kesehatan semakin mempersulit evakuasi dan penanganan medis bagi para korban.
Serangan yang menyasar permukiman warga menimbulkan dampak ganda: selain korban jiwa, juga kerusakan infrastruktur penting seperti rumah sakit, jaringan listrik, dan tempat tinggal. Warga yang selamat harus mengungsi ke tempat yang lebih aman dengan membawa keterbatasan perlengkapan, sementara bantuan kemanusiaan mengalami hambatan akibat kondisi keamanan yang memburuk.
Dampak dan Ketidakpastian ke Depan
Eskalasi serangan di tengah upaya diplomasi menunjukkan betapa rapuhnya situasi keamanan di Gaza. Klaim Hamas mengenai persetujuan rencana damai tidak serta-merta menghentikan operasi militer Israel. Sebaliknya, warga sipil justru kembali menjadi korban sebelum ada kesepakatan final yang bisa diimplementasikan.
Sumber politik Israel yang dihubungi AFP menyiratkan bahwa Israel akan tetap melancarkan operasi selama tujuan pelucutan senjata belum tercapai. Sikap ini berpotensi memperpanjang konflik dan menambah jumlah korban di kalangan sipil. Sementara itu, masyarakat internasional masih menanti langkah nyata dari kedua pihak untuk meredakan ketegangan.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Israel mengenai operasi terbaru atau tanggapan terhadap klaim Hamas. Yang jelas, warga Gaza kembali harus menjalani malam dengan penuh kecemasan, menanti apakah serangan berikutnya akan datang tanpa peringatan.



