Gedung Putih menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump tetap terbuka untuk menjalin diplomasi dengan Iran, meskipun kedua negara kembali saling melancarkan serangan dalam beberapa waktu terakhir. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengungkapkan hal ini saat konferensi pers pada Kamis (16/7/2026) waktu setempat.
Trump Terbuka untuk Diplomasi
“Presiden akan meminta pertanggungjawaban mereka ketika mereka mengingkari kata-kata yang mereka sampaikan kepada Amerika Serikat,” kata Leavitt. “Tetapi pada saat yang sama, beliau selalu terbuka untuk diplomasi,” tegasnya. Leavitt juga mengklaim bahwa Iran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan dengan AS. “Mereka telah menyatakan keinginan untuk mencapai kesepakatan kepada Presiden. Kami sedang berkomunikasi dengan mereka, namun sekali lagi, Presiden tidak akan membiarkan mereka menembaki kapal-kapal di Selat tersebut tanpa menanggung konsekuensinya,” ujarnya, merujuk pada serangan di Selat Hormuz.
Pembebasan Warga AS Jadi Celah Diplomasi
Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Trump berterima kasih kepada Iran karena telah membebaskan seorang warga negara AS yang ditahan sejak Desember 2024. Pembebasan tersebut dipandang sebagai potensi pembuka jalan bagi diplomasi. Kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan, yang membuat kesepakatan gencatan senjata rapuh yang ditandatangani kedua pemimpin pada Juni lalu berada di ujung tanduk.
Serangan Udara AS dan Fokus pada Selat Hormuz
Beberapa hari terakhir, AS melancarkan sejumlah gelombang serangan udara terhadap target-target Iran, baik di darat maupun di laut. Washington menjelaskan bahwa serangan itu dimaksudkan untuk membatasi kemampuan Teheran dalam mengancam pelayaran di Selat Hormuz. Selat Hormuz menjadi fokus perselisihan terbaru antara AS dan Iran, yang saling memperebutkan kendali atas jalur perairan vital bagi pasokan minyak dan gas global tersebut.
Ancaman Trump Perluas Serangan
Baru-baru ini, Trump melontarkan peringatan kepada Iran bahwa AS dapat memperluas serangannya hingga menargetkan pembangkit listrik dan jembatan-jembatan di negara tersebut, jika Teheran tidak kembali ke meja perundingan. Eskalasi ini menunjukkan bahwa meskipun ada isyarat diplomasi, ketegangan militer tetap tinggi dan dapat meledak kapan saja.



